Berita

Blog Image

Dari Kerja Sama Ke Inovasi: Peneliti Ung Kembangkan Pemanfaatan Daun Pandan Untuk Perawatan Luka Bakar

Gorontalo-Implementasi kerja sama penelitian yang dijalin oleh para akademisi terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu wujud nyata kolaborasi tersebut ditunjukkan melalui penelitian yang mengembangkan pemanfaatan daun pandan (Pandanus amaryllifolius) sebagai bahan alami untuk membantu penyembuhan luka bakar.

Selama ini daun pandan lebih dikenal sebagai tanaman yang digunakan untuk memberikan aroma khas pada berbagai makanan dan minuman tradisional. Namun, melalui sinergi penelitian yang melibatkan dosen dan mahasiswa, tanaman yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat ini berhasil dikaji lebih jauh potensinya dalam bidang kesehatan.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Melalui kolaborasi riset yang terbangun, tim peneliti mengembangkan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu proses penyembuhan luka bakar.

Kolaborasi Riset Menghasilkan Inovasi Berbasis Potensi Lokal

Penelitian ini menjadi contoh bagaimana kerja sama dalam bidang riset dapat mendorong lahirnya inovasi berbasis sumber daya lokal. Berangkat dari kekayaan hayati Indonesia yang melimpah, para peneliti berupaya mengembangkan alternatif bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh untuk mendukung perawatan luka.

Luka bakar merupakan salah satu jenis cedera yang cukup sering terjadi, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada luka bakar derajat dua, kerusakan jaringan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya sehingga membutuhkan penanganan yang tepat untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.

Melalui kerja sama penelitian ini, daun pandan dipilih sebagai objek kajian karena diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung regenerasi jaringan kulit.

Mengembangkan Gel Daun Pandan untuk Perawatan Luka Bakar

Dalam penelitian tersebut, ekstrak etanol 70 persen daun pandan diformulasikan menjadi sediaan gel topikal dengan tiga variasi konsentrasi, yakni 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.

Setiap formulasi kemudian diuji untuk mengetahui kualitas dan kestabilannya melalui berbagai parameter, seperti tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan penyimpanan pada kondisi suhu yang berbeda.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki karakteristik fisik yang baik dan stabil sehingga memenuhi kriteria dasar sebagai sediaan gel untuk aplikasi pada kulit. Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan produk farmasi berbasis bahan alam.

Aman dan Berpotensi Mendukung Penyembuhan Luka

Aspek keamanan menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Oleh karena itu, tim peneliti melakukan uji iritasi untuk mengetahui respons kulit terhadap formulasi gel yang dikembangkan.

Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki tingkat kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa gel ekstrak daun pandan memiliki potensi dalam membantu proses penyembuhan luka bakar. Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen memperlihatkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi dengan konsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.

Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak daun pandan dapat meningkatkan efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.

Kandungan Bioaktif dan Aktivitas Antibakteri

Potensi daun pandan dalam membantu penyembuhan luka diduga berasal dari kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya, seperti flavonoid, tanin, dan polifenol. Senyawa-senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang berperan penting dalam proses perbaikan jaringan.

Aktivitas antioksidan membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, sementara sifat antiinflamasi dapat membantu mengurangi peradangan yang muncul selama proses penyembuhan luka.

Tidak hanya itu, penelitian juga menemukan bahwa gel ekstrak daun pandan mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, dua bakteri yang sering dikaitkan dengan infeksi pada luka. Aktivitas antibakteri tersebut memberikan nilai tambah bagi pengembangan produk perawatan luka berbasis bahan alam.

Mendorong Hilirisasi Hasil Kerja Sama Penelitian

Meskipun masih berada pada tahap praklinis, hasil penelitian ini menunjukkan potensi besar pemanfaatan daun pandan sebagai bahan dasar produk kesehatan di masa depan. Temuan tersebut juga menjadi bukti bahwa implementasi kerja sama riset tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi mampu melahirkan inovasi yang berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ke depan, penelitian lanjutan masih diperlukan, termasuk pengujian klinis dan evaluasi keamanan jangka panjang. Namun demikian, studi ini membuka peluang bagi pengembangan produk farmasi berbasis kekayaan hayati lokal sekaligus mendorong hilirisasi hasil penelitian menuju inovasi yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, daun pandan yang selama ini identik dengan dunia kuliner kini menunjukkan potensi baru sebagai bahan alami yang dapat mendukung perawatan luka bakar. Sebuah langkah inovatif yang lahir dari kerja sama penelitian dan pemanfaatan sumber daya lokal Indonesia.

 

Sumber: https://tjnpr.org/index.php/home/article/view/8043