Kerja Sama Strategis Hasilkan Inovasi Terapi Musik Klasik Dalam Mendukung Perawatan Pasien Hipertensi
Gorontalo-Kolaborasi antara dunia akademik dan layanan kesehatan terus menunjukkan kontribusi nyata dalam menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu implementasi kerja sama strategis tersebut diwujudkan melalui penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama RSUD Otanaha Kota Gorontalo dalam mengembangkan terapi musik klasik sebagai terapi komplementer bagi pasien hipertensi.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian serius di Indonesia. Penyakit yang dikenal sebagai the silent killer ini sering kali tidak menunjukkan gejala khas, namun dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Selain menghadapi peningkatan tekanan darah, pasien hipertensi yang menjalani perawatan di rumah sakit juga kerap mengalami nyeri akut, terutama sakit kepala, serta kecemasan akibat kondisi kesehatan yang mereka alami.
Melalui implementasi kerja sama antara Universitas Negeri Gorontalo dan RSUD Otanaha, tim peneliti yang terdiri dari Mutia, Muhammad Isman Jusuf, dan Gusti Pandi Liputo melakukan studi klinis untuk menguji efektivitas terapi musik klasik dalam membantu mengurangi nyeri dan kecemasan pada pasien hipertensi. Penelitian ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil kajian ilmiah yang diterapkan langsung dalam pelayanan kesehatan.
Secara ilmiah, kecemasan dan nyeri dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis yang menyebabkan tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah berlebih. Kondisi tersebut dapat meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga tekanan darah menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan nonfarmakologis yang mampu menciptakan kondisi relaksasi bagi pasien.
Terapi musik klasik dipilih karena memiliki karakteristik ritme yang stabil, harmonisasi nada yang teratur, serta tempo yang mendekati detak jantung normal manusia. Karakteristik tersebut membantu menciptakan suasana tenang yang mampu memengaruhi respons fisiologis tubuh. Gelombang suara yang diterima oleh sistem pendengaran akan diteruskan ke pusat pengolahan emosi di otak, merangsang sistem limbik dan hipotalamus sehingga meningkatkan produksi hormon endorfin sebagai pereda nyeri alami sekaligus menurunkan kadar hormon stres.
Penelitian dilaksanakan pada pasien hipertensi yang menjalani perawatan di Ruang Internal 2 RSUD Otanaha menggunakan metode One Group Pre-test and Post-test Design. Tingkat nyeri dan kecemasan pasien diukur sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi musik klasik memberikan dampak yang sangat positif terhadap kondisi pasien. Setelah mengikuti sesi terapi, sebagian besar pasien mengalami penurunan skala nyeri dari kategori sedang hingga berat menjadi ringan, bahkan beberapa pasien melaporkan hilangnya keluhan nyeri secara signifikan. Selain itu, tingkat kecemasan pasien juga mengalami penurunan yang bermakna, dari kategori cemas sedang hingga berat menjadi cemas ringan atau tidak cemas.
Temuan ini menunjukkan bahwa terapi musik klasik dapat menjadi alternatif pendamping dalam perawatan pasien hipertensi. Selain efektif, terapi ini juga memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mudah diterapkan, tidak invasif, aman karena tidak menimbulkan efek samping, serta relatif murah dibandingkan intervensi medis lainnya.
Keberhasilan penelitian ini menjadi bukti bahwa kerja sama strategis antara perguruan tinggi dan rumah sakit mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Melalui sinergi tersebut, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai bagian dari praktik pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kenyamanan dan keselamatan pasien.
Ke depan, terapi musik klasik berpotensi diintegrasikan sebagai bagian dari asuhan keperawatan rutin bagi pasien hipertensi di berbagai fasilitas kesehatan. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan terapi ini secara mandiri sebagai metode relaksasi untuk membantu menjaga stabilitas tekanan darah dan meningkatkan kualitas hidup. Implementasi kerja sama yang berkelanjutan antara institusi pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan diharapkan dapat terus melahirkan berbagai inovasi yang mendukung terwujudnya pelayanan kesehatan yang lebih humanis, efektif, dan berbasis bukti ilmiah.
Sumber: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/8330

