Berita

Blog Image

Kerja Sama Riset Menguat: Dosen Ung Paparkan Kajian Iklim 18 Desa Jadi Dasar Baseline Emisi Grk Gorontalo

Gorontalo - Dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memaparkan hasil kajian identifikasi dampak perubahan iklim yang dilaksanakan di 18 desa pada enam kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo, Selasa (24/2/2026). Setiap kabupaten/kota diwakili oleh tiga desa sebagai lokus penelitian, yang menjadi bagian dari implementasi penguatan kerja sama riset di daerah.

Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNG, Muh. Kasim, menjelaskan bahwa hasil identifikasi tersebut telah disusun dalam laporan Penyusunan Profil dan Pemetaan Kerentanan serta Emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Laporan ini menjadi fondasi penting dalam penyusunan baseline atau data dasar emisi GRK di Provinsi Gorontalo.

Pelaksanaan kajian merupakan bagian dari kerja sama melalui program Result Based Payments (RBP) REDD yang didukung oleh Green Climate Fund (GCF). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat kapasitas daerah dalam mengidentifikasi sumber emisi, memetakan tingkat kerentanan, serta menyusun strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis data.

Menurut Muh. Kasim, tersusunnya baseline emisi akan menjadi pijakan strategis bagi Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam merancang kebijakan dan program penurunan emisi GRK secara lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.

Menuju Desa Pro Iklim

Sebanyak 18 desa yang terlibat dalam kajian ini akan ditindaklanjuti melalui rekomendasi teknis dan saran strategis berdasarkan hasil penelitian. Desa-desa tersebut berpotensi dikembangkan menjadi Desa Pro Iklim melalui penguatan kapasitas, sosialisasi, serta dukungan program lanjutan.

“Kajian ini bukan hanya berhenti pada laporan, tetapi akan ada tindak lanjut berupa rekomendasi, serta kemungkinan kegiatan pendampingan, sosialisasi, dan bantuan ke desa-desa tersebut,” jelas Muh. Kasim.

Tantangan Data dan Informasi

Dalam proses penyusunan kajian, tim menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan dan belum lengkapnya data serta kurangnya informasi dari sejumlah pihak setempat. Kondisi tersebut cukup mempengaruhi proses analisis dan penyusunan profil risiko.

Meski demikian, kajian ini tetap menjadi langkah awal yang penting dalam membangun sistem pendataan perubahan iklim yang lebih komprehensif di Gorontalo.

Perubahan Iklim Tanggung Jawab Bersama

Tim pengkaji menegaskan bahwa pengendalian risiko perubahan iklim dan emisi GRK tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan, mengingat masyarakat merupakan pelaksana sekaligus pihak yang terdampak langsung.

“Masyarakat tidak bisa menganggap ini semata-mata tugas pemerintah. Perlu kolaborasi agar langkah-langkah mitigasi dan adaptasi dapat berjalan efektif,” tegas Muh. Kasim.

Dengan menguatnya kerja sama riset ini, Provinsi Gorontalo diharapkan semakin siap menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pendekatan berbasis data, kolaboratif, dan berkelanjutan. Kajian tersebut diharapkan mampu menghadirkan baseline atau data dasar emisi perubahan iklim di Gorontalo yang selama ini masih sangat terbatas.