Implementasi Kerja Sama Penelitian: Mayoritas Pasien Gondok Di Gorontalo Didominasi Perempuan Usia Produktif
Gorontalo - Implementasi kerja sama penelitian di bidang kesehatan kembali memberikan gambaran penting terkait kondisi masyarakat di Gorontalo. Salah satu temuan terbaru menunjukkan bahwa penyakit gondok atau struma masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya karena mayoritas penderitanya berasal dari kelompok perempuan usia produktif.
Penyakit gondok merupakan gangguan pada kelenjar tiroid yang ditandai dengan pembesaran di bagian leher. Kelenjar tiroid sendiri memiliki peran vital dalam mengatur metabolisme tubuh, pertumbuhan, serta berbagai proses biologis lainnya melalui produksi hormon tiroid. Salah satu penyebab utama terjadinya gangguan ini adalah kurangnya asupan yodium dalam tubuh.
Melalui kerja sama penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Kota Gorontalo, diperoleh gambaran karakteristik pasien struma yang menjalani tindakan operasi tiroidektomi sepanjang tahun 2023. Penelitian dengan metode deskriptif retrospektif tersebut melibatkan 49 pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 79,6 persen pasien merupakan perempuan, sementara laki-laki hanya sekitar 20,4 persen. Temuan ini menegaskan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan tiroid. Faktor hormonal, khususnya hormon estrogen, diketahui berperan dalam meningkatkan kadar Thyroid Binding Globulin (TBG) yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon tiroid dalam tubuh.
Selain itu, penelitian juga mengungkap bahwa sebagian besar pasien berada pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit gondok tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga individu yang masih aktif bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Kondisi ini tentu berpotensi memengaruhi produktivitas serta kualitas hidup masyarakat.
Dari sisi lingkungan, mayoritas pasien diketahui berasal dari wilayah non-pesisir, yaitu sekitar 81,6 persen. Wilayah ini umumnya memiliki keterbatasan akses terhadap sumber makanan kaya yodium, seperti hasil laut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa faktor geografis turut berkontribusi terhadap tingginya kasus gondok di daerah tersebut.
Selain faktor lingkungan, pola konsumsi masyarakat juga menjadi perhatian. Masih banyak rumah tangga yang belum menggunakan garam beryodium, padahal hal ini merupakan langkah sederhana namun efektif dalam mencegah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya asupan yodium menjadi salah satu tantangan dalam upaya pencegahan.
Secara klinis, sebagian besar pasien dalam penelitian ini berada pada kondisi eutiroid, yakni kadar hormon tiroid masih dalam batas normal meskipun terjadi pembesaran kelenjar. Jenis struma yang paling banyak ditemukan adalah nodosa non-toksik. Dalam penanganannya, tindakan operasi seperti tiroidektomi menjadi salah satu pilihan, dengan prosedur isthmolobektomi sebagai tindakan yang paling sering dilakukan.
Temuan dari implementasi kerja sama penelitian ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan sejak dini. Konsumsi garam beryodium secara rutin, peningkatan edukasi kesehatan, serta keterlibatan berbagai pihak menjadi langkah strategis untuk menekan angka kejadian gondok di masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan yodium dan pola hidup sehat, diharapkan risiko gangguan tiroid dapat diminimalkan. Upaya ini tidak hanya berdampak pada penurunan kasus gondok, tetapi juga pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan di Gorontalo.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/gojhes/article/view/29119/9996

