Hasil Kerja Sama Riset: Peneliti Ung Ungkap Bahaya Anemia Pada Remaja Putri
Gorontalo-Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap dianggap sepele, khususnya di kalangan remaja putri. Melalui hasil kerja sama riset yang dilakukan oleh peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Kabupaten Bone Bolango, terungkap bahwa anemia bukan sekadar kondisi “kurang darah”, melainkan masalah gizi serius yang berdampak luas terhadap kualitas generasi masa depan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar 34,2 persen remaja putri mengalami anemia, sementara sisanya berada dalam kondisi normal. Temuan ini menegaskan bahwa anemia masih menjadi persoalan nyata yang membutuhkan perhatian bersama, baik dari keluarga, sekolah, maupun pemangku kebijakan.
Secara medis, anemia terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal, sehingga tubuh kekurangan oksigen untuk menjalankan fungsi secara optimal. Kondisi ini dapat memicu berbagai gejala seperti mudah lelah, pucat, pusing, hingga sulit berkonsentrasi. Bagi remaja putri, dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas belajar, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik.
Hasil riset UNG mengungkap bahwa asupan zat besi (Fe) menjadi faktor paling dominan dalam kejadian anemia. Remaja putri yang memiliki asupan zat besi cukup diketahui memiliki risiko sekitar 51 persen lebih rendah untuk mengalami anemia dibandingkan dengan mereka yang kekurangan zat besi. Hal ini sejalan dengan fakta ilmiah bahwa zat besi merupakan komponen utama dalam pembentukan hemoglobin.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan fakta yang memprihatinkan. Sebanyak 71,5 persen remaja putri diketahui memiliki asupan zat besi yang tidak mencukupi, dan 87,1 persen tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kebutuhan gizi dengan pola konsumsi sehari-hari.
Beberapa faktor penyebab yang teridentifikasi antara lain pola makan yang tidak seimbang, rendahnya konsumsi makanan sumber zat besi seperti daging, hati, dan sayuran hijau, tingginya konsumsi makanan cepat saji, serta kurangnya pengetahuan tentang pentingnya zat besi bagi tubuh.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa zat gizi lain seperti protein, vitamin C, vitamin B12, dan zinc, serta faktor pola makan seperti frekuensi makan dan keanekaragaman makanan, tidak memiliki hubungan signifikan secara langsung dengan kejadian anemia. Hal ini menunjukkan bahwa anemia pada remaja putri lebih spesifik berkaitan dengan kekurangan zat besi, meskipun zat gizi lain tetap berperan sebagai pendukung.
Di sisi lain, program konsumsi tablet tambah darah yang telah dijalankan pemerintah belum menunjukkan efektivitas yang optimal. Hal ini diduga karena rendahnya kepatuhan remaja dalam mengonsumsi tablet secara rutin, adanya efek samping seperti mual, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia.
Selain faktor gizi, beberapa kondisi lain juga turut memengaruhi risiko anemia, seperti menstruasi, pola makan yang tidak teratur, kebiasaan mengonsumsi teh atau kopi yang menghambat penyerapan zat besi, hingga gaya hidup modern yang cenderung mengandalkan makanan instan. Faktor sosial seperti tinggal jauh dari keluarga juga dapat memengaruhi pola konsumsi remaja.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti UNG menekankan pentingnya upaya pencegahan yang lebih terarah, terutama melalui peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam atau sapi, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Selain itu, edukasi gizi sejak usia remaja serta peningkatan kepatuhan dalam mengonsumsi tablet tambah darah menjadi langkah penting yang harus diperkuat.
Hasil kerja sama riset ini menegaskan bahwa anemia pada remaja putri bukan sekadar masalah ringan, melainkan indikator penting dari kualitas gizi masyarakat. Tanpa intervensi yang tepat dan berkelanjutan, kondisi ini berpotensi berdampak pada kesehatan dan kualitas generasi di masa mendatang.
Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JMHSJ/article/view/34999/pdf

