Penelitian Kolaboratif Ung Ungkap Potensi Sambiloto Untuk Pertumbuhan Dan Ketahanan Ikan Nila
Gorontalo-Selama ini, sambiloto dikenal sebagai tanaman herbal bercita rasa pahit yang banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Namun melalui penelitian kolaboratif yang dilakukan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG), tanaman bernama ilmiah Andrographis paniculata ini kini menunjukkan potensi baru sebagai bahan pakan fungsional untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ikan nila.
Penelitian yang dipimpin Dr. Juliana bersama Prof. Yuniarti Koniyo dan Dr. Hendrik David Julianus Borolla tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama riset dalam pengembangan inovasi budidaya perikanan berkelanjutan berbasis bahan alami lokal.
Dalam penelitian ini, para peneliti menguji ekstrak daun sambiloto sebagai bahan tambahan pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan beberapa variasi dosis, mulai dari tanpa ekstrak hingga penambahan 2 mg/kg, 4 mg/kg, dan 6 mg/kg pakan.
Selama 30 hari masa pemeliharaan, tim peneliti melakukan pengamatan terhadap berbagai parameter penting, seperti pertumbuhan ikan, efisiensi pakan, tingkat kelangsungan hidup, serta kualitas nutrisi ikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak sambiloto memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan daya tahan ikan nila. Dosis 2 mg/kg terbukti efektif meningkatkan pertumbuhan panjang ikan, sementara dosis 6 mg/kg menghasilkan pertumbuhan bobot tertinggi. Adapun dosis 4 mg/kg dinilai paling optimal karena mampu memberikan keseimbangan terbaik antara pertumbuhan dan efisiensi pakan.
Tidak hanya itu, tingkat kelangsungan hidup ikan pada seluruh perlakuan tetap tinggi, bahkan mencapai lebih dari 90 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan sambiloto aman dan berpotensi mendukung kesehatan ikan selama proses budidaya.
Dari sisi kualitas nutrisi, ikan yang diberi pakan berbasis sambiloto juga mengalami peningkatan kandungan protein serta asam lemak esensial seperti EPA dan DHA yang merupakan komponen penting omega-3 bagi kesehatan manusia. Dosis sekitar 4 mg/kg menjadi perlakuan paling optimal dalam meningkatkan kualitas nutrisi ikan secara keseluruhan.
Keunggulan sambiloto sendiri berasal dari kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, dan antioksidan yang mampu membantu meningkatkan sistem kekebalan ikan, menekan infeksi bakteri dan parasit, serta mengurangi stres oksidatif selama budidaya berlangsung. Dengan manfaat tersebut, penggunaan sambiloto dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik dalam industri perikanan modern.
Melalui penelitian ini, pemanfaatan tanaman herbal lokal dinilai menjadi langkah strategis dalam menciptakan sistem budidaya ikan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain mampu meningkatkan kualitas hasil panen, inovasi tersebut juga membuka peluang bagi pembudidaya untuk menghasilkan ikan nila dengan nilai gizi lebih tinggi dan lebih aman dikonsumsi masyarakat.
Meski demikian, tim peneliti UNG menegaskan bahwa penelitian akan terus dilanjutkan pada skala yang lebih besar guna memastikan efektivitas dan penerapan teknologi pakan herbal ini di tingkat budidaya nyata.
Penelitian kolaboratif ini membuktikan bahwa inovasi pangan masa depan tidak selalu harus berasal dari teknologi yang rumit. Tanaman sederhana seperti sambiloto ternyata memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan sektor perikanan yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.

