Implementasi Kerja Sama Riset: Peneliti Ung Ungkap Gejala Klinis Tbc Tak Selalu Sejalan Dengan Hasil Pemeriksaan Tcm
Gorontalo - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan utama di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi kedua di dunia setelah India, upaya pengendalian TBC membutuhkan strategi diagnosis yang cepat dan akurat. Dalam implementasi kerja sama riset yang dilakukan peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Puskesmas Kota Selatan, Gorontalo, terungkap bahwa gejala klinis TBC tidak selalu sejalan dengan hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM).
TCM yang direkomendasikan World Health Organization menjadi alat utama dalam diagnosis TBC karena mampu mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis secara cepat dan spesifik. Namun, hasil penelitian lapangan menunjukkan adanya dinamika klinis yang lebih kompleks.
Gejala Klinis Tidak Selalu Paralel dengan Hasil TCM
Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 30 pasien TBC paru pada tahun 2023. Sebanyak 76,7% responden menunjukkan hasil TCM positif, sementara 23,3% lainnya negatif. Secara klinis, sebagian besar pasien mengalami satu gejala respiratorius seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, batuk berdarah, atau sesak napas.
Meski demikian, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jumlah gejala respiratorius dengan hasil TCM (p = 0,072). Temuan serupa juga terjadi pada gejala sistemis seperti demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan penurunan nafsu makan (p = 0,428). Artinya, banyaknya gejala yang muncul tidak otomatis berkorelasi dengan hasil pemeriksaan molekuler.
Mengapa Perbedaan Itu Terjadi?
Secara patofisiologi, batuk berdahak pada TBC muncul akibat respons inflamasi terhadap infeksi bakteri. Idealnya, sputum mengandung basil yang dapat terdeteksi melalui TCM. Namun dalam praktiknya, beberapa faktor dapat menyebabkan hasil negatif meskipun gejala tampak jelas, antara lain:
- Kualitas sputum yang tidak adekuat, misalnya hanya berupa saliva.
- Jumlah bakteri rendah (paucibacillary), terutama pada kasus lama atau inaktif.
- TBC klinis tanpa konfirmasi bakteriologis, yang didiagnosis berdasarkan gambaran radiologis.
- Faktor jenis kelamin dan usia, di mana beberapa studi menunjukkan perempuan cenderung memiliki jumlah basil lebih rendah dalam sputum..
Kompleksitas Respons Imun
Gejala sistemik seperti demam dan penurunan berat badan terjadi akibat pelepasan sitokin proinflamasi sebagai respons imun tubuh terhadap infeksi. Namun, respons imun setiap individu berbeda-beda. Faktor komorbid seperti diabetes atau HIV, kebiasaan merokok, serta kondisi lingkungan turut memengaruhi manifestasi klinis. Inilah yang menjelaskan mengapa dua pasien dengan gejala berat dapat menunjukkan hasil TCM yang berbeda.
Implikasi bagi Layanan Primer
Hasil implementasi kerja sama riset ini menegaskan pentingnya pendekatan diagnosis yang komprehensif di layanan kesehatan primer. Tenaga medis tidak dapat bertumpu pada satu parameter saja. Kombinasi evaluasi gejala, riwayat kontak, pemeriksaan radiologi, serta konfirmasi laboratorium tetap menjadi standar emas dalam penegakan diagnosis.
Peneliti UNG menekankan bahwa deteksi dini dan pendekatan berbasis bukti menjadi kunci dalam upaya eliminasi TBC. Diagnosis yang akurat tidak hanya menyelamatkan pasien, tetapi juga memutus rantai penularan di masyarakat.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30010/pdf

