Update Terkini

Berita

MELALUI TORAKUR, UNG PERKUAT KERJA SAMA PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN TOMAT BUNGGALO
Kerjasama
Kerjasama 03 Nov 2026 0 dilihat

MELALUI TORAKUR, UNG PERKUAT KERJA SAMA PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN TOMAT BUNGGALO

Gorontalo-Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat kerja sama dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan inovasi produk pangan berbasis potensi lokal. Salah satu implementasinya diwujudkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 di Desa Bunggalo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, dengan menghadirkan inovasi olahan tomat bernama TORAKUR (Tomat Rasa Kurma).

 

Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengemasan dan Digital Marketing TORAKUR (Tomat Rasa Kurma) di Desa Bunggalo” ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi hasil pertanian masyarakat, khususnya tomat, menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah ekonomi. Selain pengembangan produk, kegiatan ini juga memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam aspek pengemasan, pelabelan, dan pemasaran digital sebagai bagian dari upaya memperluas peluang usaha berbasis potensi desa.

 

Inovasi TORAKUR berangkat dari permasalahan pascapanen yang dihadapi masyarakat ketika hasil panen tomat melimpah. Tomat segar memiliki daya simpan relatif pendek sehingga berisiko mengalami kerusakan apabila tidak segera dipasarkan atau diolah. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi pengolahan agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

 

Melalui pendampingan tim KKN Tematik UNG, tomat diolah menjadi produk bercita rasa manis yang terinspirasi dari kurma. Mengusung slogan “Manisnya Kurma, Segarnya Tomat”, TORAKUR dikembangkan sebagai alternatif olahan pangan lokal yang berpotensi dipasarkan sebagai camilan maupun oleh-oleh khas daerah.

 

Prototipe TORAKUR dikembangkan dalam kemasan dengan berat bersih 200 gram menggunakan bahan utama berupa tomat, gula, dan air. Dalam pengembangannya, perhatian juga diberikan pada aspek pengemasan dan pelabelan agar produk memiliki tampilan menarik sekaligus informasi yang memadai bagi konsumen.

 

Tidak hanya berfokus pada proses produksi, program ini juga membekali masyarakat dengan pengetahuan mengenai pentingnya pengemasan dalam menjaga kualitas dan meningkatkan daya tarik produk. Sementara itu, pemasaran digital diperkenalkan sebagai strategi untuk memperluas jangkauan promosi dan memperkenalkan TORAKUR kepada calon konsumen di luar wilayah desa.

 

Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi permasalahan pascapanen tomat, demonstrasi pembuatan TORAKUR, edukasi pengemasan dan pelabelan, hingga pelatihan pemasaran digital. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat memiliki keterampilan yang tidak hanya terbatas pada pengolahan bahan baku, tetapi juga mencakup persiapan produk untuk memasuki pasar.

 

Dampak kegiatan dievaluasi melalui penilaian terhadap 30 responden masyarakat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan peserta mengenai pengemasan memperoleh skor 3,69 dari skala 4, sedangkan pengetahuan mengenai pemasaran digital mencapai 3,61. Penyampaian materi dan demonstrasi produk memperoleh skor 3,65, sementara efikasi diri peserta atau keyakinan terhadap kemampuan menerapkan pengetahuan yang diperoleh mencapai 3,57. Secara keseluruhan, kegunaan program memperoleh skor 3,67 dari skala 4.

 

Hasil evaluasi tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan pendampingan mendapat respons positif dari masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai pengemasan dan pemasaran digital. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan TORAKUR sebagai produk olahan yang memiliki identitas dan peluang pasar.

 

Dari sisi penerimaan konsumen, TORAKUR juga menjalani pengujian sensoris yang melibatkan 30 responden. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aspek penampilan produk memperoleh nilai 4,49 dari skala 5, aroma 4,32, tekstur 4,36, dan rasa 4,31. Sementara itu, penerimaan keseluruhan terhadap produk mencapai 4,49.

 

Penilaian terhadap kesesuaian produk memperoleh skor 4,53 dari skala 5, sedangkan aspek keunikan mencapai 4,60. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk TORAKUR mendapatkan tanggapan positif dari responden, khususnya dalam hal keunikan dan kesesuaian produk.

 

Potensi penerimaan pasar juga terlihat dari hasil pengujian, yakni sebanyak 90 persen responden menyatakan berminat untuk mengonsumsi TORAKUR kembali, sementara 96,7 persen menyatakan bersedia merekomendasikan produk tersebut kepada konsumen lain.

 

Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa TORAKUR memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk olahan berbasis potensi pertanian Desa Bunggalo. Meski demikian, pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan perhatian terhadap konsistensi mutu, proses produksi, ketahanan simpan, standar keamanan pangan, serta strategi pemasaran agar produk dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

 

Program ini didampingi oleh tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian UNG, yang diketuai Muhammad Isra bersama anggota Lisna Ahmad dan Rahmiyati Kasim.

 

Melalui program KKN Tematik ini, UNG mendorong penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi sumber daya lokal. Pengolahan tomat menjadi TORAKUR diharapkan tidak hanya menjadi alternatif pemanfaatan hasil panen, tetapi juga membuka peluang usaha baru, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta mendukung pengembangan produk pangan unggulan Desa Bunggalo.