Update Terkini

Berita

IMPLEMENTASI KERJA SAMA: FK UNG DAN SMAN 3 KOTA GORONTALO PERKUAT KESIAPSIAGAAN SISWA HADAPI GEMPA
Pendidikan
Pendidikan 19 Oct 2026 0 dilihat

IMPLEMENTASI KERJA SAMA: FK UNG DAN SMAN 3 KOTA GORONTALO PERKUAT KESIAPSIAGAAN SISWA HADAPI GEMPA

Gorontalo-Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) melalui Departemen Kedokteran Emergensi melaksanakan edukasi mitigasi bencana gempa bumi dan pertolongan pertama di SMA Negeri 3 Kota Gorontalo, Kamis (15/10/26). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama antara FK UNG dan SMAN 3 Kota Gorontalo dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana serta membangun budaya keselamatan di lingkungan sekolah.

 

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menghadapi situasi darurat, memahami prosedur keselamatan, serta memberikan pertolongan pertama sesuai prinsip yang benar. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Kemahasiswaan FK UNG, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes., serta Kepala SMA Negeri 3 Kota Gorontalo, Dr. H. Syaiful Kadir, M.Pd. Kehadiran kedua pimpinan tersebut menunjukkan dukungan terhadap kolaborasi perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam meningkatkan pemahaman kebencanaan di kalangan generasi muda.

 

Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan materi mengenai pengenalan gempa bumi, penyebab terjadinya gempa, serta faktor yang menyebabkan Indonesia memiliki risiko bencana gempa bumi. Para siswa juga diberikan pemahaman tentang pentingnya mitigasi sebagai upaya mengurangi risiko dan dampak bencana melalui kesiapsiagaan, pengenalan potensi bahaya, dan penerapan prosedur keselamatan.

 

Materi juga mencakup pengenalan titik-titik berbahaya di lingkungan sekolah, jalur evakuasi, titik kumpul yang aman, serta persiapan tas siaga bencana. Selain itu, siswa diperkenalkan pada informasi peringatan dini dan pentingnya literasi digital dalam menghadapi situasi kebencanaan. Kemampuan memilah informasi dari sumber tepercaya menjadi perhatian penting agar siswa tidak mudah terpengaruh oleh hoaks dan mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar saat keadaan darurat.

 

Edukasi selanjutnya membahas tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi, baik saat berada di dalam maupun di luar ruangan, serta prosedur evakuasi setelah guncangan berhenti. Siswa diarahkan untuk mengutamakan keselamatan diri, mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan, menjauhi bangunan atau benda yang berpotensi membahayakan, dan menuju area terbuka yang aman sesuai arahan petugas.

 

Selain mitigasi bencana, kegiatan ini turut memberikan pembekalan mengenai pertolongan pertama dan keselamatan penolong, khususnya bagi anggota Palang Merah Remaja (PMR). Materi yang disampaikan meliputi teknik balut tekan untuk membantu mengendalikan perdarahan, penanganan awal pada dugaan patah tulang dan cedera leher, serta prinsip pemindahan korban menggunakan tandu UKS.

 

Dalam materi tersebut, siswa ditekankan untuk menerapkan prinsip safety first, yaitu memastikan keselamatan diri dan kondisi lingkungan sebelum memberikan bantuan kepada korban. Pemahaman ini penting agar tindakan pertolongan dilakukan secara tepat sesuai kemampuan, tanpa meningkatkan risiko cedera atau menimbulkan korban tambahan.

 

Sebagai bagian dari penguatan respons kegawatdaruratan, siswa juga diperkenalkan pada layanan Public Safety Center (PSC) 119 sebagai akses bantuan medis dalam situasi darurat. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai informasi dasar yang perlu disampaikan saat menghubungi layanan tersebut, sehingga permintaan bantuan dapat dilakukan secara jelas dan terarah.

 

Melalui kegiatan ini, FK UNG dan SMAN 3 Kota Gorontalo memperkuat sinergi dalam menghadirkan edukasi kebencanaan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan teoritis, tetapi juga pada pembentukan keterampilan dan perilaku keselamatan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya kesiapsiagaan, kemampuan mengenali risiko, serta pemahaman tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

 

Implementasi kerja sama ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih tangguh terhadap bencana. Dengan bekal pengetahuan mitigasi gempa dan keterampilan dasar pertolongan pertama, siswa diharapkan mampu merespons keadaan darurat secara lebih tenang, memahami prosedur evakuasi, serta mengetahui kapan dan bagaimana meminta bantuan medis secara tepat.