Berita

Blog Image

Kolaborasi Riset Ungkap Fakta Bell’s Palsy, Peneliti Ung Ajak Generasi Muda Waspada

Gorontalo-Kerja sama riset antara akademisi dan praktisi kesehatan kembali menghasilkan temuan penting bagi masyarakat. Melalui penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo periode 2023–2025, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap fakta bahwa Bell’s Palsy, gangguan kelumpuhan saraf wajah yang selama ini sering dianggap identik dengan usia lanjut, justru banyak ditemukan pada kelompok usia muda dan produktif.

Bell’s Palsy merupakan kondisi kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara tiba-tiba pada satu sisi wajah. Penderitanya dapat mengalami kesulitan tersenyum, sudut mulut tampak mencong, hingga kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna. Kondisi ini sering menimbulkan kepanikan karena muncul secara mendadak dan memengaruhi penampilan maupun aktivitas sehari-hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 20–29 tahun menjadi kelompok yang paling banyak mengalami Bell’s Palsy, dengan persentase mencapai 38,5 persen dari total kasus yang tercatat. Temuan ini menjadi perhatian penting karena menunjukkan bahwa gangguan saraf wajah tidak hanya mengancam kelompok usia lanjut, tetapi juga generasi muda yang berada pada masa produktif.

Menurut tim peneliti, tingginya angka kejadian pada usia muda diduga berkaitan dengan pola hidup modern. Paparan suhu dingin yang berlebihan, seperti penggunaan pendingin ruangan dalam waktu lama atau berkendara pada malam hari, serta tingkat stres yang tinggi dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut berpotensi memicu reaktivasi virus laten, khususnya Herpes Simplex Virus, yang kemudian menyebabkan peradangan pada saraf wajah.

Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan lebih banyak mengalami Bell’s Palsy dibandingkan laki-laki, dengan proporsi mencapai 65,4 persen dari keseluruhan kasus. Meskipun penyebab pastinya masih memerlukan penelitian lanjutan, faktor hormonal dan perbedaan respons imun diduga turut berperan dalam meningkatkan risiko tersebut.

Selain mengungkap kelompok yang rentan, penelitian ini juga menyoroti pentingnya mengenali gejala Bell’s Palsy sejak dini. Gejala yang paling sering ditemukan adalah asimetri wajah atau sudut mulut yang tampak mencong ke satu sisi. Selain itu, sebagian pasien mengalami kesulitan menutup kelopak mata secara sempurna, yang dapat menyebabkan mata kering dan iritasi apabila tidak segera ditangani. Gejala lain yang kerap muncul adalah nyeri di belakang telinga beberapa waktu sebelum kelumpuhan wajah terjadi.

Tim peneliti UNG menegaskan bahwa kecepatan penanganan menjadi faktor utama dalam proses pemulihan. Data penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dapat mengalami pemulihan yang baik apabila mendapatkan terapi medis pada fase awal. Penggunaan kortikosteroid dalam 72 jam pertama setelah munculnya gejala terbukti meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.

Sebaliknya, keterlambatan memperoleh penanganan medis dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi wajah yang menetap. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal maupun hanya mengandalkan pengobatan yang tidak didukung bukti ilmiah.

Melalui hasil kolaborasi riset ini, para peneliti UNG mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap kesehatan saraf dan sistem imun tubuh. Pola tidur yang cukup, pengelolaan stres yang baik, aktivitas fisik teratur, serta perlindungan dari paparan suhu dingin berlebihan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menurunkan risiko terjadinya Bell’s Palsy.

Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan fasilitas layanan kesehatan tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit neurologis di kalangan generasi muda.

 

Sumber:  https://research.ebsco.com/c/mlhb5m/search/details/5yndrholbb?db=asn