Implementasi Kerja Sama: Peneliti Ung Ungkap Kualitas Tidur Perawat Jadi Penentu Mutu Pelayanan Rumah Sakit
Gorontalo- Kerja sama penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama RSUD Toto Kabila menghasilkan temuan penting mengenai faktor yang memengaruhi mutu pelayanan rumah sakit. Hasil penelitian mengungkap bahwa kualitas tidur perawat menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling banyak berinteraksi dengan pasien selama proses pelayanan. Mulai dari memberikan asuhan keperawatan, memantau kondisi pasien, memberikan edukasi kesehatan, hingga memastikan keselamatan pasien, seluruh tugas tersebut menuntut kondisi fisik dan mental yang prima.
Melalui penelitian yang melibatkan 50 perawat di RSUD Toto Kabila, tim peneliti menemukan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur yang baik, yakni sebesar 62 persen. Sementara itu, sebanyak 76 persen perawat menunjukkan kinerja yang baik dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan.
Lebih jauh, analisis statistik dalam penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kinerja perawat. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas tidur seorang perawat, maka semakin baik pula kinerjanya dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Menurut tim peneliti, hasil kerja sama penelitian ini memperkuat pentingnya perhatian terhadap kesehatan tenaga kesehatan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu layanan rumah sakit. Selama ini, peningkatan kualitas pelayanan sering kali lebih difokuskan pada pengembangan fasilitas, teknologi medis, maupun peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Padahal, kebutuhan dasar seperti tidur yang cukup juga memiliki kontribusi besar terhadap kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
Penelitian ini juga mengungkap masih adanya perawat yang mengalami gangguan kualitas tidur. Beberapa di antaranya membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur akibat penggunaan gawai sebelum tidur, memiliki durasi tidur kurang dari lima jam per hari, hingga mengalami rasa kantuk berlebihan saat menjalankan tugas pada siang hari. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan konsentrasi, produktivitas kerja, serta meningkatkan risiko terjadinya kesalahan dalam pelayanan kesehatan.
Dari perspektif pelayanan publik, temuan ini menunjukkan bahwa kualitas tidur bukan hanya menjadi urusan pribadi tenaga kesehatan, tetapi juga merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Perawat yang memperoleh waktu istirahat yang cukup cenderung lebih fokus, lebih sigap dalam mengambil keputusan, mampu berkomunikasi dengan lebih baik, serta lebih optimal dalam menjaga keselamatan pasien.
Sebaliknya, kelelahan akibat kurang tidur dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir, konsentrasi, dan ketelitian dalam bekerja, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, rumah sakit didorong untuk mulai menempatkan pengelolaan waktu istirahat sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu layanan. Pengaturan jadwal kerja yang lebih seimbang, sistem kerja bergilir yang lebih manusiawi, serta lingkungan kerja yang mendukung kesehatan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Hasil kerja sama penelitian ini memberikan pesan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi maupun kompetensi tenaga medis, tetapi juga oleh terpenuhinya kebutuhan dasar tenaga kesehatan, termasuk kualitas tidur yang baik. Dengan menjaga kesehatan dan kesejahteraan perawat, rumah sakit dapat menghadirkan pelayanan yang lebih optimal sekaligus meningkatkan keselamatan pasien.
Sumber: https://ejurnal.ladkes.com/index.php/mjhsr/article/view/143/pdf

