Berita

Blog Image

Implementasi Kerja Sama Penelitian: Peneliti Ung Ungkap Diabetes Tak Terkontrol Tingkatkan Risiko Kebutaan Hingga 7 Kali Lipat

Gorontalo-Implementasi kerja sama penelitian yang dilakukan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe dan RSUD dr. Hasri Ainun Habibie membuahkan temuan penting di bidang kesehatan mata. Melalui kolaborasi tersebut, tim peneliti UNG berhasil mengungkap bahwa penderita diabetes melitus (DM) dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol memiliki risiko 7,364 kali lebih tinggi mengalami ulkus kornea infeksius berat, yaitu kondisi luka pada kornea mata yang berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan.

Penelitian ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama antara perguruan tinggi dan rumah sakit dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan berbasis kebutuhan masyarakat. Sinergi tersebut tidak hanya memperkuat pelaksanaan penelitian, tetapi juga menghasilkan bukti ilmiah yang dapat menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan komplikasi diabetes, khususnya pada kesehatan mata.

Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia, hasil penelitian ini menjadi alarm penting bagi masyarakat. Selama ini komplikasi diabetes lebih sering dikaitkan dengan penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal. Padahal, mata juga menjadi organ yang sangat rentan mengalami kerusakan akibat tingginya kadar gula darah yang tidak terkendali. Diabetes yang sering dijuluki sebagai silent killer ternyata dapat menyebabkan gangguan penglihatan secara perlahan tanpa disadari hingga akhirnya berujung pada kebutaan.

Ulkus kornea infeksius merupakan luka terbuka pada lapisan bening paling depan mata (kornea) yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, maupun mikroorganisme lainnya. Kondisi ini ditandai dengan mata merah, nyeri hebat, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, hingga keluarnya cairan dari mata. Pada penderita diabetes, proses penyembuhan luka berlangsung jauh lebih lambat karena kadar gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah kecil, mengganggu fungsi saraf kornea, serta menurunkan kemampuan sistem imun dalam melawan infeksi.

Penelitian yang dilaksanakan pada 30 pasien di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe dan RSUD dr. Hasri Ainun Habibie menunjukkan bahwa sebanyak 66,7 persen pasien memiliki kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL yang menandakan diabetes tidak terkontrol. Mayoritas pasien juga mengalami ulkus kornea dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian kadar gula darah masih menjadi tantangan besar, termasuk di Provinsi Gorontalo yang dalam beberapa tahun terakhir mencatat peningkatan kasus kelainan kornea.

Secara medis, tingginya kadar gula darah dalam jangka panjang memicu terbentuknya advanced glycation end-products (AGEs), yaitu senyawa yang mempercepat proses peradangan, meningkatkan stres oksidatif, dan merusak jaringan kornea. Akibatnya, mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi sekaligus mengalami perlambatan proses penyembuhan ketika terjadi luka. Kondisi tersebut sering berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kemampuan penglihatannya telah menurun secara signifikan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan laki-laki usia produktif hingga lansia awal yang masih aktif bekerja. Kesibukan dan rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pengendalian diabetes kurang optimal. Di sisi lain, pola konsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana, minuman manis, makanan cepat saji, serta minimnya aktivitas fisik turut memperburuk pengendalian kadar gula darah.

Melalui implementasi kerja sama penelitian ini, UNG berharap hasil riset dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, maupun tenaga kesehatan dalam memperkuat upaya promotif dan preventif terkait komplikasi diabetes. Edukasi kepada masyarakat perlu diperluas agar tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan mata secara rutin bagi penyandang diabetes.

Temuan penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa pengendalian diabetes merupakan investasi penting untuk menjaga kualitas hidup. Mengontrol kadar gula darah bukan hanya bertujuan mencegah penyakit semakin parah, tetapi juga melindungi fungsi penglihatan agar tetap optimal. Dengan kolaborasi yang terus diperkuat antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemerintah, hasil-hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan angka komplikasi diabetes sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

 

Sumber: https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jkj/article/view/2391/1748