Kolaborasi Riset Ung Lahirkan Nano-Curheart Untuk Jantung Koroner
Gorontalo-Penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner karena penumpukan lemak, sehingga aliran darah ke jantung terganggu. Dampaknya dapat memicu nyeri dada, serangan jantung, hingga gagal jantung.
Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi riset yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama mitra akademik menghadirkan inovasi berbasis nanoteknologi bernama Nano-Curheart, sebagai alternatif terapi potensial untuk penyakit jantung koroner.
Inovasi ini berangkat dari pemanfaatan kurkumin, senyawa aktif utama dalam kunyit yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Meski memiliki potensi besar, kurkumin memiliki keterbatasan karena sulit larut dalam air dan rendahnya tingkat penyerapan dalam tubuh, sehingga efektivitas terapinya belum optimal.
Melalui kerja sama penelitian, tim peneliti yang dipimpin oleh Zulkifli B. Pomolango bersama akademisi dan mahasiswa bidang farmasi UNG, serta dukungan mitra dari Poltekkes Gorontalo, mengembangkan solusi melalui teknologi nanoemulsi. Penelitian ini dilaksanakan dalam skema Penelitian Fundamental Reguler dengan dukungan pendanaan DPPM Kemditisaintek tahun 2025.
Nano-Curheart dikembangkan dengan mengubah kurkumin menjadi partikel berukuran sangat kecil hingga skala nanometer. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan bioavailabilitas atau kemampuan senyawa untuk diserap tubuh, sehingga manfaat terapinya dapat lebih maksimal.
Dalam proses pengembangannya, kurkumin dikombinasikan dengan minyak pembawa dan komponen lain untuk membentuk nanoemulsi yang stabil dan homogen. Teknologi ini memungkinkan senyawa yang sebelumnya sulit larut menjadi lebih mudah didistribusikan dalam tubuh.
Untuk memastikan kualitas formulasi, tim peneliti menggunakan berbagai metode karakterisasi ilmiah modern, seperti Dynamic Light Scattering (DLS) untuk mengukur ukuran partikel, FTIR untuk analisis struktur kimia, UV-Vis untuk karakteristik optik, serta Transmission Electron Microscopy (TEM) untuk melihat morfologi partikel nano.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanoemulsi kurkumin yang dikembangkan memiliki stabilitas fisik yang baik, ukuran partikel dalam skala nanometer, serta distribusi yang homogen. Selain itu, efisiensi penjerapan (encapsulation efficiency) mencapai lebih dari 99 persen, menandakan bahwa hampir seluruh kurkumin berhasil diformulasikan secara optimal dalam sistem nanoemulsi.
Temuan ini menunjukkan bahwa Nano-Curheart memiliki potensi besar dalam meningkatkan kelarutan dan efektivitas kurkumin sebagai terapi pendukung penyakit jantung koroner.
Lebih jauh, penelitian ini juga memiliki arah pengembangan yang jelas, mulai dari tahap formulasi hingga rencana uji lanjutan guna memperkuat validasi ilmiah. Kolaborasi riset ini menjadi bukti bahwa sinergi antar institusi dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak luas.
Pengembangan Nano-Curheart mencerminkan bagaimana teknologi modern dapat berpadu dengan potensi bahan alam untuk menciptakan solusi kesehatan yang lebih efektif, aman, dan berkelanjutan. Ke depan, inovasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat dunia farmasi nasional, tetapi juga menunjukkan bahwa riset lokal mampu menjawab tantangan kesehatan global.

