Update Terkini

Berita

KOLABORASI RISET UNG SOROTI PENTINGNYA FREKUENSI MAKAN ANAK DALAM PENCEGAHAN STUNTING
Penelitian
Penelitian 26 Oct 2026 0 dilihat

KOLABORASI RISET UNG SOROTI PENTINGNYA FREKUENSI MAKAN ANAK DALAM PENCEGAHAN STUNTING

Gorontalo-Upaya pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi anak, tetapi juga pada seberapa sering makanan diberikan sesuai dengan usianya. Pesan ini menjadi salah satu temuan penting dalam kolaborasi riset yang dipublikasikan melalui Jambura Axon Medika edisi Februari 2026, yang menyoroti hubungan antara frekuensi pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan kejadian stunting pada anak usia 6–24 bulan.

Penelitian yang dilakukan oleh Ryskina Fatimah Siregar bersama tim peneliti tersebut memperkuat pemahaman bahwa kebiasaan makan sehari-hari merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mendukung pertumbuhan anak sejak dini. Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, hingga dukungan edukasi berbasis penelitian.

Masa dua tahun pertama kehidupan dikenal sebagai periode emas pertumbuhan anak. Pada fase ini, tubuh dan otak berkembang sangat cepat sehingga kebutuhan energi dan zat gizi harus terpenuhi secara optimal. Selama ini perhatian orang tua terhadap MP-ASI sering kali lebih terfokus pada jenis makanan yang diberikan, padahal kesesuaian frekuensi makan dengan usia anak juga memegang peranan penting.

Stunting sendiri bukan sekadar kondisi tubuh pendek, melainkan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang dipengaruhi berbagai faktor. Dampaknya dapat memengaruhi perkembangan fisik maupun kemampuan belajar anak dalam jangka panjang. Karena itu, pemberian makan yang tepat sejak usia enam bulan menjadi bagian penting dari strategi pencegahan stunting.

MP-ASI mulai diberikan ketika anak berusia enam bulan, bersamaan dengan keberlanjutan pemberian ASI. Pada usia tersebut, ASI tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan energi dan zat gizi sehingga makanan pendamping diperlukan untuk menunjang pertumbuhan. Namun, pemberian MP-ASI tidak hanya berkaitan dengan jenis makanan, melainkan juga waktu pemberian, frekuensi makan, jumlah, tekstur, variasi menu, serta kebersihan dalam pengolahan dan penyajiannya.

Anak usia dini umumnya belum mampu mengonsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus. Karena itu, makanan perlu diberikan secara bertahap dengan frekuensi yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi setiap hari.

Frekuensi makan berhubungan dengan risiko stunting

Dalam penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, peneliti melibatkan 80 anak usia 6–24 bulan, terdiri atas 40 anak dalam kelompok stunting dan 40 anak dengan pertumbuhan normal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MP-ASI dengan frekuensi yang tidak sesuai usia lebih banyak ditemukan pada kelompok anak stunting dibandingkan kelompok dengan pertumbuhan normal.

Secara statistik, penelitian menemukan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi pemberian MP-ASI dan kejadian stunting. Anak yang menerima MP-ASI dengan frekuensi tidak sesuai memiliki peluang sekitar 7,7 kali lebih besar untuk berada pada kelompok stunting dibandingkan anak dengan frekuensi makan yang sesuai.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan, bukan bukti bahwa frekuensi makan menjadi satu-satunya penyebab stunting. Penelitian menggunakan desain kasus-kontrol sehingga hasilnya perlu dipahami sebagai bagian dari gambaran faktor-faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan anak.

Pentingnya pola makan sesuai usia

Berdasarkan rekomendasi yang dirujuk dalam penelitian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak usia 6–8 bulan dianjurkan menerima MP-ASI sebanyak 2–3 kali sehari. Pada usia 9-12 bulan, frekuensi makan utama meningkat menjadi sekitar 3 kali sehari, sedangkan anak usia 12–24 bulan dianjurkan tetap makan utama sekitar 3 kali sehari dengan tambahan makanan selingan bergizi sesuai kebutuhan.

Bagi anak yang tidak mendapatkan ASI, pola pemberian makan perlu disesuaikan dengan rekomendasi tenaga kesehatan agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi secara optimal.

Selain frekuensi, kualitas makanan juga tetap menjadi faktor penting. MP-ASI sebaiknya mengandung protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup, dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar sesuai kebutuhan gizi anak.

Edukasi keluarga menjadi kunci

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kemampuan makan yang berbeda. Ketika anak menolak makanan, pendekatan yang sabar dan responsif lebih dianjurkan daripada memaksa. Orang tua perlu memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak serta membangun suasana makan yang nyaman.

Pencegahan stunting juga tidak dapat dipisahkan dari faktor lain, seperti riwayat kesehatan anak, penyakit infeksi berulang, kondisi ibu selama kehamilan, sanitasi lingkungan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Kebersihan dalam menyiapkan makanan turut menjadi perhatian penting. Tangan, peralatan makan, bahan pangan, air, dan tempat penyimpanan makanan perlu dijaga kebersihannya untuk mengurangi risiko infeksi yang dapat mengganggu penyerapan zat gizi.

Di sisi lain, pemantauan pertumbuhan secara rutin di posyandu maupun fasilitas kesehatan membantu orang tua mengetahui apakah pertumbuhan anak berlangsung sesuai harapan sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin apabila ditemukan gangguan.

Riset sebagai dasar penguatan edukasi

Hasil kolaborasi riset yang dipublikasikan melalui Jambura Axon Medika memperlihatkan bagaimana temuan ilmiah dapat menjadi dasar penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai praktik pemberian makan anak yang tepat.

Pencegahan stunting membutuhkan sinergi antara keluarga, tenaga kesehatan, kader posyandu, masyarakat, dan pemerintah. Edukasi mengenai pemberian MP-ASI yang sesuai usia, disertai pemenuhan gizi yang beragam dan pemantauan tumbuh kembang secara rutin, menjadi langkah nyata yang dapat dilakukan untuk mendukung lahirnya generasi yang lebih sehat.

Pada akhirnya, investasi terbaik bagi masa depan anak dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah-bukan hanya memastikan apa yang dimakan, tetapi juga memastikan makanan diberikan dengan frekuensi yang tepat sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.