Gorontalo-Upaya
pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi
anak, tetapi juga pada seberapa sering makanan diberikan sesuai dengan usianya.
Pesan ini menjadi salah satu temuan penting dalam kolaborasi riset yang
dipublikasikan melalui Jambura Axon Medika edisi Februari 2026, yang menyoroti
hubungan antara frekuensi pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI)
dengan kejadian stunting pada anak usia 6–24 bulan.
Penelitian
yang dilakukan oleh Ryskina Fatimah Siregar bersama tim peneliti tersebut
memperkuat pemahaman bahwa kebiasaan makan sehari-hari merupakan salah satu
faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mendukung pertumbuhan anak sejak
dini. Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting
membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan,
hingga dukungan edukasi berbasis penelitian.
Masa
dua tahun pertama kehidupan dikenal sebagai periode emas pertumbuhan anak. Pada
fase ini, tubuh dan otak berkembang sangat cepat sehingga kebutuhan energi dan
zat gizi harus terpenuhi secara optimal. Selama ini perhatian orang tua
terhadap MP-ASI sering kali lebih terfokus pada jenis makanan yang diberikan,
padahal kesesuaian frekuensi makan dengan usia anak juga memegang peranan
penting.
Stunting
sendiri bukan sekadar kondisi tubuh pendek, melainkan gangguan pertumbuhan
akibat kekurangan gizi kronis yang dipengaruhi berbagai faktor. Dampaknya dapat
memengaruhi perkembangan fisik maupun kemampuan belajar anak dalam jangka
panjang. Karena itu, pemberian makan yang tepat sejak usia enam bulan menjadi
bagian penting dari strategi pencegahan stunting.
MP-ASI
mulai diberikan ketika anak berusia enam bulan, bersamaan dengan keberlanjutan
pemberian ASI. Pada usia tersebut, ASI tidak lagi mampu memenuhi seluruh
kebutuhan energi dan zat gizi sehingga makanan pendamping diperlukan untuk
menunjang pertumbuhan. Namun, pemberian MP-ASI tidak hanya berkaitan dengan
jenis makanan, melainkan juga waktu pemberian, frekuensi makan, jumlah,
tekstur, variasi menu, serta kebersihan dalam pengolahan dan penyajiannya.
Anak
usia dini umumnya belum mampu mengonsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus.
Karena itu, makanan perlu diberikan secara bertahap dengan frekuensi yang
disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak agar kebutuhan gizinya tetap
terpenuhi setiap hari.
Frekuensi
makan berhubungan dengan risiko stunting
Dalam
penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Talang, Kabupaten Solok,
Sumatera Barat, peneliti melibatkan 80 anak usia 6–24 bulan, terdiri atas 40
anak dalam kelompok stunting dan 40 anak dengan pertumbuhan normal.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian MP-ASI dengan frekuensi yang tidak
sesuai usia lebih banyak ditemukan pada kelompok anak stunting dibandingkan
kelompok dengan pertumbuhan normal.
Secara
statistik, penelitian menemukan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi
pemberian MP-ASI dan kejadian stunting. Anak yang menerima MP-ASI dengan
frekuensi tidak sesuai memiliki peluang sekitar 7,7 kali lebih besar untuk
berada pada kelompok stunting dibandingkan anak dengan frekuensi makan yang
sesuai.
Meski
demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya
hubungan, bukan bukti bahwa frekuensi makan menjadi satu-satunya penyebab
stunting. Penelitian menggunakan desain kasus-kontrol sehingga hasilnya perlu
dipahami sebagai bagian dari gambaran faktor-faktor yang berkaitan dengan
pertumbuhan anak.
Pentingnya
pola makan sesuai usia
Berdasarkan
rekomendasi yang dirujuk dalam penelitian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI), anak usia 6–8 bulan dianjurkan menerima MP-ASI sebanyak 2–3 kali
sehari. Pada usia 9-12 bulan, frekuensi makan utama meningkat menjadi sekitar 3
kali sehari, sedangkan anak usia 12–24 bulan dianjurkan tetap makan utama
sekitar 3 kali sehari dengan tambahan makanan selingan bergizi sesuai
kebutuhan.
Bagi
anak yang tidak mendapatkan ASI, pola pemberian makan perlu disesuaikan dengan
rekomendasi tenaga kesehatan agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi secara
optimal.
Selain
frekuensi, kualitas makanan juga tetap menjadi faktor penting. MP-ASI sebaiknya
mengandung protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup, dengan memanfaatkan
bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar sesuai kebutuhan gizi anak.
Edukasi
keluarga menjadi kunci
Penelitian
ini juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kemampuan makan yang berbeda.
Ketika anak menolak makanan, pendekatan yang sabar dan responsif lebih
dianjurkan daripada memaksa. Orang tua perlu memperhatikan tanda lapar dan
kenyang anak serta membangun suasana makan yang nyaman.
Pencegahan
stunting juga tidak dapat dipisahkan dari faktor lain, seperti riwayat
kesehatan anak, penyakit infeksi berulang, kondisi ibu selama kehamilan,
sanitasi lingkungan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.
Kebersihan
dalam menyiapkan makanan turut menjadi perhatian penting. Tangan, peralatan
makan, bahan pangan, air, dan tempat penyimpanan makanan perlu dijaga
kebersihannya untuk mengurangi risiko infeksi yang dapat mengganggu penyerapan
zat gizi.
Di
sisi lain, pemantauan pertumbuhan secara rutin di posyandu maupun fasilitas
kesehatan membantu orang tua mengetahui apakah pertumbuhan anak berlangsung
sesuai harapan sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin apabila
ditemukan gangguan.
Riset
sebagai dasar penguatan edukasi
Hasil
kolaborasi riset yang dipublikasikan melalui Jambura Axon Medika memperlihatkan
bagaimana temuan ilmiah dapat menjadi dasar penguatan edukasi kepada masyarakat
mengenai praktik pemberian makan anak yang tepat.
Pencegahan
stunting membutuhkan sinergi antara keluarga, tenaga kesehatan, kader posyandu,
masyarakat, dan pemerintah. Edukasi mengenai pemberian MP-ASI yang sesuai usia,
disertai pemenuhan gizi yang beragam dan pemantauan tumbuh kembang secara
rutin, menjadi langkah nyata yang dapat dilakukan untuk mendukung lahirnya
generasi yang lebih sehat.