Dosen Ung Terlibat Rukyatul Hilal Di Arab Saudi, Perkuat Implementasi Kerja Sama Riset Astronomi Internasional
Gorontalo - Momentum penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Arab Saudi menjadi bagian penting dalam implementasi kerja sama riset astronomi internasional yang melibatkan akademisi Indonesia. Andi Muh. Akhyar, dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Gorontalo (UNG), turut ambil bagian dalam kegiatan rukyatul hilal di Observatorium Tumair, Arab Saudi.
Keterlibatan tersebut tidak hanya bersifat partisipatif, tetapi juga menjadi bentuk nyata kolaborasi akademik lintas negara dalam pengembangan ilmu falak dan astronomi modern. Observatorium Tumair sendiri merupakan salah satu titik rujukan utama dalam penentuan awal bulan Hijriah di Kerajaan Arab Saudi.
Berdasarkan keputusan resmi Mahkamah Agung Arab Saudi, awal puasa Ramadan 1447 H ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026, setelah laporan keterlihatan hilal pada Selasa malam (17/02/2026). Pengamatan dilakukan di sejumlah lokasi strategis, termasuk Observatorium Tumair yang menjadi pusat observasi penting dalam proses verifikasi hilal.
Akhyar yang hadir langsung di lokasi menjelaskan bahwa kondisi langit di ufuk barat Kota Tumair sangat mendukung proses observasi.
“Langit cerah tanpa awan, dengan nilai aerosol hanya 0,08 AOD. Matahari terbenam pukul 17.50 waktu setempat,” ungkapnya.
Tiga menit setelah matahari terbenam, Ketua Observatorium Tumair, Mutaib Al-Barghash, menyatakan berhasil melihat hilal. Pernyataan tersebut disambut takbir oleh para peserta yang hadir, menandai momen penting dalam penetapan awal Ramadan.
Saat ini, Akhyar tengah menempuh studi doktoral bidang Astronomi di King Abdulaziz University, Jeddah, Arab Saudi. Keikutsertaannya dalam pengamatan resmi tersebut menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik antara UNG dan institusi pendidikan tinggi di Arab Saudi, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset, pertukaran data observasi, serta pengembangan publikasi ilmiah bersama.
Partisipasi dosen UNG dalam forum observasi internasional ini mencerminkan meningkatnya kapasitas akademisi perguruan tinggi daerah dalam menjalin kemitraan global. Kegiatan rukyatul hilal tersebut tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga wahana pertukaran pengetahuan dan metodologi pengamatan astronomi berbasis observatorium modern.
Bagi UNG, keterlibatan Andi Muh. Akhyar menjadi bukti konkret bahwa implementasi kerja sama riset internasional dapat diwujudkan melalui kontribusi aktif dosen dalam forum ilmiah global. Dari ufuk barat Tumair, langkah kolaboratif ini menjadi simbol penguatan peran Indonesia dalam jejaring riset astronomi dunia.

