Gorontalo-Kolaborasi
penelitian yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Brawijaya berhasil
menghasilkan inovasi pengembangan produk pangan fermentasi berupa kefir susu
kambing dengan penambahan ekstrak buah jamblang (Syzygium cumini). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak buah lokal tersebut mampu
meningkatkan aktivitas antioksidan sekaligus memengaruhi sejumlah karakteristik
kimia dan mikrobiologis produk.
Kolaborasi
ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama antarperguruan tinggi dan
lembaga riset dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi
pangan, serta pemanfaatan potensi sumber daya lokal. Hasil penelitian tersebut
dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berjudul “Functional Enhancement of Goat
Milk Kefir through Syzygium cumini Polyphenol Enrichment”.
Penelitian
ini melibatkan Agus Bahar Rachman dan Marleni Limonu dari Program Studi
Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo, bersama
Lukman Hakim dan Nicolays Jambang dari BRIN, serta Abdul Manab dan Premy
Puspitawati Rahayu dari Universitas Brawijaya.
Penelitian
kolaboratif tersebut berangkat dari upaya mengembangkan produk pangan
fermentasi yang tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga mengandung senyawa
bioaktif yang berpotensi meningkatkan nilai fungsional produk. Salah satu
pendekatan yang dilakukan adalah memanfaatkan buah jamblang sebagai sumber
senyawa polifenol alami untuk memperkaya kandungan kefir susu kambing.
Buah
jamblang dipilih karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif, seperti
antosianin, flavonoid, dan tanin yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan.
Pemanfaatan bahan alami ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan
produk pangan inovatif dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.
Dalam
pelaksanaannya, tim peneliti menggunakan susu kambing yang diperoleh dari
peternakan lokal di Provinsi Gorontalo. Ekstrak buah jamblang kemudian
ditambahkan ke dalam kefir dengan empat variasi perlakuan, yakni tanpa ekstrak
sebagai kontrol serta penambahan ekstrak masing-masing 1 persen, 1,5 persen,
dan 2 persen. Seluruh sampel difermentasi selama 24 jam pada suhu sekitar 25
derajat Celsius.
Selanjutnya,
sampel dianalisis untuk mengetahui berbagai karakteristik produk, meliputi
kandungan protein, aktivitas antioksidan, jumlah bakteri asam laktat, komposisi
asam amino dan asam lemak, hingga struktur mikro kefir.
Hasil
penelitian menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan seiring dengan
bertambahnya konsentrasi ekstrak buah jamblang. Pada kefir tanpa penambahan
ekstrak, kapasitas antioksidan tercatat sebesar 0,80 miligram ekuivalen Trolox
per gram. Angka tersebut meningkat menjadi 1,09 pada konsentrasi 1 persen, 1,46
pada konsentrasi 1,5 persen, dan mencapai 2,16 miligram ekuivalen Trolox per
gram pada konsentrasi 2 persen.
Hasil
ini memperlihatkan bahwa penambahan ekstrak buah jamblang berpotensi
meningkatkan nilai fungsional kefir melalui pengayaan senyawa antioksidan
alami. Meski demikian, hasil pengujian tersebut merupakan pengukuran aktivitas
antioksidan dalam sampel dan belum menjadi bukti langsung manfaat kesehatan
pada manusia.
Selain
peningkatan aktivitas antioksidan, penelitian juga menemukan perubahan pada
kandungan protein kefir. Sampel tanpa ekstrak memiliki kadar protein sebesar
2,54 persen, sedangkan penambahan ekstrak 1,5 persen menghasilkan kadar protein
tertinggi sebesar 3,42 persen. Pada konsentrasi ekstrak 2 persen, kadar protein
tercatat sebesar 3,39 persen.
Penambahan
ekstrak jamblang juga menunjukkan pengaruh terhadap jumlah bakteri asam laktat.
Pada sampel kontrol, jumlah bakteri tercatat sekitar 7,59 log CFU per
mililiter, sementara pada konsentrasi ekstrak 2 persen meningkat menjadi
sekitar 8,50 log CFU per mililiter. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan
ekstrak jamblang pada kondisi penelitian tidak menghambat pertumbuhan bakteri
asam laktat.
Lebih
lanjut, analisis terhadap profil asam amino dan asam lemak memperlihatkan
adanya perubahan pada sejumlah komponen. Beberapa asam amino, termasuk lisin
dan kelompok glutamat-glutamin, menunjukkan peningkatan pada perlakuan dengan
konsentrasi ekstrak lebih tinggi. Pengamatan menggunakan mikroskop konfokal
juga memperlihatkan struktur kefir yang cenderung lebih rapat dan merata
setelah penambahan ekstrak buah jamblang.
Secara
keseluruhan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa kolaborasi riset lintas
lembaga ini berhasil mengembangkan pendekatan inovatif dalam pengolahan pangan
fermentasi melalui pemanfaatan ekstrak buah jamblang. Inovasi tersebut tidak
hanya meningkatkan aktivitas antioksidan kefir susu kambing, tetapi juga
memberikan informasi mengenai perubahan karakteristik kimia, mikrobiologis, dan
struktur produk.
Bagi
Universitas Negeri Gorontalo, hasil penelitian ini menjadi salah satu
kontribusi dalam memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi melalui
kolaborasi riset, pengembangan inovasi berbasis potensi lokal, serta perluasan
kerja sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi lainnya.
Ke
depan, hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan kefir susu kambing
sebagai produk pangan fermentasi bernilai tambah. Namun, diperlukan penelitian
lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa fenolik secara lebih terperinci,
memahami mekanisme interaksi ekstrak jamblang dengan komponen susu, serta
mengevaluasi penerimaan sensori dan umur simpan produk sebelum dikembangkan
lebih lanjut untuk kebutuhan masyarakat dan industri pangan.