Implementasi Kerja Sama: Riset Peneliti Ung Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Kunci Utama
Gorontalo-Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, stunting juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas individu di masa depan. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Sebagai bentuk implementasi kerja sama dalam mendukung percepatan penurunan stunting, tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil mengungkap bahwa pengetahuan gizi dan pola asuh orang tua merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada balita. Temuan tersebut menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan program edukasi dan pendampingan keluarga yang lebih efektif.
Penelitian dilakukan oleh Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo pada tahun 2025. Melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, penelitian melibatkan 69 responden untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan kejadian stunting pada balita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 42 persen balita di wilayah penelitian mengalami stunting. Angka tersebut menjadi indikator bahwa upaya pencegahan perlu dilakukan secara lebih komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak melalui program kerja sama yang berkelanjutan.
Pengetahuan Gizi Menjadi Fondasi Pencegahan Stunting
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi orang tua dengan kejadian stunting pada anak. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,003, yang menandakan bahwa semakin baik pengetahuan orang tua mengenai gizi, semakin rendah risiko anak mengalami stunting.
Pengetahuan gizi mencakup pemahaman tentang pentingnya pemenuhan nutrisi sejak masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai, serta pemenuhan kebutuhan gizi anak berdasarkan usia dan tahap tumbuh kembangnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi gizi kepada orang tua, khususnya ibu, harus menjadi salah satu fokus utama dalam implementasi program kerja sama pencegahan stunting. Dengan pengetahuan yang memadai, keluarga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak, bahkan di tengah keterbatasan ekonomi.
Pola Asuh Orang Tua Berperan Penting
Selain pengetahuan gizi, penelitian juga menemukan hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian stunting, yang ditunjukkan melalui nilai signifikansi p = 0,014.
Pola asuh yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan, tetapi juga mencakup praktik menjaga kebersihan lingkungan, pemantauan tumbuh kembang anak, pemanfaatan layanan kesehatan, serta kedisiplinan mengikuti kegiatan Posyandu.
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang baik cenderung memperoleh perhatian yang lebih optimal terhadap kebutuhan gizinya, mendapatkan akses layanan kesehatan secara rutin, serta tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat. Sebaliknya, pola asuh yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak.
Implementasi Kerja Sama Berbasis Hasil Riset
Temuan penelitian ini menjadi bukti bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi pemberian bantuan pangan. Diperlukan implementasi kerja sama yang berfokus pada peningkatan kapasitas keluarga melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, puskesmas, kader Posyandu, dan masyarakat, hasil penelitian ini dapat diimplementasikan dalam berbagai program seperti edukasi gizi keluarga, kelas parenting, pendampingan ibu hamil, serta penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan pangan lokal bergizi dan terjangkau juga dapat menjadi salah satu strategi yang dikembangkan dalam kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan kualitas gizi keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
Membangun Generasi Sehat dari Lingkungan Keluarga
Penelitian yang dilakukan oleh tim Fakultas Kedokteran UNG menegaskan bahwa keluarga merupakan garda terdepan dalam pencegahan stunting. Pengetahuan gizi yang baik dan pola asuh yang tepat terbukti menjadi faktor kunci dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Melalui implementasi kerja sama yang didukung oleh hasil riset ilmiah, diharapkan berbagai program pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Dengan demikian, upaya menurunkan angka stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan anak saat ini, tetapi juga menjadi investasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Sumber: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3325

