Implementasikan Kerja Sama: Mahasiswa Arsitektur Ung Sulap Tongkol Jagung Jadi Pendingin Alami Di Bongopini
Gorontalo-Limbah tongkol jagung yang selama ini tersisa setelah panen mulai diperkenalkan dengan fungsi baru melalui inovasi material bangunan ramah lingkungan yang dikembangkan Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, mahasiswa Arsitektur UNG turut mengimplementasikan hasil penelitian berupa eco-cooler berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (4/9/26).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WITA tersebut dibuka oleh Kepala Desa Bongopini, Ismet Hamzah, S.AP. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama sekaligus upaya hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi agar inovasi yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat diterapkan dan memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.
Eco-cooler yang diperkenalkan merupakan modul ventilasi alami yang memanfaatkan limbah tongkol jagung sebagai salah satu material penyusunnya. Modul tersebut dibuat dari campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung dengan ukuran yang setara dengan roster yang umum digunakan pada bangunan, yakni 20×20 cm dan 30×30 cm.
Dengan bentuk dan material tersebut, eco-cooler dirancang sebagai elemen bangunan yang relatif mudah diaplikasikan tanpa membutuhkan listrik maupun perangkat mekanis. Modul bekerja dengan memanfaatkan aliran udara alami yang melewatinya sehingga dapat membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk.
Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C. Hasil penelitian tersebut kemudian didorong untuk masuk ke tahap penerapan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Bongopini.
Sosialisasi dipandu langsung oleh Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Program Studi Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars.
Dalam kegiatan tersebut, tim menjelaskan konsep, fungsi, serta manfaat eco-cooler. Masyarakat juga diperkenalkan pada potensi limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar untuk diolah menjadi material bangunan yang memiliki nilai guna lebih tinggi.
Tidak hanya menerima materi, delapan mahasiswa Program Studi Arsitektur UNG yang tergabung dalam tim pelaksana turut mengambil peran dalam mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam implementasi kegiatan karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk menerapkan pengetahuan arsitektur dan material bangunan secara langsung di tengah masyarakat.
Melalui praktik tersebut, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga ikut menerjemahkan hasil penelitian menjadi pengetahuan praktis yang dapat dipahami dan dikembangkan oleh masyarakat. Pengalaman ini sekaligus memperkuat pembelajaran mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak untuk mulai menyisihkan dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan modul eco-cooler, sehingga masyarakat tidak hanya mengenal inovasinya, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah bahan lokal menjadi elemen bangunan.
Pemanfaatan tongkol jagung sebagai material eco-cooler mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah hasil pertanian dan menghadirkan pendekatan pasif untuk meningkatkan kenyamanan termal bangunan. Dari material yang sederhana dan tersedia di lingkungan sekitar, mahasiswa dan dosen Arsitektur FT UNG berupaya menunjukkan bahwa sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari solusi bangunan yang lebih fungsional dan ramah lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata implementasi kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong pemanfaatan hasil penelitian. Program Studi Arsitektur FT UNG tidak hanya menempatkan riset sebagai produk akademik, tetapi juga mendorong agar hasil penelitian dapat diterapkan melalui kegiatan pengabdian dan melibatkan mahasiswa secara langsung.
Melalui hilirisasi eco-cooler, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan material lokal, pengelolaan limbah pertanian, serta penerapan ventilasi alami untuk mendukung kenyamanan bangunan. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilan teknis, komunikasi, dan pemecahan masalah melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Kegiatan di Desa Bongopini menjadi tahap awal pemberdayaan yang akan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan modul eco-cooler. Melalui tahapan tersebut, tim berharap masyarakat mampu memahami sekaligus mengembangkan pemanfaatan tongkol jagung secara mandiri.
Dengan keterlibatan mahasiswa, dosen, dan masyarakat, inovasi eco-cooler diharapkan tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi dapat berkembang menjadi solusi berbasis potensi lokal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Desa Bongopini.

