Gorontalo-Dosen
Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo
(UNG) mengembangkan inovasi produk olahan perikanan melalui penelitian
formulasi kerupuk berbahan dasar kerang darah (Anadara granosa). Penelitian ini
menjadi salah satu upaya pemanfaatan komoditas hasil perikanan untuk
menghasilkan produk pangan yang memiliki karakteristik mutu dan potensi nilai
tambah.
Penelitian
berjudul “Analisis Nilai Hedonik dan Mutu Kimia Kerupuk Kerang Darah (Anadara
granosa)” tersebut dilakukan oleh Hairan G. Asi, Asri Silvana Naiu, dan
Nikmawatisusanti Yusuf dari Universitas Negeri Gorontalo. Hasil penelitian ini
dipublikasikan dalam Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Volume 5,
Nomor 1, tahun 2026, dengan DOI 10.54923/researchreview.v5i1.329.
Penelitian
ini berfokus pada pengaruh variasi jumlah daging kerang darah terhadap tingkat
kesukaan panelis serta mutu kimia kerupuk yang dihasilkan. Kerang darah dipilih
sebagai bahan baku karena berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan produk
pangan olahan berbasis sumber daya perikanan.
Dalam
penelitian tersebut, peneliti menggunakan tiga variasi jumlah daging kerang
darah, yaitu 200 gram, 250 gram, dan 300 gram. Pengujian organoleptik dilakukan
untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap produk, sedangkan analisis
kimia digunakan untuk mengukur kandungan protein, lemak, kadar air, dan kadar
abu.
Data
hasil pengujian dianalisis menggunakan metode statistik yang sesuai dengan
masing-masing parameter penelitian. Analisis ini bertujuan mengetahui pengaruh
perbedaan formulasi terhadap karakteristik sensori dan komposisi kimia kerupuk
kerang darah.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variasi jumlah daging kerang darah memberikan
pengaruh nyata terhadap parameter organoleptik. Peningkatan jumlah daging
kerang dalam formulasi diikuti penurunan nilai hedonik, dari kategori suka
menjadi netral. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk olahan
perikanan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara jumlah bahan baku yang
digunakan dan tingkat penerimaan konsumen.
Dari
aspek mutu kimia, penambahan daging kerang darah memberikan pengaruh nyata
terhadap kandungan protein dan lemak kerupuk. Kedua parameter tersebut
meningkat seiring bertambahnya jumlah daging kerang dalam formulasi. Sementara
itu, kadar air dan kadar abu tidak menunjukkan perubahan yang signifikan
berdasarkan hasil pengujian yang dilaporkan.
Peneliti
juga mengevaluasi mutu kimia produk berdasarkan SNI 2713.1:2009. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kadar air dan protein memenuhi persyaratan standar
yang dirujuk. Kandungan lemak pada perlakuan A juga dilaporkan memenuhi
persyaratan, sedangkan kadar abu berdasarkan hasil analisis yang dilaporkan
belum memenuhi persyaratan tersebut.
Temuan
ini menegaskan bahwa inovasi produk olahan perikanan tidak hanya berorientasi
pada peningkatan kandungan gizi, tetapi juga perlu memperhatikan karakteristik
sensori, konsistensi mutu, dan kesesuaian dengan standar yang berlaku. Dengan
demikian, formulasi yang tepat menjadi salah satu aspek penting dalam
menghasilkan produk yang dapat diterima konsumen dan berpotensi dikembangkan
lebih lanjut.
Melalui
penelitian ini, dosen FKTP UNG turut berkontribusi dalam pengembangan ilmu
pengolahan hasil perikanan serta pemanfaatan komoditas perairan menjadi produk
pangan bernilai tambah. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi
referensi bagi pengembangan inovasi produk olahan perikanan, termasuk sebagai
bahan pertimbangan dalam pengembangan usaha berbasis komoditas lokal.
Pengembangan
produk seperti kerupuk kerang darah juga membuka peluang untuk mengeksplorasi
pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih beragam. Ke depan, pengembangan
formulasi dan pengujian lanjutan dapat diarahkan pada peningkatan penerimaan
konsumen, pengendalian mutu, serta penguatan potensi produk agar dapat
dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.