Gorontalo-Universitas
Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat kerja sama dalam pemberdayaan
masyarakat melalui pengembangan inovasi produk pangan berbasis potensi lokal.
Salah satu implementasinya diwujudkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Tematik Tahap II Tahun 2026 di Desa Bunggalo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten
Gorontalo, dengan menghadirkan inovasi olahan tomat bernama TORAKUR (Tomat Rasa
Kurma).
Program
bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengemasan dan Digital Marketing
TORAKUR (Tomat Rasa Kurma) di Desa Bunggalo” ini diarahkan untuk mengoptimalkan
potensi hasil pertanian masyarakat, khususnya tomat, menjadi produk olahan yang
memiliki nilai tambah ekonomi. Selain pengembangan produk, kegiatan ini juga
memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam aspek pengemasan, pelabelan,
dan pemasaran digital sebagai bagian dari upaya memperluas peluang usaha
berbasis potensi desa.
Inovasi
TORAKUR berangkat dari permasalahan pascapanen yang dihadapi masyarakat ketika
hasil panen tomat melimpah. Tomat segar memiliki daya simpan relatif pendek
sehingga berisiko mengalami kerusakan apabila tidak segera dipasarkan atau
diolah. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi pengolahan agar hasil
pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas segar, tetapi juga dapat
dikembangkan menjadi produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Melalui
pendampingan tim KKN Tematik UNG, tomat diolah menjadi produk bercita rasa
manis yang terinspirasi dari kurma. Mengusung slogan “Manisnya Kurma, Segarnya
Tomat”, TORAKUR dikembangkan sebagai alternatif olahan pangan lokal yang
berpotensi dipasarkan sebagai camilan maupun oleh-oleh khas daerah.
Prototipe
TORAKUR dikembangkan dalam kemasan dengan berat bersih 200 gram menggunakan
bahan utama berupa tomat, gula, dan air. Dalam pengembangannya, perhatian juga
diberikan pada aspek pengemasan dan pelabelan agar produk memiliki tampilan
menarik sekaligus informasi yang memadai bagi konsumen.
Tidak
hanya berfokus pada proses produksi, program ini juga membekali masyarakat dengan
pengetahuan mengenai pentingnya pengemasan dalam menjaga kualitas dan
meningkatkan daya tarik produk. Sementara itu, pemasaran digital diperkenalkan
sebagai strategi untuk memperluas jangkauan promosi dan memperkenalkan TORAKUR
kepada calon konsumen di luar wilayah desa.
Pelaksanaan
program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi
permasalahan pascapanen tomat, demonstrasi pembuatan TORAKUR, edukasi
pengemasan dan pelabelan, hingga pelatihan pemasaran digital. Rangkaian
kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat memiliki keterampilan yang tidak
hanya terbatas pada pengolahan bahan baku, tetapi juga mencakup persiapan
produk untuk memasuki pasar.
Dampak
kegiatan dievaluasi melalui penilaian terhadap 30 responden masyarakat. Hasil
evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan peserta mengenai pengemasan memperoleh
skor 3,69 dari skala 4, sedangkan pengetahuan mengenai pemasaran digital
mencapai 3,61. Penyampaian materi dan demonstrasi produk memperoleh skor 3,65,
sementara efikasi diri peserta atau keyakinan terhadap kemampuan menerapkan
pengetahuan yang diperoleh mencapai 3,57. Secara keseluruhan, kegunaan program
memperoleh skor 3,67 dari skala 4.
Hasil
evaluasi tersebut memberikan gambaran bahwa kegiatan pendampingan mendapat
respons positif dari masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai
pengemasan dan pemasaran digital. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan TORAKUR
sebagai produk olahan yang memiliki identitas dan peluang pasar.
Dari
sisi penerimaan konsumen, TORAKUR juga menjalani pengujian sensoris yang
melibatkan 30 responden. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aspek penampilan
produk memperoleh nilai 4,49 dari skala 5, aroma 4,32, tekstur 4,36, dan rasa
4,31. Sementara itu, penerimaan keseluruhan terhadap produk mencapai 4,49.
Penilaian
terhadap kesesuaian produk memperoleh skor 4,53 dari skala 5, sedangkan aspek
keunikan mencapai 4,60. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk TORAKUR
mendapatkan tanggapan positif dari responden, khususnya dalam hal keunikan dan
kesesuaian produk.
Potensi
penerimaan pasar juga terlihat dari hasil pengujian, yakni sebanyak 90 persen
responden menyatakan berminat untuk mengonsumsi TORAKUR kembali, sementara 96,7
persen menyatakan bersedia merekomendasikan produk tersebut kepada konsumen
lain.
Temuan
ini menjadi indikasi awal bahwa TORAKUR memiliki peluang untuk dikembangkan
sebagai produk olahan berbasis potensi pertanian Desa Bunggalo. Meski demikian,
pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan perhatian terhadap konsistensi mutu,
proses produksi, ketahanan simpan, standar keamanan pangan, serta strategi
pemasaran agar produk dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Program
ini didampingi oleh tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari Program Studi
Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian UNG, yang diketuai Muhammad Isra bersama
anggota Lisna Ahmad dan Rahmiyati Kasim.