Perkuat Mitigasi Bencana: Pkm-Pm Huyula Gandeng Bpbd Dan Tbm Cutaneus Ung Bekali Anak Pesisir Tanjung Kramat Kesiapsiagaan Bencana
Gorontalo-Upaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat pesisir terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HUYULA Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gorontalo dan Tim Bantuan Medis (TBM) Cutaneus FK UNG dalam membekali anak-anak pesisir Tanjung Kramat dengan keterampilan menghadapi situasi bencana.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Huyula Siaga Mission: Simulasi Bencana PKM-PM HUYULA” yang dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di SDN 44 Hulonthalangi, Kelurahan Tanjung Kramat, Kota Gorontalo. Kegiatan ini menjadi pertemuan ke-15 dalam rangkaian program PKM-PM HUYULA, setelah sebelumnya para peserta mengikuti 14 kali pertemuan yang berfokus pada edukasi dan penguatan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana.
PKM-PM HUYULA merupakan salah satu program yang berhasil memperoleh hibah nasional tahun 2026 melalui judul “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai.” Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan anak-anak pesisir dalam menghadapi potensi bencana melalui pendekatan edukasi yang interaktif, kontekstual, dan dekat dengan lingkungan kehidupan mereka.
Memasuki tahap simulasi, peserta tidak lagi hanya menerima materi, tetapi ditantang untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam situasi yang menyerupai kondisi kebencanaan. Sebanyak 20 anak mitra PKM-PM HUYULA menjadi fokus utama dalam pengamatan keterampilan kesiapsiagaan.
Dalam simulasi tersebut, peserta dinilai berdasarkan kemampuan merespons situasi bencana, mengikuti prosedur evakuasi, bekerja sama dengan peserta lain, serta menerapkan langkah-langkah penyelamatan yang telah dipelajari selama rangkaian program. Skenario simulasi dirancang menyerupai situasi gempa bumi, sehingga anak-anak memperoleh pengalaman praktis dalam menghadapi kondisi darurat.
Kegiatan berlangsung secara kolaboratif dengan melibatkan BPBD Kota Gorontalo, volunteer Fakultas Kedokteran UNG yang berkolaborasi dengan Jurusan Ilmu Lingkungan, serta TBM Cutaneus FK UNG. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran mitigasi bencana yang lebih aplikatif sekaligus memperkenalkan kepada anak-anak pentingnya kerja sama ketika menghadapi situasi darurat.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi kesiapsiagaan bencana oleh BPBD Kota Gorontalo. Peserta kemudian diarahkan mengikuti tahapan simulasi dan mempraktikkan prosedur penyelamatan yang sebelumnya telah diperoleh melalui sesi edukasi PKM-PM HUYULA.
Ketua Tim PKM-PM HUYULA, Nurul Fauziah Sabir, menjelaskan bahwa simulasi menjadi tahapan penting untuk mengetahui sejauh mana materi yang diberikan selama program dapat diterapkan oleh peserta.
“Kami ingin melihat bukan hanya seberapa jauh anak-anak memahami materi, tetapi juga bagaimana mereka mampu menerapkannya ketika berada dalam situasi bencana. Melalui simulasi ini, kami berharap kesiapsiagaan yang dibangun selama rangkaian program dapat menjadi keterampilan yang bisa digunakan oleh anak-anak,” ujarnya.
Menurutnya, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Anak-anak membutuhkan pengalaman langsung agar dapat memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Dengan adanya praktik dan simulasi, anak-anak dapat belajar mengambil keputusan, mengikuti prosedur evakuasi, serta memahami pentingnya bekerja sama ketika terjadi bencana,” tambahnya.
Pelaksanaan Huyula Siaga Mission juga menjadi bentuk penerapan nilai huyula, yaitu semangat gotong royong yang menjadi salah satu nilai sosial masyarakat Gorontalo. Nilai tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara mahasiswa, BPBD, tenaga medis, volunteer, dan anak-anak dalam menghadapi skenario kebencanaan.
Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, hingga masyarakat, untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai penerima edukasi, tetapi juga sebagai peserta aktif yang terlibat langsung dalam simulasi. Mereka diberikan ruang untuk mempraktikkan keterampilan, bekerja sama, mengikuti arahan, dan merespons skenario bencana berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh.
Melalui kolaborasi PKM-PM HUYULA FK UNG bersama BPBD Kota Gorontalo dan TBM Cutaneus FK UNG, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas anak-anak pesisir Tanjung Kramat dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun generasi pesisir yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang kebencanaan, tetapi juga mampu siap, tanggap, bekerja sama, dan mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat. Dengan demikian, edukasi dan simulasi yang dilakukan dapat menjadi fondasi bagi penguatan budaya mitigasi bencana sejak usia dini di wilayah pesisir Tanjung Kramat.

