Update Terkini

Berita

KOLABORASI RISET: PENELITI UNG UNGKAP KAITAN POLA KONSUMSI DAN OBESITAS SENTRAL DI INDONESIA
Penelitian
Penelitian 14 Aug 2026 0 dilihat

KOLABORASI RISET: PENELITI UNG UNGKAP KAITAN POLA KONSUMSI DAN OBESITAS SENTRAL DI INDONESIA

Gorontalo-Obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang terus berkembang di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga dipengaruhi oleh karakteristik wilayah, kebiasaan konsumsi, serta latar belakang budaya masyarakat.

 

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kolaborasi riset yang melibatkan peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kolaborasi tersebut menghasilkan penelitian berjudul “Central Obesity Analysis from the Aspect of Risky Foods and Food Consumption Patterns Related to Cultural Systems: The 2023 SKI Study”, yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 21 Nomor 3 Tahun 2026, halaman 555–565.

 

Penelitian ini melibatkan empat peneliti dari UNG, yakni Hartono Hadjarati, Nasrun Pakaya, Widy Susanti Abdulkadir, dan Edy Dharma Putra Duhe, bersama Oktia Woro Kasmini Handayani dari Universitas Negeri Semarang. Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini mengkaji persoalan obesitas sentral tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga dengan melihat pola konsumsi dan karakteristik kewilayahan di Indonesia.

 

Penelitian berangkat dari meningkatnya prevalensi obesitas sentral pada penduduk Indonesia berusia 15–54 tahun. Berdasarkan data yang dianalisis, prevalensi obesitas sentral meningkat dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023. Dalam penelitian tersebut, obesitas sentral merujuk pada kondisi lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan yang tidak sedang hamil.

 

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena obesitas sentral berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, gangguan hati, hingga penyakit ginjal.

 

Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas, para peneliti menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023) dengan 38 provinsi sebagai unit analisis. Sejumlah variabel pola konsumsi dikaji, meliputi konsumsi makanan dan minuman manis, makanan asin, makanan berlemak atau gorengan, bumbu penyedap, makanan instan, serta konsumsi kacang-kacangan, buah, sayuran, susu, minyak atau lemak, dan gula.

 

Selain pola konsumsi, penelitian juga mempertimbangkan aspek sistem budaya untuk memahami adanya perbedaan kebiasaan makan masyarakat antardaerah. Pendekatan tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki keragaman budaya pangan yang memengaruhi cara masyarakat memilih, mengolah, dan mengonsumsi makanan.

 

Dalam menganalisis keterkaitan antardaerah, penelitian menggunakan analisis spasial melalui Global Moran’s I dan Local Indicator of Spatial Association (LISA). Sementara itu, analisis Ordinary Least Squares (OLS) digunakan untuk mengidentifikasi variabel yang memiliki hubungan dengan prevalensi obesitas sentral.

 

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat apakah prevalensi obesitas sentral dan pola konsumsi memiliki kecenderungan mengelompok pada wilayah tertentu, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan variasi obesitas sentral antarprovinsi.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral di Indonesia membentuk pola berkelompok antarprovinsi. Dalam data yang dianalisis, prevalensi tertinggi ditemukan di DKI Jakarta dan Sulawesi Utara, masing-masing sebesar 45,7 persen, kemudian Papua Tengah sebesar 44,3 persen.

 

Sementara itu, pola konsumsi makanan juga memperlihatkan karakteristik yang berbeda antarwilayah. Konsumsi makanan manis tertinggi ditemukan di Bangka Belitung sebesar 66,3 persen, konsumsi makanan asin tertinggi juga terdapat di Bangka Belitung sebesar 65,1 persen, sedangkan konsumsi minuman manis tertinggi tercatat di Jawa Tengah sebesar 60,3 persen.

