Gorontalo-Universitas
Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi melalui kolaborasi penelitian di bidang biomedis.
Salah satu bentuk kontribusi tersebut diwujudkan melalui penelitian
pengembangan teknologi photoacoustic imaging (PAI) atau pencitraan fotoakustik
yang dikaji untuk menghasilkan gambaran struktur tulang secara lebih detail.
Penelitian
yang dipublikasikan dalam AIP Conference Proceedings pada 22 Juni 2026 ini
melibatkan sejumlah peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan I Made
Hermanto dari Universitas Negeri Gorontalo sebagai salah satu penulis.
Kolaborasi tersebut mengkaji optimalisasi sistem pencitraan fotoakustik,
khususnya pengaruh durasi perekaman sinyal akustik terhadap kualitas citra yang
dihasilkan.
Teknologi
pencitraan fotoakustik merupakan metode yang menggabungkan interaksi cahaya dan
material untuk menghasilkan gelombang akustik. Ketika cahaya laser diarahkan
pada suatu objek, interaksi tersebut menghasilkan sinyal akustik yang kemudian
ditangkap menggunakan mikrofon dan diolah menjadi citra yang menggambarkan
struktur objek.
Teknologi
ini menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk dikembangkan dalam
penelitian biomedis karena tidak menggunakan radiasi pengion sebagaimana
teknologi sinar-X. Namun, untuk menghasilkan citra yang optimal, sistem
pencitraan fotoakustik masih memerlukan pengaturan berbagai parameter, termasuk
durasi perekaman sinyal agar detail objek dapat ditampilkan dengan lebih jelas
dan gangguan visual dapat diminimalkan.
Dalam
penelitian ini, para peneliti menggunakan tulang ikan tuna sebagai model atau
phantom untuk menguji kemampuan sistem dalam menampilkan detail struktur
permukaan tulang. Pengujian dilakukan menggunakan sistem fotoakustik berbasis
laser dioda inframerah dekat (near-infrared atau NIR) dengan panjang gelombang
808 nanometer.
Proses
pemindaian dilakukan dengan empat variasi durasi perekaman sinyal, yakni 0,2
detik, 0,4 detik, 0,6 detik, dan 0,8 detik. Variasi tersebut digunakan untuk
mengetahui pengaruh waktu perekaman terhadap ketajaman, kejelasan, dan
kemampuan sistem dalam memetakan struktur tulang.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa durasi perekaman memiliki pengaruh terhadap
kualitas citra yang dihasilkan. Pada durasi 0,2 detik, citra masih
memperlihatkan gangguan visual yang cukup tinggi sehingga sejumlah detail
struktur tulang belum dapat dikenali secara optimal. Peningkatan durasi menjadi
0,4 detik mulai memperjelas bentuk objek, meskipun beberapa bagian masih tampak
kurang halus.
Sementara
itu, hasil yang lebih baik terlihat pada durasi perekaman 0,6 detik dan 0,8
detik. Kedua pengaturan tersebut mampu menghasilkan citra dengan detail
struktur tulang yang lebih jelas, gangguan visual lebih rendah, serta batas
objek yang tampak lebih halus.
Peneliti
juga mengidentifikasi sejumlah bagian anatomi tulang ikan tuna, di antaranya
zygapophysis, canal haemal, dan arcus haemal. Bagian-bagian tersebut menjadi
penanda untuk mengevaluasi kemampuan sistem pencitraan dalam mengenali dan
menampilkan detail struktur permukaan tulang.
Temuan
tersebut memperlihatkan bahwa pengaturan durasi perekaman merupakan salah satu
faktor penting dalam meningkatkan kinerja teknologi fotoakustik. Semakin tepat
parameter yang digunakan, semakin baik pula kemampuan sistem dalam menangkap
informasi akustik untuk menghasilkan citra yang lebih terperinci.
Meski
demikian, penelitian ini juga menunjukkan adanya tantangan dalam menyeimbangkan
kualitas citra dengan efisiensi waktu pemindaian. Durasi perekaman yang lebih
panjang dapat memberikan informasi visual yang lebih lengkap, tetapi berpotensi
memperlama proses pemindaian. Oleh karena itu, optimalisasi parameter tetap
diperlukan agar teknologi ini dapat dikembangkan menjadi sistem pencitraan yang
lebih efektif.
Dalam
penelitian tersebut, durasi 0,6 detik dan 0,8 detik memberikan hasil yang lebih
baik dalam menampilkan struktur permukaan tulang ikan tuna. Namun, hasil ini
masih terbatas pada pengujian menggunakan model tulang ikan dan belum dapat
secara langsung dijadikan acuan untuk pencitraan tulang manusia.
Ke
depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan sistem pencitraan
fotoakustik agar mampu menghasilkan citra berkualitas tinggi dengan waktu
pemindaian yang lebih efisien. Pengujian pada jenis sampel dan kondisi yang
lebih beragam juga menjadi tahapan penting sebelum potensi penerapannya dalam
bidang biomedis dapat dikembangkan lebih jauh.
Kolaborasi
penelitian antara UNG dan UGM ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja
sama perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi berbasis riset. Keterlibatan
peneliti UNG dalam publikasi ilmiah tersebut sekaligus memperkuat kontribusi
universitas dalam pengembangan teknologi dan perluasan kolaborasi akademik,
khususnya pada bidang sains dan teknologi biomedis.