Berita

Blog Image

Lewat Kerja Sama Penelitian, Ung Identifikasi 10 Spesies Lamun Di Taula’a Gorontalo

Gorontalo - Implementasi kerja sama penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil mengidentifikasi keanekaragaman lamun di Pantai Taula’a, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo, Teluk Tomini.

Melalui riset kolaboratif tersebut, peneliti menemukan 10 spesies lamun yang terdiri dari dua famili, yakni Potamogetonaceae dan Hydrocharitaceae.

Dari famili Potamogetonaceae, jenis lamun yang teridentifikasi meliputi Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassodendron ciliatum. Sementara dari famili Hydrocharitaceae ditemukan Enhalus acoroides, Halophila minor, Halophila ovalis, dan Thalassia hemprichii.

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti yang terdiri dari Sitty Ainsyah Habibie, Sri Nuryatin Hamzah, Sentia, Nurnaningsih Abas, dan Dandi Hasyim, dan telah dipublikasikan dalam Buletin Oseanografi Marina edisi Oktober 2025.

“Sebanyak 10 jenis lamun ditemukan di Pantai Taula’a,” ujar Sitty Ainsyah Habibie.

Selain di Taula’a, distribusi lamun juga diamati di sejumlah lokasi lain. Tujuh jenis ditemukan di Pantai Leato Selatan, enam jenis di Leato Utara, tiga jenis di Tanjung Keramat, enam jenis di Biluhu Timur, serta tujuh jenis di Botuboluo.

Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat keanekaragaman lamun yang relatif lebih tinggi dibandingkan studi sebelumnya. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan metode pengambilan sampel serta kondisi lingkungan di masing-masing lokasi pesisir yang memengaruhi distribusi spesies.

Lamun memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir, antara lain sebagai habitat berbagai biota laut, penahan abrasi, penyaring air, hingga penyerap karbon dan penstabil pH laut. Selain itu, lamun juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, seperti sumber bahan pangan, obat tradisional, serta mendukung mata pencaharian di sektor perikanan.

Namun demikian, keberadaan lamun saat ini menghadapi tekanan serius. Secara global, luas padang lamun terus mengalami penurunan akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan. Di Indonesia sendiri, luas lamun diperkirakan telah berkurang sekitar 30–40 persen dari total luas awal.

Melalui kerja sama penelitian ini, diharapkan ketersediaan data ilmiah mengenai sebaran, kerapatan, dan kondisi kesehatan lamun di Teluk Tomini dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan dan upaya pelestarian ekosistem pesisir yang berkelanjutan.