Dosen Ung Implementasikan Kerja Sama Penelitian Untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Warga Hadapi Banjir
Gorontalo - Banjir bukan sekadar bencana yang merendam rumah dan jalan, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Risiko penyakit menular hingga kematian akibat tenggelam dan henti napas masih menjadi tantangan nyata, khususnya di Desa Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, yang hampir setiap tahun terdampak luapan Danau Limboto.
Melalui implementasi kerja sama penelitian, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama pemerintah desa dan tenaga kesehatan setempat melaksanakan program peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi berbasis riset yang tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga diterapkan langsung dalam bentuk edukasi dan pelatihan praktis bagi warga.
Penyakit Pascabanjir Masih Jadi Ancaman
Dalam implementasi kerja sama tersebut, tim peneliti mengidentifikasi tingginya risiko penyakit pascabanjir akibat air tercemar, sanitasi buruk, dan terbatasnya akses layanan kesehatan. Warga diberikan edukasi mengenai penyakit yang kerap muncul, seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, diare, infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, tetanus, hepatitis A, malaria, hingga tifoid.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan warga hingga 85 persen, terutama pada topik leptospirosis dan demam berdarah. Hal ini menandakan bahwa pendekatan kolaboratif berbasis penelitian mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap langkah pencegahan sejak dini.
Dari Riset ke Aksi: Pelatihan Penyelamatan Nyawa
Sebagai bagian dari implementasi hasil penelitian, kegiatan tidak berhenti pada edukasi teori. Tim dosen UNG menyelenggarakan mini workshop berbasis simulasi yang terbagi dalam tiga pos utama: penyelamatan korban tenggelam, manajemen evakuasi banjir, dan Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Pada pelatihan penyelamatan korban tenggelam, warga diperkenalkan pada prinsip “Reach–Throw–Don’t Go” untuk memastikan keselamatan penolong. Peserta juga dilatih melakukan penilaian kondisi korban dengan pendekatan ABCDE serta memahami bahwa kekurangan oksigen menjadi penyebab utama kematian pada kasus tenggelam.
Di pos evakuasi, warga dilatih menyiapkan tas siaga bencana (go-bag) serta memahami langkah aman sebelum, saat, dan setelah banjir, termasuk mematikan aliran listrik dan memilih jalur evakuasi yang tepat. Sementara itu, pada pelatihan BHD, peserta mempraktikkan teknik kompresi dada sesuai standar internasional dan menunjukkan kemampuan yang baik dalam penerapannya.
Kolaborasi Partisipatif Perkuat Ketahanan Desa
Pendekatan participatory action research (PAR) yang diterapkan dalam kerja sama penelitian ini mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan. Dengan model kolaboratif tersebut, proses transfer pengetahuan menjadi lebih efektif dan membangun kepercayaan diri warga dalam menghadapi situasi darurat.
Implementasi kerja sama ini menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan fasilitas layanan kesehatan mampu memperkuat ketahanan komunitas terhadap bencana. Ke depan, program serupa direncanakan berlangsung secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak kelompok masyarakat, termasuk lansia dan remaja, serta memperkuat koordinasi dengan puskesmas setempat.
Melalui implementasi kerja sama penelitian ini, dosen UNG tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata dalam membangun desa yang lebih tangguh menghadapi banjir dan risiko kesehatan yang menyertainya.
sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/Jpmf/article/view/36686/12670

