Implementasi Kerja Sama Jadi Langkah Nyata Menekan Risiko Stroke Iskemik Akut Akibat Dislipidemia
Gorontalo-Upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat terus diperkuat melalui implementasi kerja sama antara dunia akademik dan layanan kesehatan. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam menghadapi tingginya angka kejadian stroke iskemik akut yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Melalui kerja sama penelitian yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan RSUD Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo, berbagai temuan ilmiah berhasil diungkap guna memperkuat strategi pencegahan penyakit yang berkaitan dengan gangguan metabolik, khususnya dislipidemia.
Stroke iskemik akut merupakan kondisi yang terjadi akibat terhambatnya aliran darah ke otak karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Kondisi ini menjadi jenis stroke yang paling banyak ditemukan dalam praktik klinis. Salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap terjadinya stroke iskemik adalah dislipidemia, yaitu ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah yang dapat memicu terbentuknya plak pada pembuluh darah.
Melalui implementasi kerja sama riset, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri dari Serly Amalia, Yuniarty Antu, Muhammad Isman Jusuf, Sitti Rahma, dan Jeane Novita Irene Abbas melakukan studi klinis terhadap 165 pasien stroke iskemik akut berusia 25–75 tahun di RSUD Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo. Penelitian yang dipublikasikan pada Maret 2026 ini bertujuan memetakan profil lipid pasien sebagai dasar penyusunan langkah preventif yang lebih efektif dalam menekan risiko stroke.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 41,2 persen pasien memiliki kadar kolesterol total yang berada pada kategori borderline hingga tinggi. Kondisi ini berpotensi mempercepat proses aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah yang dapat berujung pada penyumbatan aliran darah menuju otak.
Selain itu, sebanyak 40,6 persen pasien tercatat memiliki kadar Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat di atas batas optimal. Kadar LDL yang tinggi diketahui berperan dalam pembentukan plak dan peradangan pada pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya stroke iskemik akut.
Temuan penting lainnya adalah rendahnya kadar High-Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik pada sebagian besar pasien. Sebanyak 53,9 persen responden memiliki kadar HDL yang rendah. Padahal, HDL berfungsi membantu mengangkut kelebihan kolesterol dari pembuluh darah menuju hati untuk dikeluarkan dari tubuh. Rendahnya kadar HDL menyebabkan proses pembersihan kolesterol tidak berjalan optimal dan mempercepat terjadinya penyumbatan pembuluh darah.
Sementara itu, kadar trigliserida pada sebagian besar pasien masih berada dalam batas normal, yakni sebesar 44,8 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan kolesterol total, tingginya LDL, serta rendahnya HDL menjadi faktor yang lebih dominan dalam kejadian stroke iskemik akut dibandingkan trigliserida.
Penelitian ini juga mengidentifikasi kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke iskemik akut. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mendominasi jumlah kasus dengan persentase mencapai 60,6 persen. Kondisi ini diduga berkaitan dengan berbagai faktor gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, tingkat stres yang tinggi, serta faktor biologis yang memengaruhi kesehatan pembuluh darah.
Dari sisi usia, kelompok umur 55–64 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebesar 42,4 persen. Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah cenderung menurun sehingga risiko terjadinya penyumbatan akibat dislipidemia menjadi semakin besar.
Implementasi kerja sama antara perguruan tinggi dan rumah sakit melalui penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Temuan yang dihasilkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar bagi penyusunan program pencegahan stroke yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.
Melalui hasil penelitian ini, masyarakat diharapkan semakin menyadari pentingnya melakukan pemeriksaan profil lipid secara berkala, terutama bagi individu berusia di atas 40 tahun atau yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Dislipidemia sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Selain skrining rutin, penerapan pola hidup sehat juga menjadi bagian penting dalam menekan risiko stroke iskemik akut. Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, menghentikan kebiasaan merokok, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur setidaknya 150 menit per minggu terbukti mampu memperbaiki profil lipid dan menjaga kesehatan pembuluh darah.
Melalui implementasi kerja sama yang berkelanjutan antara institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan masyarakat, upaya pencegahan stroke iskemik akut akibat dislipidemia diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga mampu menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Sumber: https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2226

