Gorontalo-Potensi limbah dari
aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo,
mulai dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui implementasi kerja
sama antara Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan masyarakat mitra. Kolaborasi
tersebut diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat BioNira Zero
Waste, yang mendorong pemanfaatan limbah kolang-kaling dan kulit kolang-kaling
menjadi serbuk serat Nano Fiber dan Pelet Biomassa.
Program bertajuk “BioNira Zero
Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis
Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” dilaksanakan oleh Rifka Anggraini
Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin,
M.Sc. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat
yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun 2026.
Implementasi kerja sama tersebut
berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa
Dulamayo Selatan yang melibatkan sejumlah pengrajin dan pelaku usaha. Dari
aktivitas tersebut, terdapat limbah hasil pengolahan aren yang belum
dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi tersebut kemudian
dikembangkan menjadi peluang kolaborasi antara UNG dan Karang Taruna Desa
Dulamayo Selatan sebagai mitra dalam menghadirkan inovasi berbasis konsep zero
waste. Melalui kerja sama ini, masyarakat tidak hanya diarahkan untuk
mengurangi limbah, tetapi juga didampingi dalam mengolahnya menjadi produk yang
memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Bahan yang dimanfaatkan dalam
program ini berasal dari limbah pengolahan gula aren, khususnya kolang-kaling
dan kulit kolang-kaling. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber
menggunakan peralatan yang diberikan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan
kulit kolang-kaling dimanfaatkan menjadi Pelet Biomassa sebagai alternatif
produk yang lebih ramah lingkungan.
Ketua tim pengabdian, Rifka
Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah dilakukan melalui
penerapan teknologi sekaligus pendampingan kepada mitra.
“Buah kolang-kaling kami olah dengan
beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan
serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya kami jadikan Pelet Biomassa yang
ramah lingkungan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari implementasi
kerja sama, tim UNG tidak hanya memberikan peralatan produksi, tetapi juga
melakukan pendampingan secara langsung kepada mitra. Pendampingan mencakup
proses pengolahan bahan baku, penggunaan peralatan, hingga penyusunan Standar
Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan Pelet
Biomassa.
Kerja sama tersebut juga diarahkan
pada penguatan kapasitas mitra dalam mengembangkan keberlanjutan produk.
Tahapan selanjutnya mencakup pendampingan pemasaran dan digital branding
melalui sejumlah platform digital, sehingga produk hasil pengolahan limbah
dapat memiliki identitas dan peluang pemasaran yang lebih luas.
Pendekatan kolaboratif tersebut
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Karang Taruna dalam mengelola limbah
secara produktif, sekaligus membangun kapasitas masyarakat dalam menghasilkan,
mengembangkan, dan memasarkan produk berbasis potensi lokal.
“Dengan adanya ide dan inovasi, kami
mengubah limbah menjadi potensi untuk membangun perekonomian di Desa Dulamayo
Selatan, khususnya mitra Karang Taruna,” ujar Rifka.
Sementara itu, dalam kegiatan
monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program, Ketua LPPM UNG, Prof.
Lanto Ningrayati Amali, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan masyarakat mitra
merupakan bagian penting dalam memastikan inovasi yang dikembangkan dapat
memberikan manfaat nyata.
“Program ini memperlihatkan bahwa
limbah yang selama ini belum dimanfaatkan dapat dikembangkan menjadi sesuatu
yang bernilai melalui inovasi dan pendampingan. Kami berharap teknologi dan
pengetahuan yang diberikan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Melalui BioNira Zero Waste,
implementasi kerja sama UNG bersama Karang Taruna Desa Dulamayo Selatan tidak
hanya berfokus pada pengurangan limbah dari aktivitas pengolahan gula aren,
tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bahan baku produk baru.
Keterlibatan Karang Taruna sebagai
mitra menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan
dukungan teknologi, pengetahuan, peralatan, dan pendampingan dari UNG,
masyarakat diharapkan mampu melanjutkan proses pengolahan limbah secara mandiri
sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dari produk yang dihasilkan.