Kerja Sama Penelitian: Peneliti Ung Ungkap Mitos Penularan Tb Masih Dipercaya Masyarakat Gorontalo
Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui implementasi berbagai kerja sama penelitian. Salah satu hasil kolaborasi tersebut mengungkap bahwa pemahaman masyarakat mengenai tuberkulosis (TB) masih diwarnai oleh berbagai mitos yang berpotensi menghambat upaya pengendalian penyakit.
Tuberkulosis hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian serius, baik di tingkat nasional maupun global. Indonesia bahkan menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian TB tidak hanya bergantung pada ketersediaan layanan kesehatan dan pengobatan, tetapi juga pada tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut.
Melalui implementasi kerja sama penelitian, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo melakukan kajian mengenai persepsi masyarakat terhadap tuberkulosis di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun masyarakat telah memiliki pengetahuan dasar mengenai TB, masih terdapat berbagai kesalahpahaman terkait cara penularan penyakit tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 50 responden, sebanyak 54 persen memiliki tingkat pengetahuan pada kategori cukup, 38 persen berada pada kategori baik, sedangkan 8 persen masih memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat telah mengenal TB, namun pemahaman yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan informasi medis yang benar.
Penelitian ini menemukan bahwa sejumlah responden masih mempercayai mitos bahwa tuberkulosis dapat menular melalui penggunaan alat makan secara bersama, berjabat tangan, maupun kontak sosial biasa. Bahkan, masih terdapat anggapan bahwa penderita TB sebaiknya dijauhi untuk mencegah penularan.
Padahal, secara medis, tuberkulosis paru ditularkan melalui percikan droplet yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan melalui penggunaan sendok, piring, ataupun kontak fisik biasa. Kesalahpahaman tersebut berpotensi melahirkan stigma terhadap penderita TB yang berdampak pada pengucilan sosial, rasa malu, hingga keengganan pasien untuk memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas pemahaman masyarakat mengenai tuberkulosis. Sebanyak 66 persen responden berasal dari kelompok pendidikan rendah, mulai dari tidak pernah bersekolah hingga tingkat SMP. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat literasi kesehatan masyarakat dalam memahami informasi mengenai pencegahan maupun penularan TB.
Melalui hasil penelitian ini, tim peneliti menilai bahwa edukasi kesehatan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih efektif dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Penyampaian informasi tidak cukup hanya melalui pendekatan formal, tetapi perlu memanfaatkan media visual, video edukatif, kampanye berbasis komunitas, hingga penggunaan bahasa daerah agar pesan kesehatan dapat diterima secara lebih luas.
Implementasi kerja sama penelitian ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata Universitas Negeri Gorontalo dalam mendukung program eliminasi tuberkulosis, khususnya melalui penyediaan data ilmiah yang dapat menjadi dasar penyusunan strategi edukasi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Melalui penelitian ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa penderita tuberkulosis bukanlah ancaman yang harus dijauhi, melainkan pasien yang membutuhkan pengobatan, dukungan keluarga, dan lingkungan yang kondusif agar dapat sembuh secara optimal. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat serta berkurangnya stigma terhadap penderita TB, upaya pengendalian tuberkulosis di Gorontalo maupun Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih efektif menuju target eliminasi TB di masa mendatang.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jnj/article/view/35970

