Berita

Blog Image

Melalui Implementasi Kerja Sama Riset, Peneliti Ung Jelaskan Peran Pengetahuan Ibu Dalam Menentukan Gizi Anak Prasekolah

Gorontalo - Melalui implementasi kerja sama riset di bidang kesehatan masyarakat, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjelaskan pentingnya peran pengetahuan ibu dalam menentukan status gizi anak prasekolah. Kajian ini menegaskan bahwa kualitas gizi anak usia 3–6 tahun tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, tetapi sangat bergantung pada pemahaman ibu mengenai prinsip gizi seimbang.

Masalah gizi pada anak prasekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada rentang usia ini, anak mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang pesat, sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Kekurangan maupun kelebihan gizi dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas anak di masa depan.

Penelitian yang dilaksanakan di Desa Isimu Selatan, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, menjadi bagian dari implementasi kolaborasi riset yang berfokus pada penguatan peran keluarga dalam pencegahan masalah gizi. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi anak prasekolah.

Ibu sebagai Penentu Pola Makan

Dalam kehidupan keluarga, ibu memegang peran sentral sebagai pengasuh utama. Mulai dari memilih bahan makanan, mengolah, hingga menentukan porsi dan frekuensi makan, sebagian besar keputusan terkait konsumsi anak berada di tangan ibu. Karena itu, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi menjadi faktor kunci dalam memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara tepat.

Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh responden memiliki tingkat pengetahuan gizi dalam kategori baik. Hal ini mencerminkan adanya pemahaman dasar mengenai pentingnya variasi makanan, keseimbangan zat gizi, serta peran gizi dalam menunjang tumbuh kembang anak.

Antara Gizi Baik dan Tantangan Tersembunyi

Sebagian besar anak prasekolah dalam penelitian ini memiliki status gizi baik. Namun, masih ditemukan kasus gizi kurang, gizi lebih, hingga obesitas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan kekurangan asupan, tetapi juga ketidakseimbangan pola makan.

Konsumsi makanan tinggi kalori namun rendah zat gizi, seperti makanan instan dan jajanan berlebihan, berpotensi memicu masalah gizi meskipun anak terlihat cukup makan. Kondisi ini menegaskan pentingnya kualitas asupan, bukan sekadar kuantitas.

Hubungan Ilmiah yang Signifikan

Analisis statistik dalam penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi anak prasekolah. Artinya, semakin baik tingkat pengetahuan ibu, semakin besar peluang anak memiliki status gizi optimal.

Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan perilaku pengasuhan. Ibu dengan pengetahuan gizi yang baik cenderung lebih selektif dalam memilih bahan pangan, menyusun menu seimbang, serta mengatur jadwal makan anak secara teratur. Sebaliknya, keterbatasan pengetahuan dapat berujung pada praktik pemberian makan yang kurang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Perlu Dukungan Sistemik

Meski demikian, peneliti UNG menegaskan bahwa pengetahuan ibu tidak berdiri sendiri. Faktor sosial ekonomi, tingkat pendapatan keluarga, serta keterbatasan waktu pengasuhan-terutama bagi ibu bekerja-turut memengaruhi kemampuan keluarga dalam menerapkan pola makan sehat.

Karena itu, peningkatan pengetahuan perlu dibarengi dukungan lingkungan, termasuk akses terhadap pangan bergizi, penguatan layanan kesehatan, serta edukasi berkelanjutan melalui posyandu dan puskesmas.

Edukasi sebagai Investasi Masa Depan

Melalui implementasi kerja sama riset ini, peneliti UNG merekomendasikan penguatan program edukasi gizi berbasis komunitas sebagai strategi preventif jangka panjang. Edukasi yang mudah dipahami, sesuai konteks lokal, dan berkelanjutan dinilai mampu meningkatkan kesadaran keluarga dalam menjaga kualitas gizi anak.

Anak dengan status gizi yang baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Dengan demikian, peningkatan pengetahuan ibu bukan hanya berdampak pada kesehatan individu anak, tetapi juga menjadi investasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjft/article/view/36713/12445