Update Terkini

Berita

KOLABORASI RISET: UNG SULAP LIMBAH JAGUNG DAN DAUN PEPAYA MENJADI PENANGKAL NYAMUK RAMAH LINGKUNGAN
Penelitian
Penelitian 17 Aug 2026 0 dilihat

KOLABORASI RISET: UNG SULAP LIMBAH JAGUNG DAN DAUN PEPAYA MENJADI PENANGKAL NYAMUK RAMAH LINGKUNGAN

Gorontalo-Malaria masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, termasuk di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina ini menjadi salah satu persoalan kesehatan yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tropis yang mendukung perkembangbiakan nyamuk.

 

Di tengah kebutuhan akan upaya pencegahan yang aman dan ramah lingkungan, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi melalui kolaborasi riset dengan memanfaatkan bahan alam lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.

 

Tim peneliti UNG yang terdiri atas La Ode Aman, Dizky Ramadani Putri Papeo, dan Yuniarty Antu mengembangkan inovasi Eco-Repel Spray, yakni penangkal nyamuk berbahan dasar ekstrak rambut jagung (Zea mays L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.).

 

Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan alternatif penangkal nyamuk berbasis bahan alam yang lebih ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia melimpah di masyarakat.

 

Melalui pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA), hasil inovasi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga diperkenalkan dan diterapkan secara langsung bersama masyarakat di Desa Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

 

Kolaborasi Riset Manfaatkan Potensi Lokal

Pemilihan rambut jagung dan daun pepaya didasarkan pada potensi kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada kedua bahan tersebut. Rambut jagung yang selama ini kerap menjadi limbah setelah proses panen diketahui mengandung berbagai senyawa, antara lain flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri.

 

Kandungan minyak atsiri pada rambut jagung memiliki senyawa volatil yang menghasilkan aroma tertentu sehingga berpotensi mengganggu kemampuan nyamuk dalam mendeteksi manusia sebagai inang. Selain itu, sejumlah kandungan bioaktif pada rambut jagung juga menjadi bagian dari kajian dalam pengembangan bahan alami untuk mendukung pengendalian vektor penyakit.

 

Sementara itu, daun pepaya (Carica papaya L.) memiliki berbagai kandungan senyawa bioaktif, seperti alkaloid, saponin, flavonoid, dan senyawa fenolik. Kandungan tersebut menjadi dasar pemanfaatan daun pepaya sebagai salah satu bahan dalam formulasi Eco-Repel Spray.

 

Kombinasi kedua bahan lokal tersebut kemudian dikembangkan menjadi formulasi penangkal nyamuk yang dapat digunakan sebagai alternatif berbasis bahan alam.

 

Dari Limbah Pertanian Menjadi Produk Bernilai Guna

Salah satu nilai penting dari inovasi Eco-Repel Spray adalah pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Rambut jagung yang sebelumnya lebih sering dibuang setelah panen dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

 

Konsep tersebut sekaligus mendorong penerapan prinsip zero waste, dengan mengubah limbah pertanian menjadi produk yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Proses pembuatan Eco-Repel Spray juga relatif sederhana sehingga memungkinkan masyarakat mengenal dan mempraktikkan pemanfaatan bahan alam secara mandiri.

 

Bahan yang digunakan meliputi 50–100 gram rambut jagung, 10–15 helai daun pepaya, 1.000 ml air bersih, 100 ml etanol 70 persen, serta 1 ml minyak sereh (citronella oil).

 

Rambut jagung dan daun pepaya terlebih dahulu dicuci bersih, kemudian direbus dalam air selama sekitar 20–30 menit. Setelah disaring dan didinginkan, ekstrak tersebut dicampurkan dengan etanol dan minyak sereh hingga menghasilkan formulasi yang kemudian dimasukkan ke dalam botol semprot.

 

Dorong Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan

Pengembangan Eco-Repel Spray tidak hanya berorientasi pada pencegahan gigitan nyamuk, tetapi juga membawa misi yang lebih luas, yakni mengintegrasikan aspek kesehatan masyarakat, pemanfaatan sumber daya lokal, dan pelestarian lingkungan.

 

Pemanfaatan bahan alam lokal menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk penangkal nyamuk berbahan kimia sintetis. Pada saat yang sama, pemanfaatan limbah pertanian dapat membantu mengurangi material organik yang terbuang dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

 

Melalui pendekatan berbasis masyarakat, kolaborasi riset ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut terlibat dalam proses pengenalan, penerapan, dan pengembangan inovasi.

 

Inovasi tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

 

Ke depan, Eco-Repel Spray berbasis rambut jagung dan daun pepaya memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari aspek formulasi, pengujian efektivitas, maupun pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

 

Kolaborasi riset yang mengangkat potensi bahan lokal tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dari limbah pertanian yang sederhana, lahir inovasi yang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga membawa semangat kesehatan, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.