Lewat Kerja Sama Penelitian: Peneliti Ung Ungkap Gondok Masih Mengintai Perempuan Usia Produktif
Gorontalo-Kerja sama penelitian yang dilakukan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe berhasil mengungkap fakta penting mengenai penyakit struma atau gondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan pembesaran kelenjar tiroid tersebut masih menjadi ancaman kesehatan, terutama bagi perempuan usia produktif yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit ini.
Penelitian yang menganalisis karakteristik pasien struma pascaoperasi tiroidektomi di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe tersebut menjadi pengingat bahwa gondok bukan sekadar benjolan di leher. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat mengganggu metabolisme tubuh, menyebabkan gangguan hormonal, hingga memerlukan tindakan operasi.
Secara global, sekitar 200 juta orang mengalami struma akibat kekurangan yodium. Kondisi tersebut masih menjadi persoalan kesehatan di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Melalui kerja sama penelitian ini, tim peneliti UNG menemukan bahwa dari 49 pasien struma pasca tiroidektomi yang dianalisis, sebanyak 79,6 persen merupakan perempuan. Artinya, hampir delapan dari sepuluh pasien yang menjalani operasi gondok adalah wanita.
Temuan tersebut memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kelenjar tiroid dibandingkan laki-laki. Secara biologis, hormon estrogen berperan dalam memengaruhi metabolisme hormon tiroid. Estrogen dapat meningkatkan kadar thyroid-binding globulin (TBG), sehingga memengaruhi keseimbangan hormon tiroid dalam darah dan memicu pembesaran kelenjar sebagai mekanisme kompensasi tubuh.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berada pada usia produktif hingga pra-lansia. Kelompok usia 36–45 tahun dan 56–65 tahun masing-masing menyumbang 20,4 persen dari seluruh kasus. Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan tiroid tidak hanya dialami kelompok lanjut usia, tetapi juga dapat menyerang masyarakat yang masih aktif bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Fakta lain yang menarik, sebanyak 81,6 persen pasien justru berasal dari wilayah nonpesisir. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemenuhan asupan yodium, khususnya melalui konsumsi garam beryodium, masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. Selama ini masyarakat cenderung menganggap wilayah pesisir lebih rentan terhadap gangguan tiroid, padahal penelitian ini menunjukkan sebaliknya.
Penelitian juga menemukan bahwa 87,8 persen pasien berada dalam kondisi eutiroid, yakni kadar hormon tiroid masih berada dalam batas normal meskipun terjadi pembesaran kelenjar. Kondisi ini menyebabkan banyak penderita tidak menyadari penyakitnya karena gejala yang muncul sering kali tidak khas.
Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri ketika benjolan di leher sudah membesar, mengganggu proses menelan, mengubah suara, atau menimbulkan keluhan yang memengaruhi penampilan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini agar penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.
Dari sisi jenis penyakit, penelitian menunjukkan bahwa struma nodosa non-toksik menjadi kasus yang paling banyak ditemukan, yakni mencapai 65,3 persen. Pada kondisi ini, pembesaran kelenjar tiroid belum menyebabkan produksi hormon secara berlebihan, sehingga keputusan terapi ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinis, ultrasonografi (USG), maupun biopsi.
Sementara itu, tindakan operasi yang paling banyak dilakukan adalah isthmolobektomi atau pengangkatan sebagian kelenjar tiroid, yang diterapkan pada 57,1 persen pasien. Prosedur ini umumnya dipilih ketika pembesaran tiroid bersifat jinak namun terus berkembang atau mulai menimbulkan gangguan bagi pasien.
Hasil kerja sama penelitian ini memberikan pesan penting bahwa edukasi mengenai kesehatan tiroid perlu semakin diperkuat. Selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada penyakit jantung, diabetes, maupun kanker, sementara gangguan tiroid masih relatif kurang mendapat perhatian.
Padahal, pencegahan gondok dapat dilakukan melalui langkah sederhana, seperti memastikan konsumsi garam beryodium, memenuhi kebutuhan nutrisi harian, serta segera memeriksakan diri apabila muncul benjolan atau perubahan pada leher. Melalui hasil penelitian ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat semakin memahami bahwa gondok bukan sekadar pembengkakan di leher, melainkan dapat menjadi indikator adanya gangguan hormonal, kekurangan nutrisi, bahkan risiko keganasan yang membutuhkan penanganan medis. Menjaga kesehatan tiroid pada akhirnya merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme dan kualitas hidup masyarakat.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/gojhes/article/view/29119/9996

