Berita

Blog Image

Implementasi Kerja Sama Riset Jadi Langkah Strategis Ungkap Buruknya Sanitasi Dasar Jadi Pemicu Utama Diare Balita

Gorontalo-Implementasi kerja sama riset antara akademisi dan pemangku kepentingan kesehatan menjadi langkah strategis dalam mengungkap berbagai persoalan kesehatan masyarakat yang masih terjadi di lingkungan rumah tangga. Salah satu hasil riset terbaru menunjukkan bahwa buruknya sanitasi dasar menjadi faktor utama yang memicu tingginya kejadian diare pada anak bawah lima tahun (balita).

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan melalui penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara, Kota Gorontalo. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi adanya hubungan yang sangat kuat antara kondisi sanitasi dasar rumah tangga yang tidak memenuhi standar kesehatan dengan meningkatnya risiko diare pada balita.

Diare hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian anak di negara berkembang, termasuk Indonesia. Balita merupakan kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang secara optimal serta tingginya ketergantungan terhadap kualitas lingkungan tempat mereka tumbuh dan diasuh.

Melalui penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, tim peneliti melakukan observasi langsung terhadap kondisi sanitasi rumah tangga serta wawancara terstruktur kepada para ibu yang memiliki balita. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai signifikansi yang sangat kuat (p=0,000), yang mengindikasikan bahwa kelayakan sanitasi dasar memiliki keterkaitan erat dengan kejadian diare pada balita.

Hasil penelitian memetakan sejumlah persoalan mendasar yang masih ditemukan di lingkungan masyarakat. Salah satunya adalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal. Hanya sekitar 62 persen keluarga yang memiliki sistem pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan, sementara sisanya masih menggunakan tempat sampah terbuka yang berpotensi menjadi sarang lalat dan vektor penyakit lainnya.

Selain itu, kepatuhan terhadap perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) juga masih perlu ditingkatkan. Penelitian menemukan bahwa hanya 74 persen responden yang menerapkan CTPS secara konsisten sebelum memberi makan anak maupun setelah menggunakan toilet.

Peneliti menjelaskan bahwa buruknya sanitasi dasar dapat memicu diare melalui jalur transmisi fekal-oral. Tempat sampah terbuka, misalnya, dapat menjadi lokasi berkembang biaknya lalat yang membawa berbagai bakteri penyebab diare seperti Escherichia coli dan Salmonella. Bakteri tersebut kemudian dapat mencemari makanan maupun peralatan makan balita.

Di sisi lain, kebiasaan tidak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan atau menyuapi anak turut meningkatkan risiko perpindahan mikroorganisme patogen ke dalam saluran pencernaan balita. Risiko tersebut semakin besar apabila kondisi saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan jamban keluarga tidak memenuhi standar kesehatan sehingga berpotensi mencemari sumber air bersih yang digunakan sehari-hari.

Sebagai tindak lanjut dari hasil riset tersebut, implementasi kerja sama antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk memperkuat program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dasar sebagai langkah preventif dalam mencegah penyakit diare pada anak.

Beberapa upaya yang direkomendasikan meliputi penyediaan tempat sampah tertutup di setiap rumah tangga, penguatan edukasi mengenai lima waktu penting CTPS, serta perbaikan sarana sanitasi seperti jamban sehat, septic tank yang memenuhi standar, dan saluran pembuangan limbah yang tertutup.

Hasil penelitian ini menjadi bukti bahwa implementasi kerja sama riset tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga menjadi dasar dalam merumuskan strategi intervensi kesehatan yang lebih efektif. Melalui sinergi berbagai pihak, upaya peningkatan kualitas sanitasi dasar di lingkungan rumah tangga diharapkan mampu menurunkan angka kejadian diare pada balita sekaligus mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat di masa depan.

 

Sumber: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/2969/2593