Update Terkini

Berita

PROGRAM RELASI JADI WUJUD KOLABORASI UNG DAN SEKOLAH DALAM PENGENDALIAN TBC REMAJA
Umum
Umum 02 Nov 2026 0 dilihat

PROGRAM RELASI JADI WUJUD KOLABORASI UNG DAN SEKOLAH DALAM PENGENDALIAN TBC REMAJA

Gorontalo-Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) memperkuat kolaborasi dengan satuan pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan Program RELASI (Rangkaian Edukasi dan Skrining dalam Identifikasi Dini Tuberkulosis pada Kelompok Usia Remaja). Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama dalam mendukung upaya pengendalian tuberkulosis (TBC), khususnya di kalangan remaja melalui pendekatan edukasi dan deteksi dini berbasis sekolah.

 

Kegiatan yang dilaksanakan pada 22–23 September 2026 ini menyasar tiga sekolah di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara, Kota Gorontalo, yakni SMP 3 Muhammadiyah, MTs Alkhairat, dan MTs Nurul Yaqin. Pelaksanaan program melibatkan pihak sekolah dan Puskesmas Kota Utara sebagai mitra dalam memperluas edukasi kesehatan sekaligus menghubungkan siswa yang teridentifikasi memiliki gejala atau faktor risiko TBC dengan layanan pemeriksaan kesehatan.

 

RELASI merupakan mini project Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas (IKM-IKK), Program Pendidikan Profesi Dokter FK UNG, yang dilaksanakan oleh Septianingsih Katili, S.Ked., dan Livia Nooradliah, S.Ked., di bawah bimbingan dr. Suliyanti Otto, M.Kes., dan dr. Hj. Yeni Utiarahman. Program ini dirancang sebagai bentuk penerapan ilmu kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas melalui sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Dalam pelaksanaannya, RELASI mengintegrasikan tiga tahapan utama, yaitu edukasi kesehatan, skrining gejala dan faktor risiko, serta tindak lanjut pemeriksaan bagi peserta yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pada tahap edukasi, para siswa memperoleh informasi mengenai pengertian TBC, cara penularan, tanda dan gejala, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahannya. Materi disampaikan melalui penyuluhan langsung dengan dukungan media flyer dan presentasi PowerPoint.

 

Selanjutnya, siswa mengikuti skrining menggunakan lembar pemeriksaan yang disusun berdasarkan Petunjuk Teknis Skrining Tuberkulosis Secara Sistematik Kementerian Kesehatan RI. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi gejala dan faktor risiko secara sistematis, termasuk riwayat kontak dengan anggota keluarga atau tetangga yang pernah menjalani pengobatan TBC.

 

Bagi peserta yang memenuhi kriteria pemeriksaan sputum, tim memberikan pot sputum disertai penjelasan mengenai tata cara pengumpulan dahak yang benar. Sampel yang terkumpul kemudian diserahkan untuk ditindaklanjuti melalui alur pelayanan TBC di Puskesmas Kota Utara.

 

Dari 114 siswa yang mengikuti edukasi dan skrining, sebanyak 62 siswa teridentifikasi memiliki gejala atau faktor risiko yang memerlukan perhatian dan pertimbangan tindak lanjut. Jumlah peserta tersebut terdiri atas 34 siswa SMP 3 Muhammadiyah, 52 siswa MTs Alkhairat, dan 28 siswa MTs Nurul Yaqin.

 

Berdasarkan hasil rekapitulasi, sebanyak sembilan siswa SMP 3 Muhammadiyah, 29 siswa MTs Alkhairat, dan 24 siswa MTs Nurul Yaqin teridentifikasi memiliki gejala atau faktor risiko TBC. Laporan mini project juga mencatat satu siswa MTs Nurul Yaqin dinyatakan positif TBC berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilaporkan. Temuan ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan program, terutama dalam menghubungkan proses identifikasi awal dengan pemeriksaan lanjutan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Meski demikian, hasil skrining bukan merupakan dasar penetapan diagnosis TBC. Diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan diagnostik dan penilaian tenaga kesehatan sesuai standar yang berlaku.

 

Melalui pelaksanaan RELASI, FK UNG mendorong penguatan peran sekolah sebagai salah satu mitra strategis dalam upaya promotif dan preventif kesehatan remaja. Kolaborasi ini juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memastikan siswa yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut dapat memperoleh akses pemeriksaan dan tindak lanjut sesuai prosedur.

 

Keberlanjutan program diarahkan melalui pelaksanaan edukasi dan skrining secara berkala, pemanfaatan instrumen skrining sebagai alat bantu identifikasi awal, serta penguatan koordinasi antara Puskesmas dan pihak sekolah. Dengan demikian, kerja sama yang dibangun tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada kesinambungan upaya peningkatan kesadaran dan pengendalian TBC di lingkungan pendidikan.

 

Melalui Program RELASI, FK UNG berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat terus dikembangkan sebagai pendekatan kesehatan remaja berbasis sekolah. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan, mendukung deteksi dini, serta memperkuat kontribusi UNG dalam mendukung penanggulangan tuberkulosis di Kota Gorontalo.