Berita

Blog Image

Kerja Sama Penelitian: Peneliti Ung Ungkap Lansia Hipertensi Tak Cukup Hanya Minum Obat, Self-Management Jadi Kunci Hidup Berkualitas

Gorontalo-Implementasi kerja sama penelitian yang dilakukan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menghasilkan temuan ilmiah yang memberikan kontribusi bagi pengembangan layanan kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi riset yang melibatkan dosen dan peneliti Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG bersama mitra layanan kesehatan, penelitian terbaru mengungkap bahwa pengendalian hipertensi pada lanjut usia (lansia) tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi obat. Kemampuan lansia dalam mengelola penyakitnya secara mandiri atau self-management terbukti menjadi faktor utama yang menentukan kualitas hidup mereka.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit yang dikenal sebagai silent killer ini sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ vital seperti jantung, ginjal, dan otak. Pada kelompok lanjut usia, dampak hipertensi menjadi semakin kompleks karena tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga kesehatan psikologis, kemampuan beraktivitas, hingga interaksi sosial.

Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Limboto dengan melibatkan 66 lansia penderita hipertensi. Sebagian besar responden berada pada rentang usia 60–74 tahun, kelompok usia yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi akibat tekanan darah tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 65,2 persen responden memiliki kemampuan self-management yang baik. Mereka secara konsisten mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, rutin memantau tekanan darah, menerapkan pola makan sehat rendah garam, menjaga aktivitas fisik, serta berupaya mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil pengukuran kualitas hidup, di mana sebagian besar responden berada pada kategori baik hingga sangat baik.

Lebih jauh, analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara self-management dengan kualitas hidup lansia penderita hipertensi. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,717 menunjukkan hubungan yang kuat dan positif. Artinya, semakin baik kemampuan lansia dalam mengelola penyakitnya, semakin tinggi pula kualitas hidup yang dapat mereka rasakan.

Hasil penelitian ini memberikan perspektif baru dalam pengelolaan hipertensi. Selama ini masyarakat masih banyak beranggapan bahwa tekanan darah tinggi dapat dikendalikan hanya dengan mengonsumsi obat secara rutin. Padahal, keberhasilan pengobatan juga sangat ditentukan oleh perubahan perilaku dan penerapan gaya hidup sehat secara berkelanjutan.

Self-management mencakup berbagai upaya yang dilakukan pasien untuk mengendalikan penyakitnya, mulai dari membatasi konsumsi garam, menghindari makanan tinggi lemak, menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengelola stres, memenuhi kebutuhan istirahat, hingga melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala. Konsistensi dalam menjalankan berbagai kebiasaan tersebut menjadi kunci agar hipertensi tetap terkendali dan tidak menimbulkan komplikasi.

Namun demikian, penerapan self-management pada lansia tidak selalu mudah. Faktor usia, keterbatasan fisik, penurunan daya ingat, kondisi psikologis, hingga minimnya dukungan keluarga menjadi tantangan yang kerap dihadapi. Penelitian ini juga menemukan bahwa lansia dengan kemampuan self-management yang rendah cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih buruk, ditandai dengan keterbatasan aktivitas sehari-hari, kondisi psikologis yang menurun, serta rendahnya partisipasi dalam kehidupan sosial.

Temuan tersebut menegaskan bahwa penanganan hipertensi pada lansia tidak hanya berorientasi pada pencapaian angka tekanan darah yang normal, tetapi juga pada upaya meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh. Lansia yang tetap aktif, memperoleh dukungan keluarga, serta memiliki kemampuan mengelola kesehatannya secara mandiri cenderung mampu menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan bermakna.

Dalam konteks ini, keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai pendamping utama lansia. Dukungan sederhana seperti mengingatkan jadwal minum obat, membantu menyediakan makanan sehat, menemani pemeriksaan kesehatan, hingga memberikan motivasi untuk tetap aktif terbukti dapat meningkatkan keberhasilan pengelolaan hipertensi.

Melalui implementasi kerja sama penelitian ini, UNG tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan rekomendasi berbasis bukti bagi pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat program edukasi, pendampingan, serta pemberdayaan pasien hipertensi, khususnya kelompok lanjut usia.

Program seperti edukasi self-management, senam lansia, konsultasi gizi, pendampingan keluarga, serta pemantauan tekanan darah secara berkala di tingkat puskesmas dan komunitas perlu terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia.

Penelitian ini menegaskan bahwa hipertensi memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat dikendalikan melalui kombinasi pengobatan yang tepat dan kemampuan pasien dalam mengelola kesehatannya sendiri. Dengan demikian, hidup berkualitas di usia lanjut bukan hanya ditentukan oleh usia yang panjang, tetapi juga oleh kemampuan untuk tetap sehat, mandiri, aktif, dan bahagia menjalani kehidupan sehari-hari.

Sumber: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10524/7100