Berita

Blog Image

Kerja Sama Riset Buktikan Osce Picu Kecemasan Lebih Tinggi Dibanding Ujian Teori

Gorontalo - Implementasi kerja sama riset yang dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) mengungkap temuan penting terkait kesehatan mental mahasiswa kedokteran. Studi yang dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo ini menunjukkan bahwa ujian praktik klinis atau Objective Structured Clinical Examination (OSCE) cenderung memicu tingkat kecemasan lebih tinggi dibandingkan ujian teori berbasis Computer-Based Test (CBT).

Penelitian ini berangkat dari fenomena umum bahwa ujian dalam pendidikan kedokteran tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga keterampilan klinis yang berkaitan langsung dengan standar kompetensi profesi sebagaimana diatur dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Dalam konteks tersebut, tekanan psikologis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses evaluasi akademik.

OSCE Dinilai Lebih Menegangkan

Dari 48 mahasiswa angkatan 2022 yang menjadi responden, sebagian besar memang berada pada kategori tidak mengalami kecemasan berat. Namun, proporsi mahasiswa yang menunjukkan gejala kecemasan lebih tinggi ditemukan saat menghadapi OSCE dibandingkan ujian teori.

OSCE menuntut mahasiswa menampilkan keterampilan klinis secara langsung di setiap stasiun praktik, dinilai secara real time oleh penguji, serta dibatasi waktu yang ketat. Situasi ini menciptakan tekanan performatif yang berbeda dibandingkan ujian teori yang lebih bersifat individual dan berbasis komputer.

Secara statistik, analisis menggunakan uji Mann-Whitney memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan skor kecemasan pada OSCE dibandingkan CBT, sehingga memperkuat asumsi bahwa evaluasi praktik klinis memiliki beban psikologis lebih kompleks.

Faktor yang Memengaruhi Tingkat Kecemasan

Beberapa faktor yang turut memengaruhi temuan ini antara lain:

  • Efikasi diri mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkat kepercayaan diri dan kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung mampu mengelola tekanan, meskipun OSCE tetap menjadi tantangan tersendiri.
  • Karakteristik ujian. OSCE menuntut integrasi pengetahuan, komunikasi, dan keterampilan motorik dalam waktu terbatas.
  • Pengalaman sebelumnya. Paparan berulang terhadap simulasi praktik dapat membantu menurunkan kecemasan, meski tekanan evaluatif tetap ada.
  • Faktor gender dan psikososial. Mayoritas responden berusia 20 tahun dan didominasi mahasiswa perempuan (60,4%), dengan dinamika dukungan sosial dan budaya belajar yang turut membentuk respons emosional terhadap ujian.

Implikasi bagi Pendidikan Kedokteran

Hasil implementasi kerja sama riset ini memberikan rekomendasi strategis bagi institusi pendidikan kedokteran. Penguatan aspek mental dan emosional mahasiswa menjadi sama pentingnya dengan peningkatan kompetensi akademik.

Program seperti simulasi OSCE terstruktur, pelatihan coping strategy, pembinaan efikasi diri, serta penciptaan lingkungan akademik yang suportif dinilai dapat membantu mahasiswa mengelola kecemasan secara sehat.

Pada akhirnya, kompetensi dokter tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga oleh stabilitas emosional saat menghadapi tekanan nyata di lapangan. Temuan ini menegaskan bahwa dalam pendidikan kedokteran modern, kesiapan mental merupakan bagian integral dari pembentukan tenaga medis profesional.

Sumber: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3460/2970