Yogyakarta-Universitas
Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat jejaring akademik melalui partisipasi
dosen dalam forum ilmiah nasional dan internasional. Komitmen tersebut
tercermin dari prestasi Jafar Lantowa, S.Pd., M.A., dosen Fakultas Sastra dan
Budaya (FSB) UNG, yang terpilih sebagai Pemakalah Favorit dan Presenter Terbaik
pada Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-35 di Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY), pada 26-27 Oktober 2026.
Penghargaan
yang diumumkan pada penutupan konferensi tersebut menjadi pengakuan atas
kontribusi ilmiah dan kemampuan presentasi Jafar dalam forum yang mempertemukan
akademisi, peneliti, serta pemerhati sastra dari berbagai perguruan tinggi dan
institusi internasional. Keikutsertaannya sekaligus membuka ruang pertukaran
gagasan dan pengembangan wawasan akademik dalam kajian sastra dan humaniora.
Dalam
konferensi tersebut, Jafar mempresentasikan artikel ilmiah berjudul
“Constructing Images of Indonesia and France in Leila S. Chudori’s Home” atau
“Konstruksi Citra Indonesia dan Prancis dalam Novel Home Karya Leila S.
Chudori.” Selain menjalankan tugasnya sebagai dosen FSB UNG, Jafar saat ini
tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora
Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan konsentrasi Sastra Indonesia.
Penelitian
tersebut mengkaji representasi suatu bangsa melalui karya sastra, khususnya
melalui pengalaman pengasingan politik, ingatan budaya, dan perbedaan generasi
dalam novel Home, versi bahasa Inggris dari novel Pulang karya Leila S.
Chudori.
Dengan
menggunakan pendekatan imagologi Joep Leerssen, Jafar menganalisis bagaimana
novel tersebut membangun citra Indonesia dan Prancis melalui pengalaman serta
perspektif para tokohnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia
digambarkan sebagai tanah air yang tetap dicintai dan hidup dalam ingatan para
eksil politik, tetapi juga sebagai negara yang membatasi kepulangan mereka.
Sementara itu, Prancis direpresentasikan sebagai tempat perlindungan dan ruang
kebebasan berekspresi, meskipun tidak sepenuhnya dapat menggantikan posisi
Indonesia sebagai tanah air.
Penelitian
ini juga mengungkap perbedaan perspektif dua generasi melalui tokoh Dimas dan
Lintang. Bagi Dimas, Indonesia tetap menjadi tanah air yang melekat dalam
ingatan meskipun dirinya hidup dalam pengasingan. Sebaliknya, Lintang, yang
tumbuh besar di Prancis, mengenal Indonesia melalui cerita keluarga, warisan
budaya, serta pengalaman langsung ketika mengunjungi Jakarta.
Temuan
tersebut memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak hanya dibentuk oleh tempat
seseorang dilahirkan atau tinggal, tetapi juga oleh ingatan, pengalaman
keluarga, dan perjumpaan dengan kebudayaan lain. Kajian ini menegaskan bahwa
citra suatu bangsa dalam karya sastra bersifat dinamis dan dapat berubah
mengikuti pengalaman sejarah serta perbedaan perspektif antargenerasi.
Melalui
penelitian tersebut, sastra Indonesia turut dihadirkan dalam dialog
kesusastraan dunia dengan mengangkat isu-isu universal, seperti identitas,
migrasi, ingatan kolektif, dan hubungan antarkebudayaan. Hal ini menunjukkan
pentingnya penelitian sastra dalam memperluas pemahaman lintas budaya sekaligus
memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam diskursus ilmiah internasional.
Konferensi
Internasional Kesusastraan ke-35 mengusung tema “Dinamika Sastra Bandingan:
Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia.” Kegiatan ini diselenggarakan oleh
Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Fakultas Bahasa, Seni,
dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta.
Konferensi
tersebut menghadirkan 111 pemakalah dan melibatkan akademisi, peneliti, anggota
HISKI, serta pemerhati sastra dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,
dengan cakupan wilayah dari Aceh hingga Papua. Forum ini juga menghadirkan
pembicara dari sejumlah institusi internasional, di antaranya Hankuk University
of Foreign Studies, Korea Selatan; Monash University, Australia; dan Guangdong
University of Foreign Studies, Tiongkok, serta sastrawan dan penerjemah dari
Prancis.
Kehadiran
peserta dari berbagai latar belakang institusi dan negara menjadikan konferensi
tersebut sebagai ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman penelitian, serta
perspektif keilmuan. Diskusi yang berlangsung mencakup perkembangan sastra
bandingan, kajian sastra transnasional, dan upaya memperkuat posisi sastra
Indonesia dalam percakapan kesusastraan global.
Bagi
UNG, partisipasi dosen dalam forum semacam ini merupakan bagian dari upaya
memperluas jejaring akademik dan meningkatkan keterlibatan sivitas akademika
dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Interaksi dengan akademisi dari berbagai
perguruan tinggi juga membuka peluang untuk membangun komunikasi ilmiah,
berbagi hasil penelitian, serta menjajaki potensi kolaborasi akademik pada masa
mendatang.
Terpilihnya
Jafar sebagai Pemakalah Favorit dan Presenter Terbaik menjadi capaian
membanggakan bagi FSB UNG sekaligus menunjukkan bahwa dosen dari perguruan
tinggi daerah mampu berkontribusi dalam forum ilmiah yang mempertemukan
pemikiran dari berbagai latar belakang akademik dan kebudayaan.
Prestasi
tersebut tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga memperkuat peran
dosen UNG dalam memperkenalkan hasil penelitian sastra Indonesia kepada
komunitas akademik yang lebih luas. Melalui pendekatan teoretis yang relevan
dan kajian terhadap persoalan lintas budaya, penelitian yang dilakukan turut
memperkaya diskusi mengenai sastra, identitas, dan pengalaman sejarah
Indonesia.