Gorontalo-Kapabilitas
akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali berkontribusi dalam
mendukung penyelesaian persoalan strategis pembangunan daerah. Dua dosen
Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Teknik UNG dilibatkan sebagai bagian
dari Tim Teknis dalam penyusunan Studi Kelayakan Simpang Lima Kota Gorontalo
yang disiapkan Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR PKP) Provinsi Gorontalo.
Keterlibatan tersebut
menjadi bagian dari kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah
dalam merumuskan penanganan persoalan lalu lintas di kawasan Simpang Lima.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) pembahasan Studi
Kelayakan Simpang Lima Kota Gorontalo yang berlangsung pada Kamis, 20 Agustus
2026, di Ruang Rapat Dinas PUPR PKP Provinsi Gorontalo.
Dua akademisi PPI
Fakultas Teknik UNG yang terlibat dalam Tim Teknis tersebut adalah Dr. Ir.
Yuliyanti Kadir, S.T., M.T., IPM. dan Dr. Ir. Anton Kaharu, S.T., M.T., IPM.
Keduanya turut memberikan masukan berdasarkan kompetensi dan keahlian di bidang
keteknikan, khususnya dalam melihat persoalan transportasi dan infrastruktur
secara teknis serta terintegrasi.
Tim Teknis dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas PUPR PKP Provinsi Gorontalo Nomor 021
1/KPTS/PUPR PKP/2979/VIII/2026. Tim tersebut diketuai oleh Dr. Ir. H. M. Djamal
Ngandro, S.T., M.Si. dari unsur Asisten II dan melibatkan berbagai pemangku
kepentingan yang memiliki keterkaitan dengan penanganan transportasi di kawasan
Simpang Lima.
Selain akademisi UNG,
forum tersebut melibatkan unsur Dinas Perhubungan, Dinas PUPR Provinsi
Gorontalo, PUPR Kota Gorontalo, PUPR Kabupaten Gorontalo, Kepolisian, Balai
Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), serta Balai Pengelola Transportasi Darat
(BPTD) Gorontalo.
Dalam kolaborasi
tersebut, akademisi Fakultas Teknik UNG tidak hanya berperan sebagai pelengkap
unsur tim, tetapi turut memberikan telaah terhadap berbagai aspek teknis dalam
penyusunan studi kelayakan. Masukan yang diberikan mencakup metodologi
analisis, proyeksi kebutuhan lalu lintas, kondisi jaringan jalan, hingga
penilaian terhadap berbagai alternatif penanganan kawasan Simpang Lima.
Salah satu perhatian
yang mengemuka dalam pembahasan adalah pentingnya melihat Simpang Lima sebagai
bagian dari jaringan transportasi yang lebih luas. Penanganan lalu lintas tidak
cukup hanya mempertimbangkan kondisi pada satu titik simpang, tetapi juga perlu
melihat dampaknya terhadap simpang dan ruas jalan di sekitarnya.
Perubahan pola
pergerakan kendaraan di Simpang Lima, misalnya, berpotensi mengalihkan arus
lalu lintas dan memindahkan titik kemacetan ke lokasi lain. Karena itu, kajian
perlu mempertimbangkan kinerja jaringan secara keseluruhan sehingga rekomendasi
yang dihasilkan tidak hanya menyelesaikan persoalan pada satu lokasi, tetapi
juga memberikan dampak positif terhadap sistem transportasi di kawasan sekitarnya.
Kajian juga diarahkan
untuk memperhitungkan rencana pengembangan Gorontalo Outer Ring Road (GORR)
Segmen III. Kehadiran infrastruktur tersebut diperkirakan dapat memengaruhi
pola perjalanan dan distribusi kendaraan, termasuk kendaraan yang saat ini melintasi
kawasan Simpang Lima.
Dengan demikian,
proyeksi lalu lintas perlu disusun melalui beberapa skenario, baik pada kondisi
ketika GORR Segmen III belum beroperasi maupun setelah infrastruktur tersebut
beroperasi. Pendekatan ini diperlukan agar rekomendasi penanganan yang
dihasilkan tetap relevan terhadap perkembangan jaringan transportasi Gorontalo
ke depan.
Selain itu, tim teknis
memberikan perhatian terhadap kebutuhan data pergerakan kendaraan yang lebih
rinci. Data turning movement pada seluruh lengan simpang, pola arus menerus dan
lalu lintas lokal, tingkat kejenuhan, tundaan, hingga panjang antrean menjadi
bagian penting dalam memastikan analisis benar-benar menggambarkan kondisi
aktual di lapangan.
Dalam menentukan
alternatif penanganan, pembangunan flyover juga tidak langsung ditempatkan
sebagai satu-satunya solusi. Studi kelayakan diarahkan untuk membandingkan
berbagai skenario, mulai dari Do Nothing, Do Minimum, hingga Do Something.
Setiap alternatif perlu dinilai berdasarkan manfaat dan dampaknya terhadap
kapasitas jalan, pengurangan tundaan dan antrean, serta peningkatan kinerja
jaringan transportasi secara keseluruhan.
Keterlibatan dosen PPI
Fakultas Teknik UNG dalam studi ini menunjukkan kontribusi nyata perguruan
tinggi dalam mendukung pemerintah daerah mengambil keputusan berbasis keilmuan.
Kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan, penelitian, serta praktik
keinsinyuran dapat diterapkan secara langsung untuk memberikan masukan terhadap
persoalan infrastruktur dan transportasi yang berdampak bagi masyarakat.
Bagi Fakultas Teknik
UNG, keterlibatan tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai
mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah. Kehadiran dosen dalam Tim
Teknis memperlihatkan bahwa sumber daya akademik UNG tidak hanya berperan dalam
proses pembelajaran di lingkungan kampus, tetapi juga memiliki kapasitas
profesional untuk berkontribusi dalam pekerjaan keteknikan dan perencanaan
pembangunan.
Kolaborasi antara Pemerintah
Provinsi Gorontalo, instansi teknis, aparat kepolisian, akademisi UNG, serta
pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat menghasilkan Studi Kelayakan
Simpang Lima yang komprehensif. Rekomendasi yang dihasilkan nantinya diharapkan
mampu menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan lalu lintas yang tepat,
layak secara teknis, dan selaras dengan arah pengembangan jaringan transportasi
Gorontalo di masa mendatang.