Perkuat Kolaborasi Riset Internasional: Dosen Ung Presentasikan Hasil Penelitian Di Forum Akademik Republik Ceko
Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat jejaring dan kolaborasi riset di tingkat internasional melalui kiprah dosennya dalam berbagai forum akademik global. Salah satunya ditunjukkan oleh Dosen Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, Rahmatan Idul, yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di Leiden University, Belanda.
Rahmatan berkesempatan mempresentasikan hasil risetnya dalam The 19th Annual Conference on Asian Studies yang berlangsung di Palacký University Olomouc, Republik Ceko. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkenalkan kekayaan bahasa daerah Indonesia dalam diskursus linguistik internasional.
Dalam forum akademik tersebut, Rahmatan mengangkat kajian mengenai bahasa-bahasa daerah di Indonesia, khususnya bahasa yang dituturkan di wilayah Sulawesi. Penelitiannya menyoroti tantangan keragaman bahasa daerah terhadap teori dan metode analisis metafora yang selama ini banyak dikembangkan berdasarkan bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Indo-Eropa.
Salah satu fokus utama penelitian tersebut adalah bahasa Muna. Melalui kajiannya, Rahmatan menunjukkan bahwa makna figuratif dalam bahasa tidak semata-mata dibentuk melalui pilihan kata atau unsur leksikal. Makna juga dapat lahir melalui struktur gramatikal, hubungan antara bentuk dan makna, konteks budaya, praktik sosial, tradisi lisan, hingga cara masyarakat memaknai pengalaman hidup.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa teori metafora yang telah berkembang dan dianggap mapan tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada seluruh bahasa di dunia. Setiap bahasa memiliki karakteristik struktur dan latar budaya yang berbeda sehingga membutuhkan pengujian dan pendekatan yang sesuai dengan konteks masyarakat penuturnya.
“Bahasa daerah memiliki struktur dan latar budaya yang khas. Karena itu, teori dan metode analisis metafora perlu diuji kembali ketika diterapkan pada bahasa-bahasa yang memiliki karakteristik berbeda,” ungkap Rahmatan.
Menurutnya, penelitian terhadap bahasa daerah tidak hanya penting dalam konteks dokumentasi, pelestarian, dan revitalisasi, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas. Bahasa daerah dapat menjadi sumber data ilmiah untuk menguji, memperkaya, bahkan membuka peluang pengembangan teori-teori linguistik baru.
Bahasa Muna, misalnya, memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun makna melalui perpaduan antara bahasa, budaya, pengalaman, dan tradisi. Ungkapan figuratif yang digunakan masyarakat tidak selalu dapat dipahami hanya dengan melihat bentuk kebahasaannya, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.
Perspektif tersebut membuka ruang bagi para linguis untuk melihat kembali berbagai konsep dan teori yang selama ini berkembang dengan menggunakan data dari bahasa-bahasa tertentu. Keragaman bahasa di Indonesia justru dapat menjadi sumber pembanding penting dalam mengembangkan pemahaman yang lebih luas mengenai bahasa dan makna.
Keikutsertaan Rahmatan dalam konferensi internasional di Republik Ceko sekaligus memperkuat posisi UNG dalam membangun koneksi akademik dan kolaborasi riset dengan institusi pendidikan tinggi di luar negeri. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan antara peneliti dari berbagai negara serta membuka peluang pengembangan kerja sama akademik yang lebih luas.
Kiprah tersebut juga menghasilkan peluang kolaborasi lanjutan. Setelah mengikuti konferensi, Rahmatan mendapat undangan untuk mengembangkan gagasan penelitiannya menjadi salah satu bab dalam bunga rampai akademik bertema Truths, Tensions, and Technologies in Asia yang akan diterbitkan oleh Palacký University Press.
Tulisan tersebut akan dikembangkan bersama dua supervisor doktoralnya di Leiden University, yakni Prof. Marian Klamer dan Dr. Aletta Dorst. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari pengembangan riset Rahmatan sekaligus memperluas jangkauan kajian mengenai bahasa-bahasa daerah Indonesia ke komunitas akademik internasional.
Melalui keterlibatan dalam forum dan publikasi akademik internasional tersebut, Rahmatan tidak hanya membawa nama UNG dalam ruang akademik global, tetapi juga memperkenalkan kekayaan linguistik dan budaya Indonesia, khususnya dari kawasan tengah dan timur Indonesia.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa setiap bahasa menyimpan cara pandang masyarakat penuturnya dalam memahami dunia. Di balik sebuah ungkapan figuratif terdapat pengalaman, nilai, pengetahuan, tradisi, hingga cara masyarakat memandang kehidupan.
Dengan demikian, penelitian bahasa daerah tidak hanya berarti mempelajari sistem bahasa, tetapi juga membuka jalan untuk memahami cara manusia berpikir, merasakan, dan memaknai realitas melalui bahasa. Kehadiran riset-riset semacam ini di forum akademik internasional menjadi salah satu bentuk kontribusi UNG dalam memperluas kolaborasi riset sekaligus memperkuat kontribusi akademik Indonesia dalam perkembangan ilmu pengetahuan global.

