Update Terkini

Berita

UNG PERKUAT KERJA SAMA RISET MELALUI KAJIAN KESEJAHTERAAN NELAYAN MOTONGKAD SELATAN
Penelitian
Penelitian 28 Sep 2026 0 dilihat

UNG PERKUAT KERJA SAMA RISET MELALUI KAJIAN KESEJAHTERAAN NELAYAN MOTONGKAD SELATAN

Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat kontribusi akademiknya melalui penelitian yang berorientasi pada pemahaman dan pengembangan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui sivitas akademika Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), UNG melakukan kajian mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan di Desa Motongkad Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, yang secara keseluruhan menunjukkan tingkat kesejahteraan pada kategori sedang.

 

Penelitian berjudul “Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan di Desa Motongkad Selatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur” ini ditulis oleh Nilmawati Daeng Mangaw, Abdul Hafidz Olii, dan Cahniar Djamil dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, FKTP UNG. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Tarjih: Fisheries and Aquatic Studies, Volume 6 Nomor 1, Juni 2026, halaman 1–6.

 

Kajian ini menjadi salah satu bentuk kontribusi riset UNG dalam mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir sekaligus menyediakan informasi akademik yang dapat mendukung perencanaan program pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan nelayan.

 

Pendapatan dan Pendidikan Menjadi Tantangan Kesejahteraan Nelayan

Penelitian yang dilaksanakan pada Mei–Juni 2025 ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Kajian dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan berdasarkan sejumlah indikator sosial ekonomi.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93 persen responden memiliki pendapatan kurang dari Rp2 juta per bulan, sedangkan 7 persen lainnya berpendapatan antara Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Sebagian besar pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.

 

Kondisi ini berkaitan dengan ketergantungan nelayan terhadap hasil laut, keterbatasan pekerjaan sampingan, penggunaan teknologi penangkapan ikan yang masih sederhana, serta kondisi laut dan cuaca yang sulit diprediksi.

 

Pada aspek pendidikan, sebanyak 73,33 persen responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (SD), 6,67 persen SMP, 13,33 persen SMA, dan 6,67 persen tidak tamat sekolah. Meski demikian, penelitian mencatat adanya kesadaran sebagian kepala keluarga untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak mereka sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga.

 

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan dari hasil tangkapan, tetapi juga berkaitan dengan akses pendidikan dan kemampuan keluarga dalam mengembangkan sumber penghasilan.

 

Kondisi Hunian dan Fasilitas Kesehatan Menunjukkan Perkembangan Positif

Selain pendapatan dan pendidikan, penelitian FKTP UNG turut mengkaji kondisi tempat tinggal dan akses terhadap fasilitas kesehatan masyarakat nelayan.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 persen responden memiliki rumah permanen, 33 persen rumah semi permanen, dan 27 persen rumah nonpermanen. Dari aspek kepemilikan, sebanyak 80 persen responden telah memiliki rumah sendiri, sementara sebagian lainnya masih tinggal di rumah milik orang tua atau saudara.

 

Pada indikator kesehatan, lima aspek yang dikaji, yaitu kesehatan anggota keluarga, penanganan berobat, biaya berobat, keterjangkauan harga obat, serta akses konsultasi keluarga berencana, memperoleh total skor 10 dan dikategorikan cukup.

 

Berdasarkan penggabungan seluruh indikator kesejahteraan, penelitian memperoleh skor total 12 yang menempatkan masyarakat nelayan Desa Motongkad Selatan pada kategori sedang. Dari keseluruhan responden yang dianalisis, 73,33 persen berada pada kategori sedang dan 26,67 persen pada kategori rendah.

 

Hasil ini memberikan gambaran bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat nelayan memiliki karakteristik yang beragam, dengan sejumlah indikator yang masih memerlukan perhatian dan penguatan melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.

 

Penguatan Teknologi dan Kapasitas SDM Menjadi Perhatian

Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi peningkatan kesejahteraan nelayan, yakni kualitas sumber daya manusia, metode penangkapan ikan yang masih tradisional, serta kondisi iklim dan cuaca.

 

Sebagian nelayan masih mengandalkan perahu, pancing ulur, dan jaring tangkap ikan dengan metode manual. Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas hasil tangkapan, terutama ketika menghadapi cuaca buruk dan kondisi laut yang tidak menentu.

 

Di sisi lain, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah faktor pendukung, antara lain bantuan pemerintah berupa mesin perahu nelayan, sosialisasi, pelatihan penguasaan teknologi penangkapan ikan, serta peningkatan kemampuan berwirausaha.

 

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan penguatan bantuan modal, peningkatan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan, pengembangan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan keluarga, serta pelaksanaan penyuluhan secara berkelanjutan.

 

Rekomendasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan dalam merancang program pengembangan masyarakat pesisir yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nelayan setempat.

 

Perkuat Kontribusi Riset UNG bagi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Melalui penelitian ini, FKTP UNG menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan kajian sosial ekonomi yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat pesisir. Hasil penelitian tidak hanya memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan nelayan, tetapi juga mengidentifikasi faktor penghambat, potensi pendukung, dan kebutuhan pengembangan masyarakat.

 

Kajian tersebut sekaligus memperkuat kontribusi UNG dalam bidang penelitian dan pengembangan masyarakat melalui pemanfaatan hasil kajian akademik sebagai bahan informasi bagi pemangku kepentingan, khususnya dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat nelayan.

 

Ke depan, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan kajian lanjutan serta mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan program peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

Dengan demikian, penguatan kerja sama riset yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat diharapkan dapat memperluas manfaat hasil penelitian perguruan tinggi, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya perikanan dan pembangunan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.


Sumber: https://www.jurnal-umsi.ac.id/index.php/fisheries/article/view/1182/756