Berita

Blog Image

Hasil Kerja Sama Penelitian: Peneliti Ung Ungkap Penderita Diabetes Berisiko Hampir Tiga Kali Lipat Mengalami Batu Empedu

Gorontalo-Kerja sama penelitian yang dilakukan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menghasilkan temuan penting di bidang kesehatan. Melalui penelitian yang dilaksanakan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, para peneliti mengungkap bahwa penderita diabetes melitus memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih besar mengalami kolelitiasis atau batu empedu dibandingkan individu yang tidak menderita diabetes.

Temuan tersebut memberikan perspektif baru bahwa diabetes tidak hanya berkaitan dengan tingginya kadar gula darah, tetapi juga berpotensi memicu gangguan pada sistem hepatobilier, khususnya pembentukan batu empedu. Selama ini, batu empedu lebih sering dikenal sebagai gangguan pencernaan dengan gejala nyeri pada perut kanan atas, mual setelah mengonsumsi makanan berlemak, hingga rasa tidak nyaman yang kerap disalahartikan sebagai sakit maag. Padahal, apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti peradangan kandung empedu, infeksi saluran empedu, hingga pankreatitis.

Penelitian hasil kolaborasi ini menganalisis 91 rekam medis pasien yang menjalani pemeriksaan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe sepanjang tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 49,5 persen pasien terdiagnosis suspek kolelitiasis. Angka tersebut mengindikasikan bahwa hampir separuh pasien yang diteliti memiliki tanda-tanda batu empedu, sehingga menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Hubungan antara diabetes melitus dan batu empedu terlihat semakin kuat setelah dilakukan analisis terhadap riwayat penyakit pasien. Dari 91 responden, sebanyak 25 pasien diketahui memiliki diabetes melitus. Dari jumlah tersebut, 18 pasien mengalami kolelitiasis. Analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai p-value sebesar 0,008.

Lebih lanjut, penelitian ini menghasilkan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799. Temuan tersebut berarti bahwa penderita diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih besar mengalami batu empedu dibandingkan individu tanpa diabetes. Hasil ini memperkuat bukti bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam terbentuknya kolelitiasis.

Secara ilmiah, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui gangguan metabolisme yang terjadi pada penderita diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi insulin dan mengganggu metabolisme lemak. Akibatnya, sekresi kolesterol ke dalam cairan empedu meningkat sehingga empedu menjadi lebih jenuh oleh kolesterol. Kondisi ini memudahkan terbentuknya kristal yang kemudian berkembang menjadi batu empedu. Selain itu, diabetes juga dapat menurunkan kemampuan kandung empedu untuk mengosongkan isinya, sehingga empedu tertahan lebih lama dan mempercepat proses pembentukan batu.

Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok yang paling rentan mengalami kolelitiasis adalah perempuan, yakni mencapai 72,5 persen dari seluruh kasus, sedangkan kelompok usia 45–59 tahun menjadi kelompok umur terbanyak dengan proporsi sebesar 37,4 persen. Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menyebutkan bahwa hormon estrogen berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol di dalam empedu sehingga perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami batu empedu. Sementara itu, meningkatnya usia turut memengaruhi penurunan fungsi metabolisme tubuh yang berkontribusi terhadap pembentukan batu empedu.

Hasil kerja sama penelitian ini memberikan pesan penting bagi upaya pencegahan dan pengelolaan diabetes di Indonesia. Selama ini, perhatian terhadap komplikasi diabetes lebih banyak difokuskan pada penyakit ginjal, stroke, penyakit jantung, maupun gangguan penglihatan. Padahal, komplikasi pada sistem hepatobilier seperti batu empedu juga perlu mendapatkan perhatian yang sama.

Karena itu, pengendalian diabetes seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian kadar gula darah yang normal. Penderita diabetes juga dianjurkan menerapkan pola makan sehat rendah lemak jenuh, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama apabila mulai merasakan nyeri pada perut kanan atas atau gangguan pencernaan yang berulang.

Melalui hasil penelitian kolaboratif ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat semakin memahami bahwa diabetes merupakan penyakit metabolik yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh. Dengan pengelolaan yang tepat dan deteksi dini terhadap berbagai komplikasi, termasuk batu empedu, kualitas hidup penderita diabetes dapat terus ditingkatkan sekaligus menekan risiko munculnya komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.

Sumber: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3319/2845