Dosen Ung Jalin Kerja Sama Penelitian Terkait Nilai Etika Tenaga Kesehatan Di Rumah Sakit Pemerintah
Gorontalo - Dosen dari Universitas Negeri Gorontalo(UNG) menjalin kerja sama penelitian dengan sejumlah rumah sakit pemerintah dalam mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi nilai etika tenaga kesehatan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian yang berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan publik.
Penelitian dilaksanakan di tiga rumah sakit pemerintah di Kota Palu, yaitu RS Undata, RS Anutapura, dan RS Madani. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara akademisi dan praktisi layanan kesehatan.
Komitmen Bersama Tingkatkan Etika Pelayanan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat medis atau ketepatan diagnosis, tetapi juga oleh sikap, etika, dan cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan pasien. Dalam praktiknya, tenaga kesehatan berada di garis depan pelayanan publik dan berhadapan langsung dengan pasien dalam berbagai situasi, termasuk kondisi darurat dan penuh tekanan.
Melalui kerja sama ini, ditemukan bahwa kemampuan komunikasi, budaya organisasi rumah sakit, serta pengetahuan dan keterampilan medis merupakan faktor utama yang membentuk nilai etika tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan.
Komunikasi Jadi Faktor Paling Dominan
Dari tujuh faktor yang dianalisis, kemampuan komunikasi tenaga kesehatan menjadi faktor paling dominan, dengan kontribusi hampir 40 persen terhadap pembentukan nilai etika. Cara tenaga medis menjelaskan prosedur, merespons pertanyaan, serta menunjukkan empati terbukti sangat memengaruhi persepsi pasien terhadap mutu pelayanan.
Kolaborasi penelitian ini juga menemukan adanya hubungan erat antara kemampuan komunikasi dengan budaya kerja rumah sakit. Lingkungan kerja yang suportif dan menjunjung profesionalisme mendorong tenaga kesehatan untuk berinteraksi lebih baik, baik dengan pasien maupun sesama rekan kerja.
Budaya Organisasi dan Kompetensi Perkuat Profesionalisme
Selain komunikasi, budaya organisasi rumah sakit berperan besar dalam membentuk sikap etis tenaga kesehatan. Rumah sakit yang secara konsisten menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan etika profesi cenderung memiliki kualitas pelayanan yang lebih baik.
Sementara itu, kompetensi medis tetap menjadi fondasi utama. Tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik cenderung lebih percaya diri, komunikatif, dan mampu mengambil keputusan secara etis dalam situasi kompleks.
Dampak pada Kepercayaan Publik dan Tindak Lanjut
Penelitian ini menegaskan bahwa keluhan masyarakat terhadap layanan rumah sakit sering kali berkaitan dengan aspek non-medis, seperti komunikasi yang kurang jelas atau sikap yang kurang empatik. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menjadi dasar rekomendasi bagi manajemen rumah sakit untuk memperkuat pelatihan komunikasi, etika profesi, dan pengembangan budaya organisasi yang sehat.
Kerja sama antara UNG dan rumah sakit pemerintah ini diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian semata, tetapi berlanjut pada implementasi program pelatihan dan pendampingan. Dengan demikian, sinergi antara perguruan tinggi dan institusi pelayanan kesehatan dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit pemerintah.
sumber: https://www.populationmedicine.eu/pdf-207891-128431?filename=Determining-factors-influ.pdf

