Melalui Kerja Sama Riset, Peneliti Ung Kembangkan Strategi Pengendalian Risiko Erosi Di Das Bolango
Gorontalo -Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolango terus mengalami tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dalam dua dekade terakhir. Berkurangnya kawasan hutan, meningkatnya pertanian lahan kering, serta pertumbuhan permukiman menjadi faktor utama yang memicu peningkatan risiko erosi dan kerawanan bencana hidrometeorologi di wilayah hilir.
Melalui kerja sama riset, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang terdiri dari Prof. Dr. Fitryane Lihawa, Dr. Iswan Dunggio, dan Rahmat Jaya Lahay mengembangkan strategi terpadu untuk menekan risiko erosi di DAS Bolango. Penelitian ini menegaskan bahwa perlindungan lereng curam dan penguatan praktik konservasi pertanian menjadi kunci utama dalam pengendalian erosi.
Model Terpadu Berbasis Sains dan Kolaborasi
Dalam riset kolaboratif tersebut, tim mengembangkan model terpadu yang menggabungkan Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dan Agent-Based Modeling (ABM). Model ini digunakan untuk memetakan, memprediksi, serta menguji berbagai skenario pengendalian erosi secara komprehensif.
Penelitian memanfaatkan analisis spasial berbasis GIS dan Google Earth Engine untuk menghitung faktor-faktor erosi (R, K, LS, C, P), serta model PLUS untuk memproyeksikan perubahan penggunaan lahan hingga 2033. Sementara itu, ABM digunakan untuk mensimulasikan perilaku para aktor seperti petani, pemerintah, dan investor dalam menentukan keputusan penggunaan lahan dan praktik konservasi.
Model yang dikembangkan menunjukkan tingkat akurasi yang kuat (R² = 0,83 dan RMSE = 12,7 ton/ha/tahun), sehingga dinilai layak sebagai alat bantu perencanaan kebijakan berbasis data. Pemerintah daerah bahkan dapat memanfaatkan model ini sebagai “laboratorium digital” untuk menguji kebijakan sebelum diterapkan di lapangan.
Tekanan Perubahan Lahan 2013–2033
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa dalam periode 2013–2033, tutupan hutan diperkirakan menurun 14,25 persen. Sebaliknya, pertanian lahan kering meningkat 42,37 persen dan permukiman melonjak hingga 122,24 persen. Perubahan ini berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, sedimentasi, dan risiko bencana di wilayah hilir DAS.
Secara rata-rata, kehilangan tanah (soil loss) tercatat 59,08 ton/ha/tahun pada 2013, turun menjadi 49,22 ton/ha/tahun pada 2023, dan diproyeksikan kembali naik menjadi 50,17 ton/ha/tahun pada 2033. Tanpa intervensi, skenario Business-as-Usual (BAU) memperkirakan total erosi mencapai 2,63 juta ton per tahun pada 2033.
Strategi Efektif: Lindungi Lereng dan Perkuat Konservasi
Melalui simulasi berbagai skenario, penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis praktik tani dan perlindungan lereng sangat efektif.
Skenario Contour Farming (tanam mengikuti kontur) mampu menurunkan erosi menjadi 1,92 juta ton per tahun atau turun 27 persen dibandingkan BAU. Sementara itu, perlindungan kawasan pada lereng dengan kemiringan lebih dari 25 persen mampu menurunkan erosi hingga 1,28 juta ton per tahun atau berkurang 51 persen, sekaligus meningkatkan stabilitas penggunaan lahan hingga 20 persen.
Analisis sensitivitas juga menempatkan faktor C (tutupan vegetasi) sebagai faktor paling dominan dalam memengaruhi variasi erosi. Artinya, pemulihan vegetasi, penerapan agroforestri, serta pencegahan pembukaan lahan di zona rawan menjadi “tuas kebijakan” paling kuat dalam pengendalian erosi.

