Kolaborasi Riset Ung Hasilkan Teknologi Edible Coating Nano Dari Limbah Nasi Aking
Gorontalo-Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap ketahanan pangan dan pengurangan limbah, kolaborasi riset terus didorong untuk menghadirkan solusi inovatif yang berkelanjutan. Salah satu terobosan datang dari tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang berhasil mengembangkan teknologi edible coating berbasis nano dari limbah nasi aking.
Inovasi ini merupakan hasil implementasi kerja sama penelitian yang melibatkan Rahmiyati Kasim, Widya Rahmawaty Saman, dan Sakinah Ayhani Dahlan melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) tahun 2025 dengan dukungan DPPM Kemdiktisaintek.
Limbah Pangan Menjadi Inovasi Bernilai
Nasi aking, yang selama ini dikenal sebagai nasi sisa yang dikeringkan dan sering dianggap tidak bernilai, kini diolah menjadi bahan utama edible coating—lapisan tipis yang dapat dimakan untuk melindungi produk pangan dari kerusakan.
Melalui pendekatan ini, tim peneliti tidak hanya berupaya memperpanjang umur simpan bahan pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah dalam kerangka ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya terbuang kini diubah menjadi produk bernilai tambah.
Integrasi Teknologi Nano dalam Penguatan Material
Dalam pengembangannya, tepung nasi aking dikombinasikan dengan Virgin Coconut Oil (VCO) dan nano selulosa (Cellulose Nanofiber/CNF). Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lapisan pelindung yang dihasilkan.
Teknologi nano memungkinkan terbentuknya partikel berukuran sangat kecil sehingga menghasilkan lapisan yang lebih stabil dan merata. Untuk memperkuat karakteristik material, tim peneliti juga menerapkan teknologi iradiasi gamma.
Kombinasi ini menjadi kunci dalam menghasilkan edible coating dengan performa yang lebih optimal dibandingkan pendekatan konvensional berbasis bahan alami.
Hasil Uji Tunjukkan Performa Unggul
Berdasarkan hasil uji laboratorium, formulasi optimal edible coating ini mengandung sekitar 3% tepung nasi aking, 2,98% nano selulosa, dan 1,35% VCO.
Komposisi tersebut menghasilkan sejumlah keunggulan, di antaranya:
- Ukuran partikel nano yang stabil
- Distribusi partikel yang homogen
- Kemampuan menahan uap air yang baik
- Kekuatan mekanik lapisan yang meningkat
Selain itu, perlakuan iradiasi gamma terbukti mampu meningkatkan sifat antimikroba, sehingga lapisan tidak hanya melindungi secara fisik tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan pangan.
Potensi Aplikasi pada Produk Segar
Teknologi edible coating berbasis nano ini memiliki potensi besar untuk diterapkan pada produk hortikultura seperti buah dan sayuran segar. Dengan lapisan yang aman dikonsumsi, umur simpan produk dapat diperpanjang tanpa tambahan pengawet sintetis.
Hal ini menjadi solusi strategis dalam mengurangi kehilangan hasil panen akibat kerusakan pascapanen, yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Selain itu, pemanfaatan nasi aking sebagai bahan baku juga membuka peluang ekonomi baru dari limbah rumah tangga.
Kolaborasi Riset untuk Masa Depan Pangan
Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi riset dalam menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan menggabungkan potensi lokal dan teknologi modern, UNG menghadirkan solusi yang tidak hanya efektif tetapi juga ramah lingkungan.
Inovasi edible coating berbasis nano dari limbah nasi aking menjadi bukti bahwa masa depan pangan dapat dibangun melalui sinergi antara sains, keberlanjutan, dan pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini terabaikan.

