Melalui Kerja Sama Penelitian: Ung Dorong Edukasi Pencegahan Stunting Lewat Pola Mp-Asi
Gorontalo-Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan anak yang mendapat perhatian serius di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya, tetapi juga mencerminkan adanya gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Dampak stunting dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga kualitas kesehatan dan produktivitas anak di masa depan.
Sebagai bentuk implementasi kerja sama penelitian dalam upaya pencegahan stunting, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pola pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tepat pada anak usia dini. Edukasi ini menjadi penting mengingat periode usia 6-24 bulan merupakan masa emas pertumbuhan anak yang membutuhkan asupan gizi optimal.
Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni sekitar 24,4 persen. Oleh karena itu, berbagai langkah preventif terus dilakukan, salah satunya melalui penguatan pengetahuan masyarakat tentang pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan kebutuhan anak. MP-ASI mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan karena ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan energi dan nutrisi bayi. Makanan pendamping ini berfungsi melengkapi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Namun demikian, pemberian MP-ASI tidak hanya berkaitan dengan jenis makanan yang diberikan, tetapi juga frekuensi pemberiannya. Anak usia 6-24 bulan membutuhkan pola makan yang teratur agar kebutuhan gizinya terpenuhi dengan baik. Jika frekuensi makan tidak sesuai, maka risiko kekurangan gizi dan gangguan pertumbuhan akan meningkat.
Melalui penelitian yang dilakukan pada anak usia 6-24 bulan, peneliti UNG menemukan adanya hubungan signifikan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang menerima MP-ASI dengan frekuensi tidak sesuai memiliki risiko stunting sekitar 7,7 kali lebih besar dibandingkan anak yang mendapatkan MP-ASI sesuai rekomendasi.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi usia 6-8 bulan dianjurkan menerima MP-ASI sebanyak dua hingga tiga kali sehari. Pada usia 9-12 bulan, frekuensi makan meningkat menjadi tiga kali sehari, sedangkan anak usia 12-24 bulan dianjurkan makan tiga kali sehari disertai makanan selingan bergizi. Frekuensi makan tersebut penting karena anak pada usia dini umumnya hanya mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah kecil sehingga kebutuhan gizinya harus dipenuhi melalui pemberian makanan yang lebih sering.
Selain frekuensi makan, kualitas MP-ASI juga menjadi perhatian utama. Anak membutuhkan makanan yang beragam dan seimbang, mengandung sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serta mineral. Namun dalam praktiknya, masih banyak anak yang mendapatkan makanan dengan frekuensi kurang atau jenis makanan yang belum memenuhi kebutuhan gizi harian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa praktik pemberian makan pada bayi dan anak merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Pemberian makanan yang tidak memadai, baik dari segi kualitas maupun frekuensi, dapat meningkatkan risiko malnutrisi kronis yang berujung pada stunting.
Melalui implementasi kerja sama penelitian ini, UNG berharap edukasi mengenai pola MP-ASI yang tepat dapat semakin dipahami oleh masyarakat, khususnya para orang tua. Dengan pola pemberian makan yang baik dan seimbang, risiko stunting dapat ditekan sehingga anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. Pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak usia dini.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/37300/pdf

