Melalui Kerja Sama Strategis, Peneliti Ung Ungkap Faktor Lingkungan Di Balik Dominasi Junk Food Di Sekolah Dasar Kabupaten Gorontalo
Gorontalo – Bel sekolah berbunyi, dan dalam sekejap siswa kelas V dan VI bergegas keluar kelas. Namun, yang mereka tuju bukan hanya ruang bermain, melainkan deretan jajanan cepat saji di sekitar sekolah. Fenomena ini kini menjadi perhatian serius setelah penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap dominasi junk food dalam pola konsumsi anak sekolah dasar.
Penelitian yang dilaksanakan melalui kerja sama strategis dengan pihak sekolah dan pemangku kepentingan kesehatan di Kabupaten Gorontalo ini melibatkan 107 siswa SD. Hasilnya menunjukkan bahwa junk food bukan lagi sekadar jajanan selingan, melainkan telah menjadi bagian dari pola makan harian anak-anak.
Mengapa Anak Sulit Lepas dari Junk Food?
Riset tersebut mengidentifikasi beberapa faktor lingkungan yang membentuk perilaku konsumsi anak:
- Pengaruh Teman Sebaya
Faktor ini menjadi yang paling dominan. Anak cenderung mengikuti kebiasaan kelompoknya. Jika teman-temannya mengonsumsi junk food, maka perilaku tersebut dianggap wajar bahkan “keren”. - Paparan Iklan dan Media
Iklan yang masif membentuk persepsi positif terhadap makanan cepat saji. Anak tidak hanya tertarik pada rasa, tetapi juga citra dan visual yang ditawarkan. - Lingkungan Rumah dan Kondisi Ekonomi
Kebiasaan makan di rumah turut memengaruhi pilihan anak di sekolah. Pola konsumsi instan dalam keluarga dapat terbawa hingga ke lingkungan pendidikan.
Risiko 20 Kali Lipat karena Akses Mudah
Temuan paling mencolok dalam studi ini adalah faktor kemudahan akses. Anak yang berada di lingkungan sekolah dengan akses mudah terhadap junk food memiliki risiko 20,412 kali lebih besar untuk mengonsumsi makanan tidak sehat.
Lingkungan sekolah yang dipenuhi pedagang makanan siap saji dengan harga terjangkau dan tampilan menarik menciptakan situasi “terkepung” bagi anak. Tanpa penguatan literasi gizi, pilihan sehat menjadi semakin tersisih.
Rekomendasi: Kolaborasi Jadi Kunci
Sebagai bagian dari implementasi kerja sama strategis, hasil penelitian ini mendorong perlunya sinergi lintas sektor. Sekolah bersama Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengintegrasikan edukasi gizi dalam kurikulum maupun kegiatan berbasis kelompok sebaya. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat regulasi jajanan sehat serta pengawasan lingkungan sekolah.
Di sisi lain, orang tua memegang peran fundamental sebagai pendidik pertama dalam membentuk kebiasaan makan sehat anak.
Penelitian ini menegaskan bahwa persoalan junk food bukan semata soal pilihan individu, melainkan hasil interaksi kompleks antara lingkungan sosial, akses, dan budaya konsumsi. Dengan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, dan keluarga, upaya membangun generasi sehat dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Sumber: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2365