 

Dari analisis yang dilakukan, terdapat empat variabel utama yang berkaitan dengan prevalensi obesitas sentral, yaitu konsumsi makanan asin, makanan berlemak atau gorengan, kacang-kacangan, serta buah dan sayuran.

 

Konsumsi makanan berlemak, gorengan, dan makanan tinggi kolesterol menunjukkan hubungan positif dengan prevalensi obesitas sentral, dengan koefisien β sebesar 0,532. Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara pola konsumsi makanan tinggi lemak dengan prevalensi obesitas sentral di tingkat kewilayahan.

 

Sebaliknya, konsumsi kacang-kacangan menunjukkan hubungan negatif dengan prevalensi obesitas sentral, dengan koefisien β sebesar -0,474. Kacang-kacangan dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. Namun, peneliti juga mencatat bahwa frekuensi konsumsi kacang-kacangan dalam data penelitian masih relatif terbatas.

 

Temuan lainnya berkaitan dengan konsumsi buah dan sayuran. Dalam model penelitian, konsumsi buah dan sayuran menunjukkan hubungan positif dengan prevalensi obesitas sentral, dengan koefisien β sebesar 0,349. Namun, hasil tersebut tidak dapat diartikan bahwa konsumsi buah dan sayuran menyebabkan obesitas.

 

Peneliti menjelaskan bahwa frekuensi konsumsi buah dan sayuran dalam data yang dianalisis masih sangat rendah, yakni rata-rata sekitar satu hingga dua porsi per minggu. Dengan kondisi tersebut, manfaat konsumsi buah dan sayuran sebagai bagian dari pola pencegahan obesitas belum dapat diperoleh secara optimal.

 

Aspek budaya juga menjadi bagian penting dalam memahami hasil penelitian. Kebiasaan makan masyarakat Indonesia sangat beragam dan dipengaruhi oleh tradisi pangan lokal. Makanan asin, misalnya, dapat berasal dari berbagai jenis pangan tradisional seperti ikan asin, pangan hasil fermentasi, maupun penggunaan garam dalam masakan.

 

Karena itu, hubungan negatif antara konsumsi makanan asin dan obesitas sentral yang ditemukan dalam penelitian perlu dipahami secara hati-hati dengan mempertimbangkan konteks pola konsumsi, cara pengolahan makanan, serta karakter budaya masing-masing wilayah. Temuan tersebut bukan berarti menjadi anjuran untuk meningkatkan konsumsi garam.

 

Hasil kolaborasi riset ini menunjukkan bahwa obesitas sentral di Indonesia merupakan persoalan yang kompleks. Pola konsumsi makanan, karakteristik wilayah, akses terhadap pangan, serta kebiasaan dan budaya masyarakat saling berkaitan dalam membentuk kondisi kesehatan masyarakat.

 

Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya penelitian yang menggunakan pendekatan lintas wilayah dan lintas perguruan tinggi dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara peneliti UNG dan UNNES memungkinkan persoalan obesitas sentral dikaji dengan perspektif yang lebih luas, berbasis data dan mempertimbangkan karakteristik kewilayahan.

 

Para peneliti menyimpulkan bahwa prevalensi obesitas sentral membentuk pola berkelompok antarprovinsi dan memiliki hubungan yang beragam dengan pola konsumsi makanan. Karena itu, strategi pencegahan obesitas sentral perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah dan tidak hanya menggunakan pendekatan yang seragam untuk seluruh Indonesia.

 

Upaya pencegahan dapat diarahkan pada pengurangan konsumsi makanan tinggi lemak serta peningkatan akses dan frekuensi konsumsi buah, sayuran, dan kacang-kacangan sesuai prinsip gizi seimbang.


Melalui kolaborasi riset ini, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan strategi pencegahan obesitas sentral yang lebih kontekstual. Pendekatan berbasis data kewilayahan dan pemahaman terhadap budaya pangan masyarakat menjadi penting agar intervensi kesehatan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.


Sumber: https://journal.unnes.ac.id/journals/kemas/article/view/32829