Gorontalo-Fakultas
Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) memperkuat kolaborasi dengan
satuan pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan Program
RELASI (Rangkaian Edukasi dan Skrining dalam Identifikasi Dini Tuberkulosis
pada Kelompok Usia Remaja). Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi
kerja sama dalam mendukung upaya pengendalian tuberkulosis (TBC), khususnya di
kalangan remaja melalui pendekatan edukasi dan deteksi dini berbasis sekolah.
Kegiatan
yang dilaksanakan pada 22–23 September 2026 ini menyasar tiga sekolah di
wilayah kerja Puskesmas Kota Utara, Kota Gorontalo, yakni SMP 3 Muhammadiyah,
MTs Alkhairat, dan MTs Nurul Yaqin. Pelaksanaan program melibatkan pihak
sekolah dan Puskesmas Kota Utara sebagai mitra dalam memperluas edukasi
kesehatan sekaligus menghubungkan siswa yang teridentifikasi memiliki gejala
atau faktor risiko TBC dengan layanan pemeriksaan kesehatan.
RELASI
merupakan mini project Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran
Komunitas (IKM-IKK), Program Pendidikan Profesi Dokter FK UNG, yang
dilaksanakan oleh Septianingsih Katili, S.Ked., dan Livia Nooradliah, S.Ked.,
di bawah bimbingan dr. Suliyanti Otto, M.Kes., dan dr. Hj. Yeni Utiarahman.
Program ini dirancang sebagai bentuk penerapan ilmu kesehatan masyarakat dan
kedokteran komunitas melalui sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan
fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam
pelaksanaannya, RELASI mengintegrasikan tiga tahapan utama, yaitu edukasi
kesehatan, skrining gejala dan faktor risiko, serta tindak lanjut pemeriksaan
bagi peserta yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pada tahap edukasi, para
siswa memperoleh informasi mengenai pengertian TBC, cara penularan, tanda dan
gejala, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahannya. Materi disampaikan
melalui penyuluhan langsung dengan dukungan media flyer dan presentasi
PowerPoint.
Selanjutnya,
siswa mengikuti skrining menggunakan lembar pemeriksaan yang disusun
berdasarkan Petunjuk Teknis Skrining Tuberkulosis Secara Sistematik Kementerian
Kesehatan RI. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi
gejala dan faktor risiko secara sistematis, termasuk riwayat kontak dengan
anggota keluarga atau tetangga yang pernah menjalani pengobatan TBC.
Bagi
peserta yang memenuhi kriteria pemeriksaan sputum, tim memberikan pot sputum
disertai penjelasan mengenai tata cara pengumpulan dahak yang benar. Sampel
yang terkumpul kemudian diserahkan untuk ditindaklanjuti melalui alur pelayanan
TBC di Puskesmas Kota Utara.
Dari
114 siswa yang mengikuti edukasi dan skrining, sebanyak 62 siswa
teridentifikasi memiliki gejala atau faktor risiko yang memerlukan perhatian
dan pertimbangan tindak lanjut. Jumlah peserta tersebut terdiri atas 34 siswa
SMP 3 Muhammadiyah, 52 siswa MTs Alkhairat, dan 28 siswa MTs Nurul Yaqin.
Berdasarkan
hasil rekapitulasi, sebanyak sembilan siswa SMP 3 Muhammadiyah, 29 siswa MTs
Alkhairat, dan 24 siswa MTs Nurul Yaqin teridentifikasi memiliki gejala atau
faktor risiko TBC. Laporan mini project juga mencatat satu siswa MTs Nurul
Yaqin dinyatakan positif TBC berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilaporkan.
Temuan ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan program, terutama dalam
menghubungkan proses identifikasi awal dengan pemeriksaan lanjutan melalui
fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski
demikian, hasil skrining bukan merupakan dasar penetapan diagnosis TBC.
Diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan diagnostik dan penilaian tenaga
kesehatan sesuai standar yang berlaku.
Melalui
pelaksanaan RELASI, FK UNG mendorong penguatan peran sekolah sebagai salah satu
mitra strategis dalam upaya promotif dan preventif kesehatan remaja. Kolaborasi
ini juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan
dalam memastikan siswa yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut dapat memperoleh
akses pemeriksaan dan tindak lanjut sesuai prosedur.
Keberlanjutan
program diarahkan melalui pelaksanaan edukasi dan skrining secara berkala,
pemanfaatan instrumen skrining sebagai alat bantu identifikasi awal, serta
penguatan koordinasi antara Puskesmas dan pihak sekolah. Dengan demikian, kerja
sama yang dibangun tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi
juga pada kesinambungan upaya peningkatan kesadaran dan pengendalian TBC di
lingkungan pendidikan.