Melalui Kerja Sama Strategis, Ung Ciptakan “Dokter Digital” Untuk Petani Jagung
Gorontalo- Ancaman kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit masih menjadi tantangan serius bagi petani jagung. Keterbatasan jumlah penyuluh lapangan serta minimnya akses informasi kerap menyebabkan kesalahan diagnosis dan penanganan, yang berujung pada turunnya produktivitas bahkan gagal panen.
Menjawab persoalan tersebut, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui kerja sama strategis dengan mitra sektor pertanian mengembangkan inovasi berbasis teknologi berupa Sistem Informasi Pertanian (SIP). Aplikasi berbasis Android ini dirancang sebagai sistem pakar deteksi dini hama dan penyakit tanaman jagung yang berfungsi layaknya “dokter digital” bagi petani.
Tim peneliti UNG yang dipimpin oleh Mohamad Lihawa mengembangkan aplikasi ini sebagai solusi atas kebutuhan petani terhadap alat bantu diagnosis yang cepat, akurat, dan mudah digunakan. Inovasi ini menjadi wujud implementasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan di bidang pertanian dalam menghadirkan teknologi tepat guna.
Diagnosis Akurat Semudah Memilih Gambar
SIP dirancang dengan tampilan sederhana dan intuitif agar dapat digunakan langsung oleh petani di lapangan. Pengguna cukup mengamati gejala fisik pada tanaman jagung, kemudian membuka aplikasi dan memilih fitur “mulai konsultasi”.
Proses konsultasi dilakukan secara visual. Petani membandingkan kondisi tanaman dengan gambar gejala yang tersedia dalam aplikasi, lalu memilih jawaban “Ya” atau “Tidak” sesuai pengamatan. Berdasarkan pilihan tersebut, sistem akan memproses dan menampilkan hasil diagnosis secara otomatis.
Tahapan penggunaan aplikasi meliputi:
- Menu Utama, sebagai navigasi awal pengguna.
- Form Deteksi/Konsultasi, yang menampilkan gambar gejala untuk dipilih.
- Form Hasil Deteksi, yang menyajikan diagnosis lengkap beserta penyebab, deskripsi, karakteristik serangan, hingga rekomendasi penanganan.
Output yang diberikan bersifat komprehensif, sehingga petani tidak hanya mengetahui jenis hama atau penyakit, tetapi juga memperoleh panduan penanggulangan yang tepat.
Menjembatani Kesenjangan Informasi
Menurut Mohamad Lihawa, pengembangan SIP bertujuan menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademik dan praktik pertanian di lapangan. Melalui kerja sama strategis ini, teknologi kampus dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya petani jagung.
“Dengan aplikasi ini, proses identifikasi serangan hama dan penyakit dapat dilakukan secara cepat dan lebih akurat hanya melalui perbandingan visual. Kami ingin memastikan petani memiliki akses informasi yang setara dan mudah dijangkau,” jelasnya.
Kehadiran “dokter digital” ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi waktu, mengurangi kesalahan pengelolaan tanaman, serta menekan risiko gagal panen. Inovasi tersebut menjadi bukti nyata komitmen UNG dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui kerja sama strategis yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah.

