Lewat Implementasi Kerja Sama: Dosen Ung Temukan Tingginya Kasus Suspek Batu Empedu
Gorontalo - Implementasi kerja sama penelitian di Gorontalo kembali menghasilkan temuan penting di bidang kesehatan. Seorang dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap tingginya kasus suspek batu empedu (kolelitiasis) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo.
Penelitian ini merupakan bagian dari kolaborasi riset yang bertujuan mengkaji berbagai faktor risiko penyakit metabolik di daerah. Menggunakan metode kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional), penelitian melibatkan 91 pasien yang menjalani pemeriksaan terkait kolelitiasis sepanjang tahun 2024.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 49,5 persen pasien terdiagnosis suspek kolelitiasis, sementara 50,5 persen lainnya tidak mengalami kondisi tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa hampir setengah dari pasien yang diperiksa memiliki potensi gangguan batu empedu, sehingga menjadi perhatian serius dalam upaya peningkatan layanan kesehatan di daerah.
Dari sisi karakteristik pasien, mayoritas penderita merupakan perempuan dengan persentase mencapai 72,5 persen, sedangkan laki-laki hanya 27,5 persen. Selain itu, kelompok usia 45–59 tahun menjadi yang paling dominan, yakni sebesar 37,4 persen. Kondisi ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang menyebutkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami batu empedu, terutama akibat pengaruh hormon estrogen yang dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu.
Penelitian tersebut juga menyoroti kaitan erat antara diabetes melitus dan kejadian kolelitiasis. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut, dengan nilai p = 0,008. Bahkan, pasien dengan riwayat diabetes melitus memiliki risiko sekitar 2,8 kali lebih besar mengalami batu empedu dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat diabetes.
Secara medis, hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme. Pada penderita diabetes, resistensi insulin dapat meningkatkan produksi kolesterol oleh hati, sehingga empedu menjadi lebih jenuh dan mudah membentuk kristal. Selain itu, gangguan motilitas kandung empedu menyebabkan proses pengosongan empedu menjadi lebih lambat, yang pada akhirnya memperbesar risiko terbentuknya batu empedu.
Dosen UNG tersebut menekankan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap komplikasi lain dari diabetes yang sering kali tidak disadari masyarakat. Batu empedu, misalnya, kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi setelah muncul komplikasi serius seperti peradangan kandung empedu.
Melalui implementasi kerja sama penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan metabolik secara menyeluruh. Pengelolaan diabetes tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah, tetapi juga pencegahan komplikasi lain melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Temuan ini sekaligus menjadi dasar bagi penguatan program promotif dan preventif di Gorontalo, khususnya dalam menekan risiko penyakit batu empedu yang berpotensi meningkatkan beban layanan kesehatan di masa mendatang.
Sumber: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3319/2845

