Implementasi Kerja Sama Penelitian: Dosen Ung Ungkap Penderita Diabetes Berisiko 4,3 Kali Alami Katarak
Gorontalo - Implementasi kerja sama penelitian yang dilakukan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo berhasil mengungkap hubungan signifikan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak. Hasil riset ini menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hingga 4,3 kali lebih besar mengalami katarak dibandingkan dengan individu tanpa diabetes.
Gangguan penglihatan sendiri masih menjadi salah satu persoalan kesehatan global yang berdampak luas terhadap kualitas hidup masyarakat. Katarak, yang ditandai dengan kekeruhan lensa mata, menjadi salah satu penyebab utama kebutaan, terutama pada kelompok usia lanjut. Meski sering dikaitkan dengan proses penuaan, katarak juga dapat dipicu oleh kondisi kesehatan tertentu, salah satunya diabetes melitus.
Dalam penelitian kolaboratif tersebut, sebanyak 40 pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan di poliklinik penyakit dalam dan poliklinik mata dilibatkan sebagai responden. Hasilnya, sebanyak 20 pasien (50%) terdiagnosis diabetes melitus tipe 2, sementara 19 pasien (47,5%) mengalami katarak.
Analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut dengan nilai p-value sebesar 0,027. Artinya, hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak tidak terjadi secara kebetulan. Lebih lanjut, nilai Odds Ratio sebesar 4,333 mengindikasikan bahwa pasien diabetes memiliki risiko sekitar 4,3 kali lebih tinggi untuk mengalami katarak.
Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa diabetes merupakan faktor risiko penting dalam perkembangan katarak. Secara medis, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan penumpukan sorbitol pada lensa mata, sehingga memicu kekeruhan. Selain itu, kondisi stres oksidatif pada penderita diabetes juga berkontribusi terhadap kerusakan protein lensa.
Penelitian ini juga menyoroti peran faktor lain seperti usia dan gaya hidup. Mayoritas penderita katarak dalam studi ini berusia di atas 60 tahun. Kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, serta paparan sinar ultraviolet berlebih turut meningkatkan risiko terjadinya katarak.
Melihat tingginya risiko tersebut, para peneliti menekankan pentingnya pengendalian diabetes sebagai langkah utama pencegahan gangguan penglihatan. Penderita diabetes dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil melalui pola hidup sehat, serta rutin melakukan pemeriksaan mata minimal setiap enam bulan.
Implementasi kerja sama penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan katarak, khususnya bagi penderita diabetes. Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko kebutaan akibat katarak dapat ditekan secara signifikan.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30111

