Berita

Blog Image

Wujud Implementasi Kerja Sama, Dilaksanakan Kajian Determinan Pemberian Asi Eksklusif Di Wilayah Puskesmas Provinsi Gorontalo

Gorontalo- Sebagai wujud implementasi kerja sama dalam bidang kesehatan masyarakat, dilaksanakan kajian mengenai faktor determinan pemberian ASI eksklusif pada wilayah puskesmas dengan cakupan tertinggi dan terendah di Provinsi Gorontalo. Kajian ini menjadi langkah konkret dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak berbasis data dan eviden ilmiah.

Hasil penelitian pada dua wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Kota Timur dan Puskesmas Botupingge, menunjukkan adanya perbedaan pola faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

Di wilayah perkotaan seperti Puskesmas Kota Timur, dukungan ibu mertua menjadi faktor dominan dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Temuan ini menegaskan kuatnya pengaruh keluarga inti dalam pengambilan keputusan ibu untuk mempertahankan praktik menyusui, terutama ketika ibu harus membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak.

Sebaliknya, di wilayah pedesaan seperti Puskesmas Botupingge, peran ayah atau breastfeeding father menjadi faktor yang paling menentukan. Keterlibatan ayah dalam mendukung proses menyusui terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap keberhasilan ASI eksklusif.

Meskipun terdapat perbedaan faktor dominan, ketertarikan terhadap susu formula menjadi faktor yang paling konsisten berhubungan dengan rendahnya capaian ASI eksklusif di kedua wilayah. Sikap positif terhadap susu formula dipengaruhi oleh promosi produk, harga yang terjangkau, kemudahan akses, serta persepsi kepraktisan, khususnya bagi ibu bekerja. Kurangnya pemahaman mengenai produksi dan kecukupan ASI turut memperkuat kecenderungan ibu beralih ke susu formula.

Perbedaan konteks sosial juga terlihat pada variabel kesehatan mental ibu, status bekerja, dan budaya pemberian madu. Di Puskesmas Kota Timur, ketiga faktor tersebut berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif. Ibu bekerja menghadapi keterbatasan waktu menyusui secara langsung, sehingga kesiapan mental, dukungan keluarga, dan pengetahuan menjadi faktor penting. Kondisi psikologis seperti kelelahan, kecemasan, dan gangguan tidur juga memengaruhi keberhasilan menyusui.

Sementara itu, di Puskesmas Botupingge, variabel kesehatan mental ibu dan status bekerja tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan capaian ASI eksklusif. Meski sebagian besar ibu tidak bekerja dan memiliki waktu lebih banyak bersama bayi, capaian ASI eksklusif tetap rendah. Pada wilayah ini, budaya pemberian madu sebagai makanan pralakteal masih kuat dan diwariskan secara turun-temurun, serta dipengaruhi oleh anjuran keluarga.

Secara umum, hasil kajian menegaskan bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya ditentukan oleh faktor individu ibu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga, kondisi psikologis, lingkungan sosial, serta budaya setempat. Perbedaan pola faktor antara wilayah dengan cakupan tertinggi dan terendah menunjukkan pentingnya pendekatan intervensi yang kontekstual dan berbasis karakteristik sosial-demografis masyarakat.

Melalui implementasi kerja sama ini, diharapkan puskesmas dapat memperkuat edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif, meningkatkan pendampingan keluarga, serta mengembangkan kebijakan dan program yang lebih adaptif guna mendukung peningkatan cakupan ASI eksklusif di Provinsi Gorontalo.

Source: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2368/1237