Gorontalo-Deutsche
Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), lembaga kerja sama
internasional Jerman, melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap
implementasi program Multi-Stakeholder Partnership (MSP) Pengelolaan Sampah di
Kota Gorontalo, Rabu (4/11/26). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya
memperkuat efektivitas dan keberlanjutan program pengelolaan sampah berbasis
masyarakat melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Program
MSP merupakan bentuk implementasi kolaborasi pembangunan yang melibatkan SDGs
Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
(PWK) Fakultas Teknik UNG, Pemerintah Kota Gorontalo, Pertamina, serta Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo, dengan dukungan
GIZ melalui kerja sama pembangunan Indonesia–Jerman.
Dalam
kolaborasi tersebut, Jurusan PWK FT UNG memiliki keterlibatan strategis melalui
tiga wilayah binaan yang ditetapkan sebagai lokasi percontohan program MSP,
yakni Kelurahan Moodu, Kelurahan Leato Selatan, dan Kelurahan Leato Utara. Keterlibatan
ini menjadi wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menghubungkan kegiatan
akademik dan pengabdian kepada masyarakat dengan upaya penyelesaian persoalan
lingkungan perkotaan.
GIZ Tinjau Implementasi dan Keberlanjutan Program
Monitoring
dan evaluasi yang dilakukan GIZ menjadi momentum untuk meninjau perkembangan
implementasi program MSP di lapangan, mengidentifikasi berbagai tantangan,
serta melihat peluang penguatan sistem pengelolaan sampah di tiga wilayah
percontohan.
Peninjauan
ini tidak hanya berorientasi pada capaian kegiatan, tetapi juga pada
keberlanjutan program melalui perubahan perilaku masyarakat, peningkatan
kapasitas kelembagaan, dan penguatan partisipasi warga dalam pengelolaan sampah
di lingkungan masing-masing.
SDGs
Center UNG sebagai penanggung jawab program berperan dalam mengoordinasikan
pelaksanaan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Sementara itu, keterlibatan
Jurusan PWK FT UNG memberikan kontribusi melalui pendekatan keilmuan
perencanaan wilayah dan kota, khususnya dalam mendorong pengelolaan lingkungan
permukiman yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Melalui
sinergi tersebut, program MSP diharapkan mampu membangun pola pengelolaan
sampah yang tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga menempatkan
masyarakat sebagai bagian penting dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
keberlanjutan program.
Tiga
Wilayah Binaan PWK FT UNG Jadi Lokasi Percontohan
Penetapan Kelurahan Moodu, Leato Selatan, dan Leato Utara sebagai lokasi percontohan MSP memperlihatkan keterkaitan antara program pengembangan wilayah binaan PWK FT UNG dengan implementasi pembangunan berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Sebagai
bidang keilmuan yang berfokus pada penataan ruang, pembangunan wilayah,
infrastruktur perkotaan, dan lingkungan permukiman, PWK memiliki perspektif
yang relevan dalam mendukung pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis
kawasan.
Ketiga
wilayah tersebut juga berpotensi menjadi living laboratory atau laboratorium
lapangan bagi penerapan konsep pembangunan perkotaan berkelanjutan. Melalui
pendekatan ini, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat
diintegrasikan dengan kebutuhan nyata serta persoalan lingkungan yang dihadapi
masyarakat.
Dalam
perspektif perencanaan wilayah dan kota, pengelolaan sampah tidak hanya
berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana persampahan, tetapi juga
mencakup karakteristik permukiman, aksesibilitas pelayanan, pola aktivitas
masyarakat, tata kelola lingkungan, dan partisipasi warga.
Oleh
karena itu, keterlibatan PWK FT UNG dalam program MSP diharapkan dapat
memperkuat pengembangan model pengelolaan sampah berbasis kawasan yang
partisipatif, terintegrasi, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan di
wilayah perkotaan lainnya.
Kolaborasi
Multipihak Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Pelaksanaan program MSP menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan mitra pembangunan internasional dalam menangani persoalan sampah perkotaan.
Pemerintah
Kota Gorontalo berperan dalam penyelenggaraan layanan dan kebijakan pengelolaan
persampahan. Bappeda Provinsi Gorontalo mendukung keterkaitan program dengan
perencanaan pembangunan daerah, sedangkan Pertamina berkontribusi sebagai mitra
dari sektor dunia usaha. Perguruan tinggi melalui SDGs Center UNG dan PWK FT
UNG menghadirkan dukungan keilmuan, koordinasi, serta pendekatan pemberdayaan
masyarakat.
Dukungan
GIZ melalui kerja sama pembangunan Indonesia–Jerman semakin memperkuat
kolaborasi tersebut, khususnya dalam mendorong praktik pembangunan dan tata
kelola lingkungan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Program
ini juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals
(SDGs), terutama SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 12
tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang
Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui
monitoring dan evaluasi pada 4 November 2026, hasil peninjauan diharapkan
menjadi dasar untuk memperkuat koordinasi antarmitra, meningkatkan efektivitas
pelaksanaan program, serta merumuskan langkah keberlanjutan pengelolaan sampah
di Kelurahan Moodu, Leato Selatan, dan Leato Utara.
Keterlibatan
PWK FT UNG dalam kolaborasi ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi
dalam menghadirkan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. Sinergi
bersama SDGs Center UNG, Pemerintah Kota Gorontalo, Bappeda Provinsi Gorontalo,
Pertamina, dan GIZ diharapkan dapat menghasilkan model pengelolaan sampah
berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berpotensi direplikasi di kawasan
lain.