Berita

Blog Image

Sinergi Kerja Sama Teknologi Perikanan Dan Energi Terbarukan Dalam Mendukung Peningkatan Ekonomi Nelayan

Gorontalo- Kesejahteraan nelayan kecil dan pelaku usaha perikanan di wilayah pesisir sangat dipengaruhi oleh dua faktor teknis yang berdampak langsung pada kondisi sosial-ekonomi, yakni tingginya biaya energi (BBM, listrik, genset) serta lemahnya sistem penanganan pascapanen. Ketika biaya melaut meningkat dan rantai dingin (cold chain) tidak memadai, nelayan menghadapi dua tekanan sekaligus: margin keuntungan yang semakin tipis dan penurunan harga jual akibat mutu ikan yang cepat menurun.

Menjawab persoalan tersebut, telah diimplementasikan kerja sama lintas bidang yang mengintegrasikan teknologi perikanan dan energi terbarukan di 17 desa pesisir Kecamatan Biluhu dan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Kolaborasi ini melibatkan akademisi, penyuluh perikanan, pemerintah daerah, serta kelompok nelayan dalam merancang dan menerapkan sistem penyimpanan ikan berbasis energi surya sebagai solusi penguatan rantai pascapanen.

Hasil implementasi menunjukkan dampak yang signifikan. Tingkat kehilangan hasil pascapanen yang sebelumnya mencapai 30–35 persen berhasil ditekan menjadi 12–15 persen melalui pemanfaatan listrik tenaga surya untuk mendukung penyimpanan dan penanganan hasil tangkapan. Penurunan kehilangan ini setara dengan pemulihan pendapatan nelayan hingga hampir 50 persen tanpa perlu menambah armada, alat tangkap, ataupun meningkatkan tekanan terhadap sumber daya laut.

Perubahan tersebut mulai dirasakan dalam praktik sehari-hari. Nelayan tidak lagi harus menjual ikan secara tergesa-gesa karena khawatir kualitas menurun. Dengan fasilitas penyimpanan berbasis energi terbarukan yang dikelola secara bersama, kualitas ikan dapat dipertahankan lebih lama sehingga posisi tawar nelayan meningkat dan pendapatan menjadi lebih stabil.

“Dulu kalau sudah siang, ikan cepat turun harga. Sekarang bisa disimpan dulu, tidak panik menjual. Hasilnya lebih terasa,” ujar Rahman, nelayan kecil di pesisir Biluhu Timur.

Dampak positif juga dirasakan oleh pelaku usaha pengolahan ikan skala rumah tangga. Ketersediaan listrik yang stabil memberikan kepastian produksi dan menjaga mutu bahan baku. “Biasanya ikan cepat rusak, jadi kami olah seadanya. Sekarang kualitas bahan baku lebih bagus dan bisa pilih waktu produksi. Pesanan juga mulai bertambah,” tutur Nurhayati, pelaku usaha di Desa Botuboluo. Bagi UMKM perikanan, energi terbarukan bukan sekadar penyedia listrik, tetapi fondasi keberlanjutan usaha keluarga.

Tenaga penyuluh perikanan yang terlibat dalam proses pendampingan menilai keberhasilan ini tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi pada pola kerja sama yang tepat sasaran. “Nelayan sebenarnya paham masalahnya, tetapi tidak punya alat. Begitu listrik dan penyimpanan ada, mereka cepat menyesuaikan. Ini contoh program yang menjawab kebutuhan lapangan,” jelas Bapak Jabir.

Implementasi ini merupakan bagian dari riset kolaboratif berjudul “Pemetaan Potensi Blue Economy dan Elektrifikasi Sektor Perikanan di Kabupaten Gorontalo” yang telah dipublikasikan dalam International Journal of Energy Economics and Policy Volume 16 Nomor 2 Tahun 2026 (terindeks Scopus Q2). Penelitian tersebut mengintegrasikan perspektif ekonomi pembangunan, teknologi perikanan tangkap, dan teknologi energi terbarukan.

Pendekatan multidisipliner tersebut memastikan bahwa solusi yang dirancang tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan kelembagaan. Analisis menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada peran koperasi nelayan, kelompok usaha bersama, serta pendampingan penyuluh dalam mengelola fasilitas energi surya secara kolektif. Dengan demikian, kerja sama tidak berhenti pada tahap riset, tetapi berlanjut dalam tata kelola operasional di tingkat desa.

Dampak ekonomi juga meluas ke rantai usaha lainnya. Pengepul memperoleh pasokan dengan kualitas lebih stabil, pengolah ikan dapat memperluas diversifikasi produk, dan pedagang pasar merasakan meningkatnya kepercayaan konsumen. Efisiensi pascapanen yang dihasilkan melalui sinergi teknologi perikanan dan energi terbarukan terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi lokal tanpa meningkatkan eksploitasi sumber daya laut.

Ke depan, model implementasi kerja sama ini memberikan pijakan strategis bagi pemerintah daerah untuk melakukan pengarusutamaan elektrifikasi sektor perikanan berbasis energi terbarukan dalam perencanaan pembangunan daerah. Replikasi dan perluasan program dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari desa-desa dengan tingkat kehilangan pascapanen tertinggi, disertai penguatan kelembagaan nelayan dan UMKM sebagai pengelola utama.

Melalui implementasi kerja sama yang terstruktur dan berkelanjutan, sinergi teknologi perikanan dan energi terbarukan terbukti menjadi instrumen nyata dalam mendukung peningkatan ekonomi nelayan sekaligus memperkuat praktik ekonomi biru di wilayah pesisir.